Bangkrut Pasca Lebaran, Yuk Sehatkan Lagi Keuanganmu

Idul Fitri sudah berlalu, masa menyenangkan saat berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman sudah lewat. Sekarang saatnya menata kembali keuangan Anda yang mungkin bangkrut karena tingginya pengeluaran pasca Lebaran.

Hari Raya Idul Fitri telah kita lalui sejak lebih dari seminggu yang lalu. Bagi banyak orang, saat tersebut merupakan momen yang sangat menyenangkan karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga untuk merayakannya. Sayangnya, banyak orang yang setelah hari tersebut justru menjadi bangkrut, karena itu sangat penting untuk mengatur keuangan pasca Lebaran.

Ingat, sadarkah Anda kalau melalui masa Lebaran juga bisa berarti saat menghambur-hamburkan uang? Suka tidak suka, pada bulan Ramadhan pengeluaran kita pasti akan meningkat untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Hal ini rupanya sering tidak disadari, sehingga membuat banyak orang kesulitan ketika tahu kondisi keuangannya menipis drastis pasca Idul Fitri.

Tidak percaya ? Kami berikan sedikit gambaran pengeluaran yang selalu dihabiskan di bulan Ramadhan. Berapa banyak dari Anda yang membeli baju baru, bahan makanan dalam jumlah besar, kue-kue cemilan, tiket mudik, menyiapkan dana liburan, sampai memberi THR pada keponakan atau keluarga lain saat masa lebaran. Rata-rata pasti tidak bisa mengelak.

Menurut perencana keuangan, Pritta H. Ghozie, pengeluaran pada bulan Ramadhan sampai Idul Fitri paling sedikit meningkat 30%. Tentu itu bukan jumlah yang sedikit, mengingat kebutuhan setiap orang pasti berbeda. Karena itu, bila tidak dipersiapkan dengan baik, bersiap-siaplah untuk bangkrut.

Sehatkan Kembali Keuangan Anda Pasca Bangkrut Saat Lebaran

Lalu, bagaimana cara agar kesehatan finansial tetap terjaga pasca lebaran? Perlukan Anda untuk melakukan aksi super hemat untuk menyelamatkan sisa uang? Yuk simak beberapa tips mengatur finansial setelah Idul Fitri ala KreditGoGo berikut.

1. Lakukan Medical Check Up Keuangan

Menurut Perencana Keuangan dan Direktur PT Padma Radya Aktuariza, Risza Bambang, setiap orang perlu melakukannya untuk menganalisis seberapa kuat kondisi finansialnya setelah menjalani bulan Ramadhan. Apakah masih cukup sehat, atau justru mengkhawatirkan?

“Selama Lebaran, masyarakat justru cenderung menguras uang dalam jumlah besar untuk biaya ekstra kegiatan berbuka puasa, membeli makanan serta cemilan Lebaran, pakaian baru, membayar zakat/sedekah/infaq, memberi angpao pada anak dan keponakan, ongkos mudik dan liburan, serta lain sebagainya,”

Ia mengatakan, hal itulah yang menyebabkan mengapa Medical Check Up keuangan wajib dilakukan. Sebagai contoh, apakah Tunjangan Hari Raya yang diberikan tempat bekerja sudah bisa memenuhi kebutuhan sampai setelah lebaran atau tidak. Hal tersebut bisa dilihat dengan melakukannya.

Sebagai tambahan, Bambang menyebutkan, perlu disiapkan dana darurat yang nantinya bisa digunakan bila Anda sangat membutuhkannya seperti untuk ke dokter maupun memenuhi keperluan lain yang sifatnya mendesak.

2. Susun rincian pengeluaran pasca lebaran

Setelah melakukan pengecekan kembali, hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menyusun ulang rencana pengeluaran. Sebab, dengan dana seadanya, tidak mungkin Anda bisa memenuhi kebutuhan standar bulanan. Coba lihat kembali mana saja keperluan yang bisa ditunda atau harus diutamakan.

Sebagai contoh, bila di rumah menggunakan jaringan TV kabel yang biasanya minimal seharga Rp 200.000 bahkan lebih. Mungkin bisa di-stop terlebih dulu, sebab uang tersebut nantinya bisa dialihkan untuk keperluan lain yang lebih mendesak seperti makan sehari-hari ataupun ongkos bekerja.

3. Batasi pengeluaran harian

Sebagai gambaran awal, berapa banyak apa saja sih yang Anda pengeluaran yang diperlukan untuk bekerja dalam sehari. Rata-rata pasti akan menjawab makan dan ongkos. Namun, keduanya seringkali diisi oleh pemborosan yang sering tidak terasa.

Apa saja pemborosan yang dimaksud? Pertama adalah biaya makan, terkadang bila merasa belum kenyang atau mulut masih ingin ngunyah, kita sering membeli cemilan. Itulah yang membuat uang yang digunakan menjadi jauh lebih besar. Sebagai gambaran, harga makanan murah di lingkungan kantor berkisar antara Rp 10.000-25.000. Bila masih mau ngemil, maka jumlah tersebut bisa naik sekitar Rp 10.000 lagi. Boros bukan?

Sebagai gantinya, bawalah makanan dari rumah secukupnya, selain lebih hemat, makanan yang dibawa juga lebih sehat. Begitu juga dengan ongkos, bila Anda menggunakan mobil, cobalah untuk naik kendaraan umum. Sehingga pengeluaran BBM bisa ditekan.

4. Tetapkan biaya harian

Terkadang membatasi saja belum cukup membuat seseorang berhemat. Cara terbaik untuk memaksanya adalah dengan membatasi dana yang dibutuhkan. Sebagai contoh, bila terbiasa membawa uang untuk keperluan beberapa hari sekitar Rp 500.000, jangan lakukan itu lagi, sebab membawanya dalam jumlah besar sering membuat Anda merasa punya uang banyak.

Karena itu, bila mengambil uang dalam besar, segera pisahkan dan bawa saja Rp 50.000 untuk satu hari. Usahakan agar dikeluarkan untuk keperluan yang sudah ditetapkan. Biasakan untuk menggunakanya secukupnya ya.

5. Tunda belanja barang yang tidak diperlukan

Siapa sih yang tidak ingin berbelanja barang yang diidam-idamkan? Pastinya tidak ada, apalagi wanita, keperluan bulanan mereka bahkan hampir selalu lebih besar dari pria. Namun, mumpung kondisi finansial sedang kurang sehat, ada baiknya hal tersebut ditahan dulu.

Sebagai contoh, bila sering membeli baju baru setiap bulan, ada baiknya di bulan ini tidak dilakukan, karena mungkin Anda sudah membelinya saat Lebaran lalu.

Memang, kenyataannya sangat berat menjalani kehidupan sehari-hari dengan dana yang terbatas. Namun, bila diniatkan, kondisi keuangan bisa kembali seperti sedia kala sehingga Anda dapat memenuhi kebutuhan seperti biasa. Karena itu, yuk berhemat.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama