10 Teknik Mengatur Keuangan setelah Menikah

Baru menikah ya? Selamat ya! Sebagai pasangan baru, tentunya kalian sudah siap mengatur keuangannya dong. Ini nih beberapa hal praktis yang bisa dipraktikkan.

Anda baru saja menikah? Selamat ya! Kini kalian menjadi suami dan istri yang sah. Ada rencana ingin pergi berbulan madu ke mana? Jika belum, tentu rasanya senang bisa berbulan madu ke suatu tempat yang sangat romantis.

Tapi, jangan terlena dulu ya. Sebagai penganti baru yang berpendidikan tinggi, tentu perihal keuangan sudah pasti menjadi topik utama. Dibahas boleh, tapi jangan menjadi terlalu sensitif tentang itu.

Mengelola keuangan ketika kita masih bujangan sangatlah berbeda ketika kita sudah menikah. Ada banyak perubahan pola pikir keuangan yang harus dilakukan. Itu juga termasuk calon istri Anda, yang sekarang menjadi istri. Sang istri juga pasti mengalami perubahan pola pikir dalam keuangannya. Hal-hal yang tampaknya sepele bisa menjadi ‘berkat’ jika Anda mampu mengelolanya. Contoh kecilnya adalah berbagi rekening bank, menetapkan tujuan keuangan (misalnya beli rumah), sampai tipe dan jenis asuransi yang dibutuhkan.

Dan karena uang merupakan topik yang cukup emosional, dan salah satu penyebab utama perceraian, keberhasilan pernikahan Anda juga ditentukan oleh suatu kebiasaan keuangan yang Anda dan pasangan bangun sejak awal.

Bagi Anda yang masih awam tentang bagaimana menggabungkan keuangan Anda bersama pasangan, berikut adalah kiat yang bisa dipraktikkan.

ilustrasi: pasangan baru

Mulai Menabung

Sudah hal umum, biasanya, pasangan yang baru saja menikah pasti sudah mengalokasikan sebagian besar dananya, bahkan tabungannya, untuk melangsungkan pernikahan. Setelah menikah, tentu Anda dan pasangan harus membangun kembali kondisi keuangan yang habis untuk pesta pernikahan. Sebagai awal, kumpulkan minimal 6 (enam) bulan dari hasil pendapatan Anda untuk dana darurat. Selain itu, mulailah merencanakan dana pensiun Anda dari tempat bekerja, misalnya mulai berinvestasi pada portofolio yang terdiversifikasi sesuai tujuan keuangan keluarga.

Rekeningmu Rekeningku

Ketika Anda dan pasangan sudah mulai membentuk keluarga, tentu pembentukan rekening bersama adalah hal yang ideal. Mengapa? Ini diperlukan agar segala hal yang berkaitan dengan tagihan bulanan, seperti listrik dan telepon, bisa dengan ringkas terbayarkan. Buatlah satu rekening giro atau tabungan untuk tujuan bersama.

Komunikasikan ke Pihak Asuransi tentang Penerima Manfaat

Maklum, baru aja menikah. Jadi, ya segala sesuatu masih menyesuaikan diri. Betul, itu termasuk agar berkomunikasi ke pihak asuransi. Lho kok ke sana? Iya dong. Sebelum menikah, biasanya Anda atau pasangan pasti sudah pernah, atau masih memiliki, polis asuransi ketika masa lajang. Praktisnya, katakan ke perusahaan asuransi untuk mengubah semua nama penerima manfaat pada polis asuransi yang masih Anda miliki. Artinya, memperbaharui semua nama penerima manfaat. Itu juga termasuk pada program pensiun, reksadana, dan surat berharga lainnya, dengan nama pasangan Anda. Sebenarnya, ini tidak mutlak untuk dilakukan, terutama apabila Anda dan pasangan belum memiliki anak. Tetapi, akan sangat diperlukan terutama apabila Anda sudah tidak punya orang lain lagi untuk dipercaya.

Utang Tersembunyi

Ini yang paling gawat. Ketika lajang, pasangan belum tentu tahu kita memiliki utang. Gawatnya lagi, ketika kita sudah menikah, pasangan Anda masih belum tahu utang-utang tersebut. Bicarakan baik-baik mengenai utang pribadi Anda kepada pasangan. Mendiskusikan secara baik-baik dan terbuka adalah satu-satunya cara agar Anda dan pasangan tidak terlibat konflik di kemudian hari. Dengan berkomunikasi, Anda dan pasangan dapat memutuskan solusi terbaik untuk melunasi pinjaman tersebut.

Lacak ke Mana Uang Anda Habis

Sebagai keluarga baru, tentu Anda dan pasangan pasti tahu ke mana saja uang bisa habis. Menurut laman Devino Rizki, cobalah bekerja sama untuk saling kontrol tentang pengeluaran. Lakukan evaluasi keuangan. Itu bertujuan agar Anda dan pasangan bisa mencapai tujuan keuangan secara bersama. Ingat, anak pasti memiliki kebutuhan keuangan tersendiri kan?

Buatlah Kesepakatan

Seperti layaknya melajang, dalam hal pasangan baru tentu harus membuat perencanaan keuangan yang berbeda. Coba diskusikan dengan pasangan, seperti apa sih kebiasaan pengeluaran kita setelah berkeluarga? Seperti apa sih cara Anda, atau pasangan, menangani uang? Apa Anda memiliki sifat pemboros? Atau si pasangan yang justru lebih hemat? Praktisnya, coba tetapkan batas pengeluaran yang bisa ditoleransi. Lalu, coba tetapkan berapa rupiah yang bisa disimpan untuk dana darurat jika Anda dan pasangan mengalami sesuatu yang buruk. Semua itu dilakukan untuk tujuan bersama kan?

Prioritaskan Pembelian

Memutuskan menikah berarti keputusan satu orang juga adalah keputusan bersama-sama. Apalagi keputusan membelanjakan uang. Jika Anda dan pasangan ingin berbelanja, coba buat daftar barang yang ingin dibeli. Itu akan mengendalikan pembelian impulsif Anda. Sebagai contoh, tentu Anda dan pasangan bisa tentukan mana yang cocok dibeli lebih dulu untuk isi rumah Anda; furnitur atau hewan peliharaan?

Konsolidasikan Kartu Kredit

Jika pada masa melajang Anda sudah punya dua kartu kredit, ketika berumah tangga, pastikan Anda hanya memiliki satu kartu kredit untuk tujuan bersama. Coba hindari memiliki dua-tiga kartu kredit. Ini akan mempengaruhi pelunasan dan pengeluaran lainnya.

ilustrasi: asuransi jiwa.

Beli Asuransi Jiwa

Hal yang umum dilakukan bagi pasangan baru adalah membeli polis asuransi jiwa untuk suami mereka, yang juga sebagai kepala keluarga. Suami sebagai tulang punggung nafkah keluarga tentu adalah orang pertama yang harus dilindungi terlebih dahulu. Selanjutnya, mungkin bisa si istri yang berfungsi sebagai ibu rumah tangga. Jika keduanya bekerja, dan perusahaan tempat bekerja sudah memberikan asuransi, sesuaikan dan tambahkan dengan polis yang baru. Itu juga jika Anda hendak membeli lagi asuransi jiwa. Jika tidak, pakai asuransi dari tempat bekerja juga tak masalah. Hal ini perlu dilakukan jika Anda dan pasangan sudah mempunyai tanggungan, misalnya anak atau orang tua.

Simpan Dokumen Penting

Pastikan Anda dan pasangan tahu di mana dokumen penting disimpan. Dokumen yang dimaksud adalah akte kelahiran, akte pernikahan,kartu jaminan sosial (misalnya kartu BPJS Kesehatan), buku bank, surat dokumen rekening investasi, dan catatan pajak. Pengaturan penyimpanan dokumen itu penting dilakukan agar mudah dicari jika dibutuhkan. Masih ingat dengan kasus banjir besar di Jakarta? Anda tidak ingin dokumen penting keluarga Anda hanyut terbawa banjir, bukan?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama