Fenomena Hidup Boros Para “Fresh Graduate”

Bagi kebanyakan "fresh graduate", menghabiskan gaji pertama bukanlah hal yang aneh. Kendalanya adalah, di bulan-bulan pertama biasanya "fresh graduate" tidak memiliki tabungan.

kesulitan untuk menabung

Dalam beberapa hari kedepan kita akan memasuki bulan Mei, atau artinya tidak lama lagi akan masuk pertengahan tahun yang biasanya bertepatan dengan banyak universitas yang menyelenggarakan wisuda. Disaat yang bersamaan, gelombang lulusan sarjana akan muncul dan akan bersiap-siap memasuki lapangan pekerjaan. Tiap tahunnya berdasarkan data dari Departemen Pendidikan, tercatat rata-rata 250.000 lulusan sarjana yang dihasilkan oleh seluruh universitas di seluruh Indonesia. Tidak banyak yang dapat terserap oleh “pasar”, dan juga cukup sedikit yang berhasil memperoleh pekerjaan yang diinginkan lalu memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup.

Kita biasa menyebut mereka sebagai golongan “fresh graduate”. Biasanya para “fresh graduate” ini akan senang sekali jika pertama kali sejak lulus langsung diterima oleh perusahaan yang mapan. Dengan gaji yang diterimanya di bulan-bulan pertama, “penyakit” laten selalu muncul di hampir tiap “fresh graduate”.

Kondisi tersebut cukup wajar, dan bahkan sempat juga melanda saya. “Penyakit” laten yang dimaksud ialah sulitnya mengelola dan mengontrol pengeluaran dari gaji yang kita terima. Sebagaimana anak-anak muda lainnya, kekalapan akan timbul ketika Anda memperoleh gaji pertama kali. Betul, tidak?!

Kesulitan Untuk Menabung

Pada umumnya, bulan-bulan pertama para “fresh graduate” akan kesulitan untuk menabung karena gajinya telah habis untuk membeli barang-barang yang diinginkan atau bahkan barang yang sebelumnya diimpikan. Saya misalnya, gaji pertama saya langsung saya belikan kamera DSLR yang harganya hampir mencapai 100% gaji yang saya dapat. Hal tersebut sulit untuk dibendung karena barang tersebut merupakan barang yang saya inginkan sejak jauh-jauh hari.

Alhasil, saya pun kesulitan untuk menabung secara proporsional akibat minimnya uang yang tersisa. Bulan-bulan selanjutnya kurang lebih juga sama. Kesulitan untuk menabung menjadi persoalan utama akibat besarnya pengeluaran yang diperuntukan bagi pengeluaran sekunder seperti makan diluar, nonton hiburan, membeli barang hobi dan lain sebagainya.

Untuk mencegah terjadinya pembengkakkan pengeluaran yang berkepanjangan, penting bagi para “fresh graduate” untuk melakukan hal yang penting sepertimengatur keuangan sedini mungkin. Ok, jika di bulan pertama Anda mengalami pemborosan, jangan sampai dibulan kedua Anda melakukan hal yang serupa. Tentukan segera berapa proporsi pengeluaran dan diperuntukan untuk apa saja. Misal : 10% untuk ditabung, 10% untuk lifestyle, 10% untuk diinvestasikan dan sisanya untuk biaya hidup seperti makan, transportasi dan lain sebagainya.

Pengaturan uang akan semakin kompleks jika Anda memiliki cicilan, baik cicilan kartu kredit maupun kredit pemilikan kendaraan motor. Karena proporsi keuangan Anda akan memiliki pos tambahan untuk biaya cicilan tiap bulannya yang disarankan tidak melebih 30% dari gaji yang Anda terima.

Dengan pengaturan keuangan yang baik, dijamin gaji yang Anda terima tidak dapat cepat habis untuk pengeluaran yang sia-sia dan tidak terlalu bermanfaat. Ingat, lebih baik mencegah daripada nantinya mengalami kerugian.

(source image)

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama