Mama Juga Bisa Kok Jadi Mompreneur. Enggak Percaya?

Ibu biasanya identik dengan urusan rumah tangga, misalnya dapur dan mengurus anak. Tapi jangan salah, seorang ibu bahkan bisa berbisnis juga kok. Ini nih ciri-ciri mompreneur.

  1. mampu bekerja dibawah tekanan
  2. keterampilan bernegosiasi
  3. keterampilan dan kemampuan untuk mengumpulkan dana
  4. kesampingkan ego
  5. terlatih menghadapi hari hari terburuk

Biasa terima gaji tiap bulan, adalah sungguh menyenangkan. Penghasilan yang rutin ia terima dari perusahaannya kini tidak lagi ia terima. Di salah satu perusahaan swasta, ibu itu sudah bekerja selama 4 (empat) tahun. Ya, mulai dari 2009, ibu itu mulai banting setir untuk menjadi seorang pengusaha. Model bisnis yang ia tekuni adalah usaha fesyen, khususnya fesyen batik. Dulunya ia menerima penghasilan rutin bulanan. Kini ia harus bangkit melawan keterpurukan. Khususnya keterpurukan pendapatan yang tidak menentu (finansial).

Ibu itu berpikir bahwa yang namanya bekerja bisa di mana saja, asal bisa menghasilkan pendapatan/penghasilan. Akhirnya, ia mendobrak citra karyawan kantoran selama ini. Pekerja yang bekerja dari jam 9 ke jam 5 (9 AM to 5 PM). Bagi ibu itu, kerja bisa dilakukan di kedai kopi, sambil nongkrong. Kafe. Rumah. Mal. Atau bahkan di tempat-tempat tertentu yang memiliki fasilitas Wi-Fi kencang dan mumpuni. Dengan laptop, bisnis melalui internet pun bisa langsung tancap gas. Tinggal klik sana. Klik sini. Kirim surat ke klien, kasih konfirmasi ke kolega. Bahkan pesan bahan makanan untuk kita bikin bisnis kuliner pun sudah bisa.

Kebetulan keluarga suami ibu tersebut berasal dari Solo. Ibu itu pun sudah sejak dulu sering mengamati batik-batik yang ada di Tanah Abang maupun di pusat perbelanjaan lainnya. Semua aktivitas itu membuat sang ibu menjadi paham seluk-beluk batik tulis. Dan menurut dia, batik semacam itu harganya sangatlah mahal. Mengapa bisa jadi mahal? Itu karena batik tulis adalah kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan cara menuliskan atau menerakan malam (lilin) pada kain. Kemudian, pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Proses menerakan malam (lilin) tersebut menggunakan alat yang disebut canthing. Nah karena namanya batik tulis, proses pembuatannya pun benar-benar menggunakan tangan seperti layaknya orang menulis. Hasil pekerjaan membatik inilah yang kemudian yang disebut Kain Batik Tulis.

Ibu itu bernama Oline. Kini, Ibu Oline menikmati apa yang dulu dia mulai. Perjalanan memulai bisnis butik batik itu sudah ia jalani selama 1,5 tahun. Semua pendapatannya kini meningkat. Penghasilannya kini mulai stabil. Bahkan, melebihi gaji ketika ia bekerja di perusahaan lamanya dulu. Semua jejaring bisnis ia mulai dari online. Mulai membangun laman, jejaring pertemanan dan klien, pelanggan, hingga pabrik batik.

Girls, memang benar bahwa nantinya kamu akan menjadi seorang ibu. Tapi sebelum menjadi seorang ibu, pernahkah kamu berpikir bahwa saat terbaik untuk memulai sebuah bisnis adalah ketika kamu sebelum memiliki anak? Ada beberapa ibu juga menjawab, “Kan aku sudah punya anak. Bagaimana bisa mengatur waktu untuk bikin usaha baru?”

Justru itu. Ternyata, wanita pengusaha (women entrepreneur) memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi sukses. Menurut studi yang dilakukan Kauffman dan Dow Jones Company, bisnis patunan yang dipimpin oleh wanita biasanya menghasilkan 12% pendapatan lebih tinggi daripada dipimpin pria. Mengapa bisa begitu? Itu karena seorang ibu justru memiliki keterampilan jauh lebih besar untuk sukses sebagai entrepreneur. Wanita dalam berbisnis di era sekarang bukanlah hal yang tabu lagi.

Nah, bagi kamu yang ingin tahu seperti apa sih ciri atau bakat alami yang bisa diasah/digali dari seorang mompreneur, coba disimak penjelasan berikut ini.

Mampu bekerja di bawah tekanan

Untuk diketahui, seorang ibu adalah mahluk yang mampu bekerja di bawah tekanan. Bahkan ibu juga mampu menangani beberapa pekerjaan sekaligus. Tapi bukan berarti seorang ibu tidak akan bisa marah lho ya! Dan tidak semua ibu juga mampu menangani semua pekerjaan rumah tangga sekaligus. Ibu juga manusia. Tapi mestinya dari seorang ibulah kita bisa bertanya hal sederhana, “Mah, kenapa mamah kok tidak pernah mengeluh ya urus anak-anak?”

Seorang ibu memiliki banyak sekali tugas yang harus diselesaikan sekaligus. Misalnya, ketika adik kamu yang masih balita harus dibuatkan makan pagi, dan kamu yang masih kuliah masih harus disetrika baju oleh mama kamu. Kamu takut terlambat kuliah sementara mama kamu sibuk memakaikan baju untuk si balita. Atau, kamu terlambat ujian di sekolah karena buku belum disiapkan, sementara mama kamu lagi sibuk membuat sarapan pagi untuk sekeluarga. Percayalah, jika seorang ibu mampu mengerjakan semua urusan rumah tangga yang super ribet, profesi entrepreneur adalah adalah pekerjaan yang paling mudah di dunia.

Keterampilan bernegosiasi

Pernah melihat seorang tenaga marketing yang kesulitan menjual produk ke pelanggan potensial atau menegosiasikan kesepatakan? Jika bagi kamu itu mungkin sulit dilakukan, cobalah untuk menjual sayur ke seorang anak keras kepala yang usianya sekitar lima tahun. Anak-anak adalah seorang negosiator ulung. Seorang ibu adalah ‘penakluknya’. Ibu yang sering menghadapi anak-anak yang keras kepala pasti menemukan cara yang tepat, bahkan brilian, untuk agar anaknya bisa dan mau makan sayuran. Bagi seorang ibu, closing the deal pada orang dewasa masih tampak lebih mudah daripada ‘bernegosiasi’ dengan anak-anak. Ketajaman bernegosiasi dan berlatih setiap hari membuat mompreneur semakin termungkinkan di era digital.

Kreativitas dan kemampuan untuk mengumpulkan dana

Sebagai seorang entrepreneur dengan sumber keuangan yang minim, sangat penting untuk memiliki kemampuan untuk mengembankan strategi kreatif, menjalin koneksi, dan mengumpulkan sumber daya orang-orang di sekitarnya. Dan sebagai seorang ibu, kamu pasti terbiasa untuk meminta bantuan dan nasihat dari teman-teman, keluarga, dan bahkan orang yang belum dikenal di wilayah tetangga. Bahkan seorang ibu pun memiliki relasi pertemanannya sendiri. Dalam relasi pertemanannya itu, seorang ibu biasanya bertanya apa pun. Dari harga beras satu kilogram hingga biaya di rumah sakit untuk anaknya yang dirawat demam berdarah (misalnya).

Seorang ibu pasti sering bertanya ke tetangganya mengenai hal-hal seperti ini, “Bu, beli di mana penyemprot nyamuk segitu murah?” atau “Beli di mana ya perlengkapan bayi secondhand yang bagus?” Jika kamu cermat, bertanya adalah esensi dari seorang entrepreneur, dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk bertanya. Keberanian untuk bertanya adalah modal pertama mompreneur untuk bisa meraih dana awal untuk buka usaha. Itu karena bertanya ke sana-sini adalah keterampilan seorang ibu di keluarga kecilnya. Dengan banyak bertanya, bukan tidak mungkin ibu memimpin sebuah usaha yang proses pembentukannya mirip seperti merawat seorang anak. Jadi, jangan heran kalau kamu melihat sebuah perusahaan besar dipimpin seorang wanita/ibu.

Kesampingkan ego

Entrepreneur terbaik adalah mereka yang cerdas, banyak dan panjang akal, serta bekerja keras. Tapi jangan salah, ketika seseorang memiliki kecerdasan seperti ini, orang menjadi terlampau sombong, ambisius, bahkan bersikap menjengkelkan. Bagi seorang ibu, sebagai orang yang mengelola (keuangan) keluarga, tahu betul bahwa menjadi pintar bukan berarti menjadi benar. Dengan watak yang sama, seorang ibu memang cerdas, banyak akal, dan kerja keras. Seorang ibu bahkan mampu membaca saat-saat memenangkan argumen, bhkan argumen anak dan suami sekalipun. Ada juga saat-saat untuk mundur apabila bisa berujung pada kepentingan jangka panjang yang lebih baik, misalnya mengalah agar anak bisa memperoleh uang jajan dari ayahnya. Mampu mengesampingkan ego, sambil tetap mengelola bisnis dengan baik, adalah strategi utama ketika kamu ingin membuat orang-orang di sekitar mendukung usaha yang kamu buat. Seorang ibu mampu mengesampingkan ego, dan mungkin dia jugalah orang yang bisa berkembang menjadi mompreneur yang baik.

Terlatih menghadapi hari-hari terburuk

Ada banyak pendiri startup menggambarkan bahwa kehidupan entrepreneur ibarat roller coaster. Suatu hari ada masa-masa ketika rumah tangga mengalami surplus keuangan. Dengan begitu seorang ibu mampu mengalokasikan keuangannya pada hal yang lain. Tapi ada juga masa-masa ketika rumah tangga benar-benar tidak memiliki dana sama sekali, bahkan uang tunai. Ibu pun pasti akan memutar otak agar anak-anak bisa makan. Sesusah apa pun itu. Entrepreneur selalu memilki pilihan untuk menyerah. Tapi bagi seorang ibu, tidak ada kata “menyerah” dalam kamusnya. Mompreneur yang sukses adalah seorang ibu yang tidak mudah menyerah pada kondisi.

Nah jika mompreneur terlatih menghadapi hari-hari terburuknya, bukan tidak mungkin suatu perusahaan akan bisa mengalami kesuksesan jika dipimpin seorang ibu. Itu adalah hari-hari terbaiknya. Okay girls, apakah kamu pernah tidak percaya diri untuk bikin sebuah bisnis demi sebuah minat? Coba kamu pikir lagi, anak-anak yang super nakal mungkin tidak akan ada bandingnya jika menghadapi riuhnya profesi CEO. Wanita dalam bisnis bukanlah hal yang buruk. Ayo Mam, jadilah mompreneur!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama