Cara Terbaik Melalui Tantangan Ekonomi di Tahun 2015

Tidak semua orang bisa lepas dari himpitan kesulitan ekonomi dengan mudah. Untuk mensiasati itu semua, ada sejumlah tahapan yang mesti dilewati lho!

Sudah lewat 2 bulan kita melalui tahun 2015, meski masih dalam tahap awal tahun, sudah banyak hal yang terjadi di perekonomian Indonesia. Tentu masih ingat dalam ingatan bagaimana fluktuatifya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membuat harga kebutuhan pokok menjadi tidak menentu. Tidak hanya itu, di akhir Februari juga terjadi kelangkaan dan kenaikan harga beras. Meski diprediksi pertumbuhan ekonomi akan cukup baik di tahun ini, namun masih ada banyak hal yang bisa menghambat itu semua.

Efeknya tidak hanya terjadi pada perekonomian negara tapi juga kita sebagai rakyat, terutama yang berkaitan dengan urusan kocek. Kontan mencatat, menjelang akhir tahun 2014 saja, beragam harga kebutuhan pokok satu per satu mengalami naik. Sebagai awalan, di Juli 2014, tarif listrik naik bertahap setiap dua bulan antara 5,36%–11,37%. Lalu, harga gas elpiji 12 kilogram menyusul untuk ikut melambung. Terakhir, November 2014 lalu harga bahan bakar minyak (BBM) akhirnya diputuskan naik sekitar 30%, meski akhirnya turun kembali di tahun ini.

Apapun perubahan kebijakan yang diambil, yang pasti, hal itu akan memicu kenaikan hampir semua harga barang dan jasa, mulai dari harga kebutuhan pokok sampai ongkos transportasi publik. Belum lagi tekanan inflasi yang kuat serta tingkat suku bunga acuan BI rate yang masih tetap tinggi.

Tantangan di Tahun 2015

Baru juga berlalu 2 bulan, sebenarnya sudah mulai terasa bagaimana gambaran tantangan yang siap dihadapi sepanjang tahun 2015. Sebagai contoh, meski baru menurunkan suku bunga menjadi 7,5%, Bank Indonesia tetap bersiap-siap menaikkannya lagi. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi apabila bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserves jadi menaikkan suku bunga. Jika itu terjadi, maka bersiaplah menghadapi kesulitan baru, di mana harga barang akan menjadi lebih mahal.

Di samping itu, untuk Anda yang sekarang sedang meminjam uang bank dengan sistem bunga floating, harus bersiap-siap menghadapi kenaikan bunga pinjaman. Pertanyaannya, sudah siapkah Anda menghadapi tantangan ekonomi di tahun 2015?

Menurut perencana keuangan TGRM Financial Planning Services, Taufik Gumulya, ada banyak jalan untuk membantu Anda lebih siap secara ekonomi untuk melalui tahun yang penuh tantangan ini. Yaitu dengan mengubah gaya hidup dan beradaptasi dengan situasi sulit agar kita tidak kesulitan mengikuti laju inflasi yang tinggi.

Taufik mengatakan, tidak realistis apabila kita tetap mempertahankan gaya hidup nyaman seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena, mempertahankan gaya hidup dengan mengabaikan faktor inflasi berisiko membuat perekonomian menjadi jebol.

Evaluasi Kondisi Ekonomi Anda

Menurut perencana keuangan OneShildt Financial Planning, Pandji Harsanto, kita mesti melakukan evaluasi untuk mengetahui kondisi ekonomi. Evaluasi itu sendiri sebaiknya dilakukan tiga bulan sekali.

Hal ini nantinya akan berguna untuk memberi kesempatan Anda mendeteksi mana saja pengeluaran yang bisa ditekan atau dihapuskan. Mana pos pengeluaran yang sering membengkak melampaui anggaran yang direncanakan, dan seterusnya. Jadi, bila ada pengeluaran yang sifatnya yang tidak penting, bisa ditahan dulu.

Buat Strategi dan Lakukan Simulasi

Setelah melakukan evaluasi, coba buat simulasi anggaran dengan menggunakan harga-harga saat ini. Misalnya, sebelunya kita hanya membuat anggaran ongkos sebesar Rp 500 ribu, kali ini coba naikkan menjadi Rp 600 ribu, karena sudah ada keaikan harga BBM dan kondisi jalan yang semakin macet.

Lakukan hal yang sama pada pos pengeluaran lain. Contoh, pos biaya makan di kantor yang biasanya menghabiskan biaya Rp 20 ribu, kali ini coba naikkan menjadi Rp 25 ribu dan lainnya. Ketika sudah mengetahuinya, cobalah cari jalan keluar agar dana yang dikeluarkan menjadi bisa ditekan. Misalkan, dengan biaya uang makan di kantor yang semakin mahal, Anda bisa menggantinya dengan membawa bekal dari rumah yang mungkin saja tidak lebih dari anggaran awal yang sebesar Rp 20 ribu.

Tidak cuma itu, mungkin saja Anda juga bisa mengganti anggaran kegiatan lain yang sifatnya menghambur-hamburkan uang seperti nonton di bioskop menjadi nonton DVD di rumah. Ingat, hemat tidak berarti pelit, percayalah, kalau sudah terbiasa, beban keuangan Anda akan terasa lebih ringan.

Buat Prioritas Anggaran

Seperti yang sudah disebutkan di awal, tahun 2015 bisa jadi masih akan menjadi tahun yang cukup berat dengan tekanan inflasi tinggi dan kebijakan moneter yang ketat. Efeknya, selain mesti mengubah gaya hidup menjadi lebih hemat, Anda perlu juga menata lagi prioritas yang menjadi target rencana keuangan Anda.

Misalnya, anggaran untuk biaya liburan yang biasanya besar, mungkin saja bisa ditekan. Tidak perlu dibatalkan rencananya, hanya saja mungkin bisa diubah kemasan menjadi lebih ekonomis, seperti ala backpacker. Taufik mengatakan, para perencana keuangan sepakat kalau tujuan keuangan utama di zaman ini adalah untuk dana pensiun dan dana pendidikan anak. “Kedua persiapan itu tidak boleh terhenti. Sekarang saja kondisinya sudah berat, jika masa depan tidak kita perjuangkan, bagaimana nanti?” kata Taufik.

Pada dasarnya, setiap orang yang sudah berpenghasilan, seharusnya masih mampu menyisihkan sedikitnya 10% dari penghasilannya untuk investasi dan tabungan masa depan. Dengan catatan, ada kemauan untuk mengorbankan gaya hidup.

Buat Alokasi Dana Pembelian Aset

Di tahun ini, ancaman risiko kekacauan pasar masih cukup terbuka, terlebih jika skenario pengetatan perekonomian besar-besaran dari pasar domestik dilakukan jika terjadi perubahan kebijakan dari Federal Reserves.

“Beralihlah menjadi konservatif,” kata Taufik. Dia sangat menyarankan setiap orang untuk mempunyai aset seperti rumah. Apabila semula porsi investasi Anda kebanyakan ada di instrumen ekuitas, ada baiknya mengalihkannya sebagian ke instrumen fixed income dan money market. Salah satu yang bisa diambil adalah logam mulia seperti emas atau properti seperti rumah.

Cari Sumber Pendapatan Lain

Sudahkan Anda merasa gaji Anda menghidupi kebutuhan selama sebulan penuh? Mungkin saja jawabannya belum. Inflasi yang tinggi seringkali tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Apalagi kalau status kita hanya menjadi karyawan biasa atau PNS.

Karena itu, mencari penghasilan ekstra dengan berbisnis atau pindah kerja ke kantor dengan tawaran kesejahteraan lebih baik bisa menjadi solusi tepat. Dengan rencana yang baik dan persiapan cukup, tentu Anda bisa menyongsong tahun 2015 dengan lebih tenang.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama