6 Hal Wajib Diperhatikan Sebelum Membeli Tanah

Jika ingin membeli tanah, pastikan tanah tersebut tidak menuai masalah di kemudian hari. Oleh karenanya, Anda perlu memahami 6 hal berikut ini jika ingin memulai berinvestasi tanah.

Salah satu aset properti menjanjikan dan memiliki nilai jual yang terus naik adalah tanah. Tanah juga merupakan satu jenis properti yang bisa dijadikan jaminan/agunan ke bank. Maka tak heran, banyak orang tergiur untuk memiliki tanah.

Namun, menginvestasikan tanah bukanlah perkara mudah. Butuh modal besar untuk memiliki hak atas sejumlah tanah. Sehingga Anda perlu berhati-hati dan perlu dilengkapi dengan pengetahuan serta strategi mengenai investasi tanah, agar tidak merugi di kemudian hari.

Jika sudah menemukan lokasi tepat dan harganya sesuai anggaran, sebaiknya jangan terburu-buru membelinya. Membeli tanah memerlukan sejumlah hal penting untuk diperhatikan secara seksama.

Untuk itu, 6 hal penting berikut ini perlu Anda pahami jika akan memulai berinvestasi tanah.

1. Perhatikan Kondisi dan Lokasi Tanah

Sebelum membeli tanah, pastikanlah jenis kontur tanah tersebut. Jangan sampai membeli tanah bergerak (mudah longsor) untuk dibangunkan rumah di atasnya.

Selain itu, perhatikan pula lokasi. Sebab, salah satu poin penggerak nilai sebuah tanah adalah lokasi. Bisa dipastikan, harga jual tanah terus naik jika berada di lokasi strategis, seperti akses jalan mudah ditempuh, dekat dengan pusat perbelanjaan, dan sejumlah fasilitas umum serta sosial.

Jika ingin membeli tanah, maka harus jeli memperhatikan lokasinya. Caranya, dengan mempelajari karakteristik suatu kawasan dan memprediksi kondisinya di masa mendatang.

2. Luas Tanah Ideal

Luas tanah yang bisa diinvestasikan tergantung dengan kemampuan keuangan Anda. Namun jika Anda bukan developer properti, luas tanah ideal tidak perlu berhektar-hektar.

Tentukanlah luas tanah ideal yang kira-kira bisa dibangun hunian layak. Hal ini akan meningkatkan nilai jual nanti dan memudahkan saat ingin dipasarkan kembali. Sebelum membeli, Anda perlu mempertimbangkan ukuran tanah yang dibutuhkan.

3. Perhatikan Biaya

Membeli tanah bukan hanya perkara berapa harganya per meter persegi. Namun, perhatikan juga faktor biaya lainnya seperti biaya administrasi dengan pihak Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), perpajakan, dan lain-lain.

Dengan begitu, pengurusan legalitas atan kepemilikan tanah bisa kelar dengan cepat.

Dengan mengurus tanah melalui PPAT, maka harus mengeluarkan biaya maksimal 1% dari harga transaksi tanah (Pasal 32 Ayat 1 PP 37/1998).

Selain itu, pastikan agar PPAT tersebut benar-benar turun ke lapangan untuk mengecek tanah agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

4. Tidak Likuid

Tanah merupakan jenis investasi bersifat tidak likuid atau tidak dapat diuangkan dalam jangka waktu cepat.

Jadi sebaiknya, tanah bukan dijadikan dana darurat atau keuangan pokok. Sebisa mungkin, Anda membeli tanah untuk investasi yang berasal dari dana tak terpakai atau tabungan masa depan.

Sementara jika tabungan terbatas, maka bisa membeli tanah yang belum memiliki prospek pembangunan saat ini, atau dengan kata lain, harganya masih tergolong murah. Namun, beberapa tahun ke depan, tanah tersebut akan bergerak naik dan Anda pun menjadi untung.

5. Bebas Sengketa

Sebaiknya, jangan membeli tanah berstatus sengketa warisan, masih menjadi jaminan bank, dokumennya tidak lengkap, dan lain sebagainya. Tanah yang kepemilikannya tidak jelas hanya akan menyusahkan dan merugikan.

Cara untuk memastikan tanah bebas sengketa adalah dengan mengetahui riwayat tanah. Pastikan Anda bertanya kepada pejabat setempat sebelum membeli tanah, agar mengetahui asal-usul tanah tersebut.

Apalagi jika tanah tersebut belum bersertifikat, masih berupa girik, jangan coba-coba Anda membuatkan Akta Jual Beli (AJB) sebelum mengetahui riwayatnya.

Sekalipun berhasil membuat sertifikat tanah atas nama Anda setelah membelinya, bukan berarti sertifikat tanah itu tidak bisa dibatalkan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) jika ternyata pihak penjual tanah bukan yang berhak menjualnya.

6. Bebas Penggusuran

Selain itu, pastikan juga untuk tidak membeli tanah milik negara atau tanah yang masuk ke dalam peta rencana pembangunan pemerintah. Sebab, tanah tersebut berisiko menjadi target pembebasan lahan. Dewasa ini, memiliki sertifikat tanah tidak menjadi jaminan tanah bebas penggusuran.

Menurut UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum Pasal 5, pihak yang berhak wajib melepaskan tanahnya pada saat pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, setelah ada ganti rugi berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Artinya, pengadaan tanah demi kepentingan umum seperti jalan raya, pembangkit listrik, dan bandara, tidak bisa ditolak.

Sebaiknya, Anda mengecek Tata Ruang Kota ke Dinas Tata Kota wilayah setempat untuk memastikan tanah tidak termasuk dalam tanah yang akan dipergunakan pembangunan fasilitas umum.

Dengan memahami hal-hal di atas, maka proses membeli tanah menjadi lebih lancar dan Anda pun akan terhindar dari masalah di kemudian hari.

Baca juga: Solusi Mengurus Sertifikat Tanah yang Hilang

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama