Kalau Bisa Berhemat, Kenapa Mesti Boros?

Harga kebutuhan pokok sekarang sudah semakin mahal sehingga memaksa kita berpikir keras untuk memenuhinya. Apa yang harus dilakukan dalam menyikapinya?

Sepanjang tahun 2015, mungkin kita sudah merasakan berbagai tantangan ekonomi yang membuat kantong cukup terkuras habis. Mulai dari kenaikan dan penurunan kembali harga bahan bakar minyak (BBM), naiknya harga kebutuhan pokok, dan lainnya. Parahnya, apa yang sudah terjadi di sepanjang 2015 ternyata masih belum selesai dan masih akan berlanjut.

Tidak cuma hal-hal yang disebutkan di atas saja. Secara ekonomi, Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan seperti ancaman pengetatan ekonomi akibat kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Efeknya, lihat saja, di bulan Maret akhirnya Rupiah menginjak nilai Rp 13.000-an per USD atau tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Memang apa pengaruhnya harga dollar terhadap negara kita. Jelas ada, salah satunya harga barang impor pasti akan naik signifikan.

Selain itu, jika Anda termasuk orang yang sensitif terhadap urusan inflasi, jelas masalah-masalah itu akan membuat pikiran panas. Tapi, mau bagaimana lagi? Anda tidak bisa menghindarinya dan harus beradaptasi dengan kondisi biaya hidup yang semakin mahal, atau rela hidup boros demi mengikuti gaya hidup lama.

Mulailah Gaya Hidup Hemat

Apa yang mesti dilakukan untuk menyikapi makin mahalnya harga kebutuhan hidup? Tidak ada cara lain, yaitu dengan memulai hidup hemat. Namun, apakah Anda siap dengan kondisi itu? Tidak semua orang sanggup mengikutinya.

"Karena kata hemat bagi sebagian orang identik dengan sengsara atau menderita," ujar Diana Sandjaja, perencana keuangan Tatadana Consulting. Padahal, menurutnya berhemat lebih tepat disebut sebagai sebuah sistem belanja bijak atau mengeluarkan uang sesuai kebutuhan, bukan keinginan semata.

Harus disadari, kalau kita memiliki penghasilan yang terbatas nilainya. Sementara, hati selalu memiliki keinginan yang tidak berbatas. Tanpa menyeimbangkan dua hal tersebut, risiko mengalami kebangkrutan akan menjadi lebih besar. Padahal,kita hidup bukan cuma satu hari.

"Kuncinya adalah dengan selalu merasa cukup," kata Pandji Harsanto, perencana keuangan independen. Lalu, bagaimana cara menumbuhkan rasa itu dan memulai gaya hidup hemat? Ini jawabannya,

1. Ketahui Batas Diri

Langkah pertama yang mesti dilakukan untuk memulai hidup hemat adalah dengan mengetahui berapa besar kebutuhan Anda. Mulai semuanya dari kebutuhan yang paling dasar. Namun, mesti diperhatikan, kebutuhan dasar bukanlah kebutuhan yang dibuat hanya berdasar pada keinginan.

Sebagai contoh, bila Anda sudah berkeluarga, kebutuhan akan makanan bergizi bagi seluruh anggota keluarga akan menjadi lebih penting dibandingkan pakaian bermerek mahal di mal. Karena itu, jangan sampai bias dalam membedakan mana kebutuhan dasar dan lainnya.

2.Buat Anggaran Prioritas

Hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah membuat perencanaan anggaran setiap bulan. Isi daftar itu dengan berbagai rencana pengeluaran, mulai dari kebutuhan rumah tangga rutin, investasi, cicilan utang, kebutuhan sosial, sampai gaya hidup. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah dalam membuat skala prioritasnya.

Selanjutnya, coba komparasikan dengan penghasilan bulanan Anda. Setelah itu pasti Anda akan mengetahui apakah bisa memenuhi seluruh rencana pengeluaran itu atau tidak. Ingat, tanpa perencanaan yang baik, uang gaji Anda pasti akan jauh lebih mudah habis tanpa kejelasan.

“Pengeluaran yang mesti dihemat contohnya seperti untuk kebutuhan sosial dan utang yang sudah ada, lalu berinvestasilah sebesar-besarnya. Sementara pengeluaran untuk makan, lebih baik tetapkan sesuai batas kebutuhan dasar. Jangan pula tergoda menambah utang dengan membeli barang melalui sistem cicilan," ujar Rakhmi Permatasari dari Safir Senduk dan Rekan.

3. Cari Jalan Pintas Berhemat

Bagi orang yang sudah berkeluarga, pengeluaran untuk pos kebutuhan rutin rumah tangga biasanya selalu yang paling banyak memakan anggaran. Seperti untuk belanja kebutuhan sehari-hari, bayar listrik, pulsa telepon, air PAM, TV kabel, bensin, dan sebagainya.

Ada beberapa trik yang bisa dilakukan untuk menghemat pengeluaran di sektor ini. Pertama, coba turunkan frekuensinya. Sebagai contoh, jika saat ini setiap akhir pekan Anda dan keluarga selalu jalan ke mal atau belanja di supermarket besar, coba kurangi jadi dua minggu sekali atau sebulan sekali.

Kedua, mulailah menurunkan kelas. Contohnya, ketika menggunakan TV kabel berbayar. Bila memakai paket yang mahal, coba ganti dengan paket yang lebih murah. Memang, jumlah channel yang bisa ditonton akan berkurang, namun apa iya dengan membayar mahal Anda bisa menyaksikan semua channel itu? Tidak juga kan. Karena itu, coba pilih paket yang menyediakan saluran paling sering ditonton saja.

Ketiga, ubah jenis pengeluaran. Contoh paling mudah adalah dengan menggunakan alat transportasi publik. Bagi Anda pengendara mobil yang selalu mengeluarkan uang lebih untuk membeli bensin. Coba mulai beralih memanfaatkan transportasi publik, seperti KRL, bus, atau angkot untuk berangkat ke kantor.

4. Cari Diskonan!

Para wanita paling senang terhadap hal ini. Namun, maksudnya cari diskonan bukan untuk pengeluaran tersier seperti pakaian baru atau tas baru lho ya! Melainkan untuk kebutuhan sehari-hari. Terkait dengan hal itu, beberapa hipermarket atau supermarket sering sekali menawarkan diskon bagi para pelanggannya. Manfaatkan itu untuk menyetok barang tahan lama yang termasuk dalam diskonan.

Namun jangan sampai kalap, stok sesuai kebutuhan saja. Selain itu, rajin-rajinlah mencari tahu perbandingan harga barang. Sebab sering ditemui barang diskonan ternyata berkualitas rendah atau sudah mau masuk masa kadaluarsa.

Nah, sudah tahu kan caranya hidup hemat. Yuk kita praktikan dari sekarang! Jadi, buat apa boros kalau bisa hemat?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama