Atur Keuangan Setelah Lebaran Dengan Metode Syariah

Idul Fitri sudah berlalu, namun bagaimana kondisi keuangan Anda setelah momen tersebut? Rata-rata akan menjawab kurang sehat karena meningkatnya kebutuhan. Karena itu, yuk kita kelola finansial pasca lebaran dengan metode syariah.

Idul Fitri sudah berlalu, namun setelah melalui hari suci umat Islam tersebut, tidak sedikit orang yang justru mengalami masalah keuangan. Penyebabnya tentu saja karena meningkatnya kebutuhan sebelum dan sesudah Lebaran. Menurut financial planner, Prita H. Ghozie, mengelola pengeluaran pasca momen tersebut mesti dilakukan secara cermat, salah satunya dengan metode syariah.

Ya, secara syariah, atau didasarkan pada ajaran agama. Bagi umat muslim, mungkin sudah sering mendengar dan tahu arti kata tersebut. Namun, bagi yang belum mengerti, sesuatu yang diatur secara syariah, termasuk dalam merencanakan keuangan bertujuan untuk mendatangkan dan memelihara kemaslahatan. Karena itu, konsep ini bisa diterapkan dalam berbagai hal.

Prita mengatakan, rezeki yang kita dapatkan harus dapat dikelola dengan baik. Terkait dengan metode syariah yang disebutkan sebelumnya, Anda bisa menggunakan cara ZAP FIN. Apa sih pengertiannya? Yaitu adalah singkatan dari Zakat, Assurance (asuransi), Present Consumption, Future Spending, dan Investasi.

Atur Keuangan Setelah Lebaran Dengan Metode Syariah

Nah, untuk mengetahui apa saja yang mesti dilakukan dalam menjalankan pengelolaan keuangan pasca lebaran pasca lebaran secara syariah (ZAP FIN) tersebut. Yuk simak ulasan berikut.

1. Zakat

Ya, ini adalah yang paling wajib disiapkan. Zakat merupakan salah satu rukun islam yang mewajibkan umat muslim untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diberikan kepada khalayak yang membutuhkan (fakir miskin dan sejenisnya) dengan jumlah tertentu. Umat muslim percaya kalau sudah melakukan hal tersebut, maka harta yang dimilikinya akan menjadi suci, bersih, baik,berkah, tumbuh, dan berkembang.

Berdasarkan artikel KreditGoGo sebelumnya, zakat terdiri dari 3 jenis yaitu :

Zakat Fitrah

Zakat ini wajib dikeluarkan saat bulan Ramadhan. Besarnya setara dengan 3,5 liter (2,7 kilogram) makanan pokok di daerah orang yang bersangkutan. Bila belum mengerti, rumus penghitungannya adalah 3,5 x harga beras per liter di pasaran.

Sebagai contoh, bila beras di daerah Anda (biasa dimakan dan layak konsumsi) dihargai sebesar Rp 10.000 per liter. Maka jumlah zakat fitrah yang mesti dikeluarkan adalah Rp 35.000 untuk setiap orang.

Zakat Maal

Zakat jenis ini dikenakan pada harta milik setiap individu muslim dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Rumus untuk menghitung besarnya pemberian yang mesti dikeluarkan adalah 2,5 x jumlah harta yang disimpan selama setahun penuh, bisa berupa investasi (emas, ternak, pertanian, dan lainnya) dan tabungan.

Nisab yang diberlakukan pada Maal adalah 85 x harga emas per gram di pasaran.

Zakat Penghasilan

Jenis ini sebenarnya masih dalam perdebatan sampai sekarang, karena dianggap tidak memiliki dasar (dalil) kuat atau bid’ah. Tapi, karena tidak ada institusi resmi atau fatwa dari para ulama yang melarang kita melakukannya, sah saja untuk melakukannya.

2. Asuransi

Dalam perencanaan keuangan secara syariah, kita juga diperintahkan untuk menjalani hidup secara terstruktur dan terjaga. Karena itu, se-bokek apapun Anda pasca Lebaran, pengeluaran untuk pembayaran premi asuransi tetap wajib disiapkan.

Sebagai contoh, bila memiliki asuransi kesehatan yang mewajibkan untuk membayar premi sebesar Rp 300.000 setiap bulannya. Tetaplah bayar, karena nantinya layanan itu yang akan memproteksi Anda dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Present Consumption

Bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, maka maksudnya adalah konsumsi saat ini. Dalam metode syariah, kita harus cermat dalam menyiapkan penghasilan untuk kehidupan sehari-hari agar tidak dikeluarkan untuk kebutuhan yang sifatnya bisa dinanti-nantikan.

Sebagai contoh, bila dalam sehari bisa menghabiskan uang sebesar Rp 100.000 untuk makan, ongkos, dan nongkrong. Maka dengan kondisi keuangan yang sedang tipis, Anda harus mengutamakan kebutuhan yang lebih mendesak, dalam hal ini keperluan akan bersenang-senang bisa disingkirkan terlebih dulu hingga kondisi finansial kembali seperti semula. Tujuannya tentu saja agar dana yang dikeluarkan menjadi berkurang, seperti menjadi Rp 70.000 atau bahkan di bawah itu.

4. Future Spending

Bila sudah berhasil mengurangi pengeluaran untuk present consumption, maka tugas Anda berikutnya adalah menyiapkan future spending. Caranya tentu saja dengan menabung, tujuannya agar kita lebih disiplin dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Sebagai contoh, bila pengeluaran sehari bisa dikurangi sampai Rp 70.000 dari Rp 100.000. Maka Rp 30.000 sisanya bisa ditabung.

5. Investasi

Di dalam metode syariah, berdasarkan manfaatnya investasi dibagi dua. Pertama adalah untuk akhirat seperti infak, sedekah, qurban, dan haji. Kedua bagi dunia, seperti dengan cara menggunakan reksadana, emas, rumah, dan lainnya.

Sebagai contoh, dana yang sudah bisa disisakan dalam future spending di atas. Kalau tidak digunakan, mungkin bisa digunakan sebagai alat investasi dengan cara membeli emas atau reksadana. Ketika membuahkan hasil (nilainya naik) maka bisa dijual kembali agar kita mendapat laba.

Ingat, seberapa pun besarnya gaji Anda, kalau tidak bisa mengaturnya dengan baik, maka uang tersebut hanya numpang lewat saja. Idealnya, upah yang didapat setiap bulan paling tidak bisa disisakan sekitar 10% untuk ditabung.

Banyak faktor yang membuat banyak orang begitu sulit untuk mengatur finansialnya, bahkan terkesan tidak pernah cukup. Seperti akibat meningkatnya gaya hidup, barang yang tiba-tiba perlu menjadi penting, tergiur dengan diskon, meningkatnya harga kebutuhan, dan sebagainya.

Dengan perilaku yang tepat dalam mengatur keuangan seperti dengan tidak menghabiskan seluruh penghasilan, melainkan mampu menyisihkannya untuk investasi di masa mendatang. Dijamin uang yang dimiliki Anda akan terus bertambah sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Prioritaskanlah kebutuhan dibandingkan keinginan.

Ingat, setiap pengeluaran yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan biasanya akan memberikan dampak buruk pada akhirnya. Karena itu, yuk mulai hidup tidak boros dan kikir, kemudian mulai menyimpan kelebihan harta dan menabungnya untuk masa depan.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama