Hal yang Perlu Anda Ketahui dari Proyek Crowdfunding

Pernah dengar istilah "Crowdfunding"? Ini adalah terminologi yang makin santer terdengar di jagat pengusaha kecil dan pebisnis. Mari, kita kenalan agar jago dalam hal membuka bisnis (startup business).

Kegiatan crowdfunding adalah salah satu cara yang cukup populer di kalangan para pengusaha/wirausaha (entrepreneur) dalam memperolah dana untuk mengembangkan sebuah ide atau gagasan. Apa pun idenya. Namun sayangnya, tidak semua proyek crowdfunding yang ada pada sebuah laman internet, seperti Kickstarter atau pun Indiegogo, bisa meraih kesuksesan. Bahkan tidak jarang proyek-proyek tersebut akhirnya terbengkalai karena tidak berhasil mendapatkan dana yang cukup. Alhasil, ide yang brilian sekalipun kadang harus berakhir di tengah jalan.

Istilah crowdfunding pertama kali dijelaskan oleh Sullivan. Namun sebenarnya istilah dan konsep crowdfunding diambil dari istilah serupa yang sudah lebih dulu dikenal luas, yaitu crowdsourcing. Sedangkan istilah crowdsourcing itu sendiri sebelumnya telah disebutkan oleh Howe dalam sebuah artikel dari Wired Magazine edisi Juni tahun 2006. 

Perbedaan mendasar dari kedua istilah tersebut (crowdsourcing dan crowdfunding) adalah keduanya sama-sama memanfaatkan internet dan media sosial sebagai perantara ke masyarakat luas, namun hasil yang diharapkan adalah tujuan yang berbeda. 

Crowdsourcing mengharapkan umpan balik, ide-ide, dan saran untuk kepentingan proyek, sementara crowdfunding dimanfaatkan untuk mengumpulkan dana demi terlaksananya suatu proyek. 

Crowdfunding melibatkan panggilan/penawaran terbuka, sebagian besar melalui Internet, untuk penyediaan sumber daya keuangan baik dalam bentuk sumbangan atau bentuk penghargaan tertentu dan/atau hak jajak suara.

Dalam istilah Bahasa Indonesia, kita sudah sering mendengar nama lain dari crowdfunding ini, yaitu Gotong-Royong dana.

Dalam sebuah laman crowdfunding, nama yang tenar juga bukanlah jaminan agar bisa memperoleh banyak pendukung. Kita bisa ambil contoh sebuah perusahaan penciptaan peranti lunak Canonical, yang beberapa bulan lalu meluncurkan Ubuntu Edge. Proyek gotong-royong dana Ubuntu Edge tersebut gagal karena dana yang terkumpul ternyata tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Padahal, nama perusahaan tersebut, Canonical, sudah dikenal di masyarakat Ubuntu di dunia.

Untuk crowdfunding, segala macam ide bisa diwujudkan. Misalnya film. Film Indonesia pertama yang menggunakan sistem crowdfunding untuk proses post-produksinya adalah Demi Ucok. Setelah 7 (tujuh) bulan mensosialisasikan program mencari co-produser, film ini sukses mengumpulkan dana sebesar Rp 251.487.400. Ada lagi sebuah proyek kreatif dari Wujudkan.Com. Laman ini menampilkan dua proyek kreatif yang layak didanai dari gotong-royong dana, yaitu sebuah album musik untuk anak-anak dari Popzzle dengan judul Tribute to Ibu Soed, dan sebuah film layar lebar karya Riri Reza dan Mira Lesmana yang sudah tayang beberapa pekan lalu, yaitu Atambua 39 Derajat Celsius. Luar biasa kan?

Dalam melaksanakan kegiatan gotong-royong dana, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.

Produk atau ide yang benar-benar menyelesaikan masalah

Produk yang ingin dihadirkan dalam proyek gotong-royong dana harus benar-benar diciptakan untuk menyelesaikan masalah. Atau, dalam hal film, pastikan film yang dibuat dari aktivitas penggalangan dana ini benar-benar mengangkat kisah yang berbeda dari cerita film kebanyakan. Ide dalam cerita tersebut akan dijadikan referensi solusi untuk masyarakat tertentu lainnya (dalam hal ini suku Batak). Di sini dituntut keahlian berkomunikasi. Tujuannnya agar kita dapat mengomunikasikan ide itu kepada para calon penyandang dana crowdfunding.

Dalam membuat sebuah produk yang dikampanyekan di situs crowdfunding, seorang pemilik ide biasanya melandaskan ide tersebut pada pengalaman pribadinya. Sebuah pengalaman pribadi biasanya akan sangat menarik perhatian publik.

Jangan sepenuhnya mengandalkan uang dari gotong-royong dana

Sebuah laman internet pengumpulan dana gotong-royong dana (crowdfunding) jangan sepenuhnya menjadi tempat utama dalam menggalang dana untuk membuat sebuah produk. Idealnya, tim yang kita bentuk harusnya sudah terlebih dahulu menyiapkan dana awal sebelum mengampanyekan proyek gotong-royong dana (crowdfunding) yang ingin dijalankan. Dana awal tersebut bisa digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya menyewa kantor atau pengembangan ide.

poster film Demi Ucok.

Cerita di balik proyek gotong-royong dana

Sebuah produk yang benar-benar bermanfaat bukan menjadi satu-satunya daya tarik dalam sebuah proyek gotong-royong dana (crowdfunding). Hal utama dari kampanye gotong-royong dana adalah untuk menarik minat para calon penyandang dana agar menyuntikkan dananya kepada Anda. Cerita yang dimaksud di sini adalah kita perlu membuat sebuah alur jelas tentang bagaimana proyek tersebut nantinya bisa berdampak kepada masyarakat. Bagaimana sebuah film hasil crowdfunding kita bisa menjadi sebuah fillm yang benar-benar melekat di hati masyarakat. Bahkan tidak mungkin untuk meraih penghargaan. Fokuskan narasi kita pada human interest.

Berikan apresiasi kepada para pendukung proyek

Setiap manusia tentu ingin mendapatkan apresiasi. Apa pun bentuknya. Entah ciuman. Pelukan. Piala penghargaan sebagai insan perfilman. Bahkan, ucapan “terima kasih” sekalipun. Hal yang sama juga berlaku pada para penyandang dana proyek gotong-royong dana itu (crowdfunding). Cara pemberian apresiasi pun cukup sederhana. Kita bisa merespon setiap komentar ataupun pertanyaan mengenai proyek yang tengah dibuat. 

Sebagai pemilik ide, kita juga bisa memberikan hadiah kecil berupa kaus t-shirt, stiker, pin, atau ucapan terima kasih pada penyandang dana tersebut. Dalam hal contoh kasus film Demi Ucok, sebagai bentuk apresiasi terhadap co-pro, tim produksi film memberikan reward dengan mencantumkan nama-nama mereka di credit title dan poster film. Bangga kan kalau nama kita bagian dari film tersebut?

Pertimbangkan dan cermati setiap saran dari para pendukung

Kegiatan crowdfunding tidak selulu tentang uang. Ketika akan menjalankan proyek crowdfunding, kita juga harus mempertimbangkan saran, kritik, dan komentar (feedback) yang diberikan para penyandang dana untuk produk kita. Tidak jarang bahwa saran yang diberikan malah akan lebih berharga dibanding dengan uang yang telah dikumpulkan. Namun, kita jangan lupa juga pada visi dari ide yang akan kita buat.

Nah, sudah siap untuk bikin proyek yang bagus?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama