2 Cara Lunasi Pinjaman Debitur yang Meninggal Dunia

Ketika debitur meninggal dunia sebelum kreditnya lunas, beban utang akan ditanggung keluarga terdekat atau ahli warisnya. Tidak perlu panik, temukan solusinya bersama kami!

Tidak sedikit terjadi kasus debitur yang meninggal dunia saat cicilan kreditnya belum lunas. Alhasil, muncul “warisan” berupa utang yang dilengserkan pada keluarga untuk menyelesaikan tanggung jawab kredit tersebut.


Warisan menurut hukum di Indonesia diartikan sebagai harta kekayaan yang meliputi aset dan passiva/utang. Bila seseorang meninggal dunia maka aset berharga, termasuk dengan utangnya,jatuh haknya kepada ahli waris. Hal ini sesuai dan diatur dalam pasal 833 KUHP.

Namun, menurut pasal 1100 KHUP, sisa beban utang ini hanya wajib dibayarkan oleh sang ahli waris yang bersedia menerima warisan secara penuh. Besaran utang yang harus dbayar oleh ahli waris pun disesuaikan dengan harta warisan yang diterima dan di luar dari harta pribadi miliknya.

Cara Ahli Waris Hadapi Beban Hutang

Peralihan utang ini tidak akan jadi beban berat jika jumlahnya sedikit. Masalah untuk ahli waris akan berlipat ganda saat totalnya melebihi kemampuan finansialnya.

Jika saat ini Anda sedang menghadapi permasalahan tersebut, tenang saja. Dua cara berikut ini bisa jadi jalan keluar Anda.

1. Manfaatkan Dana Asuransi Kredit

asuransi kredit

Sebagai ahli waris, yang menerima peralihan utang ini,yang harus Anda lakukan adalah mencairkan dana fasilitas asuransi kredit tersebut.

Asuransi kredit adalah program perlindunganyang diberikan pihak bank untuk mengantisipasi jika nasabah meninggal dunia sementara kreditnya masih berjalan.Asuransi kredit ini bekerja sama dengan pihak asuransi, Anda hanya tinggal mendaftar dan membayar premi saja.

Jika mau, Anda juga boleh menambah asuransi secara pribadi dari yang direkomendasikan oleh pihak bank.

Pencairan dana asuransi mudah, cukup dengan melengkapi dokumen-dokumen pengajuan klaim, yaitu: Surat Keterangan Meninggal Dunia dan Surat Keterangan Ahli Waris dari kelurahan/desa, Surat kuasa Ahli Waris, Fotokopi KTP Nasabah, Fotokopi KTP Ahli Waris, Fotokopi Kartu Keluarga debitur, Fotokopi Surat Nikah (bagi yang memiliki pasangan), berkas klaim dari bank.

Baca juga: Cek Rapor Kredit Buruk dan Segera Perbaiki!

Anda juga harus memperhatikan jangka waktu klaim karena terdapat batas waktu maksimal, yakni tidak boleh melewati 3 - 6 bulan setelah nasabah meninggal dunia.Tentunya ketentuan setiap bank atau lembaga keuangan berbeda. Anda bisa langsung berkonsultasi dengan bagian kredit dengan kantor cabang yang memberikan fasilitas kredit kepada nasabah.

Tetapi, sebelum Anda melakukan proses klaim, Anda juga perlu memperhatikan kondisi kredit tersebut, masuk kategori lancar atau macet. Sebab, pihak asuransi memberikan batasan klaim untuk asuransi hanya kepada nasabah yang berada dalam kategori lancar. Jika nasabah berada pada kategori kredit di atas kolektibilitas 1, klaim akan ditolak.

Sistem pembayaran premi asuransi ada yang dibayar langsung atau per bulan. Sebaiknya, Anda periksa dan pastikan premi sudah dibayar sesuai jatuh tempo.

2. Minta Keringanan atau Hapus Utang

bebas utang kredit ahli waris

Meski begitu, ada beberapa bank atau nasabah sendiri yang memilih untuk tidak menggunakan asuransi.

Jika demikian dan Anda merasa berat hingga tidak mampu melunasi utang tersebut, Anda bisa mengajukan permohonan keringanan kepada bank. Bentuk keringanan ini mampu mengurangi jumlah angsuran atau paling tidak memangkas bunga kreditnya.

Baca juga: KTA, Alternatif Solusi Mengatasi Tunggakan Utang Kartu Kredit

Selain cara tersebut, Anda juga bisa memohon penghapusan kredit kepada pihak bank. Namun, cara ini sangat rumit dilakukan dan belum tentu dikabulkan oleh pihak bank secara langsung.

Risiko lain yang mungkin timbul dengan menggunakan cara tersebut adalah timbulnya catatan buruk di Sistem Informasi Debitur kepada pihak nasabah dan ahli waris.

Nah, semoga kedua cara ini bisa membantu Anda melunasi beban utang yang ditinggalkan kerabat atau keluarga!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama