Fenomena Borosnya Gaya Hidup Kelas Menengah

Kelas menengah di Indonesia identik dengan cukup tingginya pengeluaran untuk biaya liffestyle. Sayangnya, justru kebanyakan kelas menengah tidak sadar bahwa hal tersebut dapat membuat mereka terjebak untuk bersikap boros.

Dalam beberapa waktu belakangan ini, istilah “kelas menengah” cukup nge-hit bukan hanya di obrolan-obrolan “warung kopi”, tapi juga di banyak media, termasuk media sosial terutama Twitter. Istilah “kelas menengah” semakin marak dijadikan bahan pembicaraan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak mengherankan memang, di Jakarta cukup banyak golongan tersebut akibat dari pertumbuhan sektor bisnis yang menyerap tenaga kerja baru terutama fresh graduate dengan kisaran penghasilan antara Rp 5 juta – Rp 10 juta. Dengan penghasilan tersebut, secara hitung-hitungan untuk biaya hidup dasar di Jakarta setidaknya cukup terpenuhi. Dan biasanya sisa dari pos pengeluaran biaya hidup dasar akan digunakan untuk biaya lifestyle yang terkadang nominalnya cukup besar.

Untuk taraf penghasilan para pekerja di Jakarta sendiri, kisaran nominal penghasilan di atas paling besar proporsinya dibanding dengan kelas bawah dan juga kelas atas. Oleh karena itu, secara langsung kelas menengah memiliki andil paling besar dalam menunjang perekonomian di Jakarta saat ini. Selayaknya kelas-kelas menengah di negara-negara lain, faktor lifestyle sangat kental pada orang-orang “kelas menengah” bahkan tidak jarang para kelas menengah dihadapkan pada kondisi “lebih besar pasak daripada tiang”, dengan pengeluaran kadang lebih besar daripada pendapatan. Itu akibat pengeluaran besar untuk sekadar gaya hidup.

Selain tingginya biaya untuk lifestyle, salah satu faktor yang menyebabkan tingginya pengeluaran bagi kaum kelas menengah ialah adanya sebuah kondisi ketika mereka mulai mencoba mulai memiliki barang-barang yang dinilai dapat meningkatkan status sosialnya, seperti mobil, motor, atau kartu kredit. Sehingga pendapatan per bulannya biasanya disisihkan untuk cicilan ketiga hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan apakah hal tersebut salah?! Sebetulnya tidak, asalkan orang tersebut dapat mengelola keuangannya dengan baik.

Jeratan Pengeluaran Biaya Lifestyle

Fenomena “kelas menengah” memang cukup unik jika kita cermati. Berbeda dengan orang dengan penghasilan yang sangat besar yang biasanya jarang mengalami kesulitan pengelolaan keuangan pribadinya. Namun untuk kasus kelas menengah, kondisi tersebut justru lebih sering terjadi. Kebutuhan akan pengeluaran gaya hidup dinilai sangat penting. Mereka rela berbetah-betah di kafe hingga berjam-jam hanya untuk ngobrol dan bersosialiasi dengan sesama. Atau bahkan berbelanja barang-barang bermerek hanya untuk diterima di komunitasnya. Maka jangan heran dengan kisaran penghasilan seperti di atas tidak dapat mengimbangi pengeluaran yang cukup besar.

Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut? Apakah ada jalan keluar? Jawabannya, ada. Hal yang dinilai dapat menjadi solusi ialah mengubah gaya hidup yang telah menciptakan pemborosan. Pengaturan keuangan harus segera dilakukan terutama membatasi pengeluaran yang tidak diperlukan.

Jika pengeluaran lifestyle dinilai cukup tinggi, memang sudah saatnya Anda membatasi hal tersebut. Misalnya, jika hampir tiap akhir pekan Anda rutin kongkow dikedai kopi, kini Anda harus menguras durasi menjadi sebulan sekali atau sebulan dua kali. Atau, jika hampir sepekan sekali Anda nonton bioskop, Anda bisa menyiasati untuk memilih-milih film mana yang kiranya layak untuk ditonton bioskop dan sebagai alternatif Anda bisa menonton DVD yang biayanya jauh lebih hemat.

Pengeluaran-pengeluaran lain yang juga dapat dikurangi ialah pengeluaran berbelanja. Sudah tidak asing lagi para kelas menengah memiliki kartu kredit. Dan biasanya, fasilitas yang ditawarkan ialah potongan harga dari beberapa merchant/tenant, baik restoran maupun butik. Nah, godaan terbesar dapat muncul jika Anda tidak dapat melihat mana hal yang memang dibutuhkan dan mana yang diinginkan. Hindari pembelian barang yang sekiranya memang tidak Anda butuhkan saat ini. Itu berguna menekan pengeluaran yang tidak perlu.

Mulailah dari hal-hal kecil seperti di atas, dan yakinlah bahwa untuk mengontrol keuangan Anda bukan hanya sekadar niat, tapi juga eksekusi. Ingat, kemajuan sebuah negara ditentukan oleh para kelas menengah. Dengan tingkat pendidikan relatif tinggi, sudah seharusnya mereka memiliki pemahaman soal manajemen keuangan yang baik dan sehat.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama