Bikin Bisnis Bareng Teman? Bisa Enggak Sih?

Yuk, cari partner bisnis setia kita? Ini dia yang harus diperhatikan kalau bikin bisnis bareng sahabat. Check it out!

  1. bervisi sama
  2. buat komitmen tertulis
  3. berbagi pekerjaan
  4. jujur dan terbuka

Coba bayangkan, membangun bisnis dengan teman? Enak ya, bisa sejalan dengan partner bisnis dengan teman? Membangun bisnis dengan sahabat kadang menghasilkan sesuatu yang besar. Tengok saja pendiri Google; Larry Page dan Sergey Brin. Dua sahabat itu bikin Google raja mesin pencari terfavorit sepanjang masa. Pertemanan mereka membuat karya yang membantu banyak orang.

Eiitss, jangan salah, tidak sedikit pertemanan menjadi retak hanya karena bisnis. Larry Page dan Sergey Brin adalah contoh yang harus kita panut. Tapi, ada juga yang tidak sesukses itu. Pepatah bilang, “Lebih baik punya teman dari bisnis, ketimbang berbisnis dengan teman.” Subjektif memang, tapi itu menggambarkan bahwa partner dalam bisnis bisa menyulitkan, tapi bisa juga membantu.

Sobat GoGo pasti penasaran, seperti apa sih partner bisnis yang setia itu? Yuk, lihat.

1. Bervisi sama

Partner yang bervisi sama dengan kamu pasti akan memudahkan arah pengembangan bisnis. Tapi, bagaimana kita tahu dia punya visi yang sama? Coba deh lakukan pendekatan personal, juga intens dalam berdiskusi. Komunikasi adalah satu-satunya jalan untuk mengetahui cara berpikirnya. Pastikan partner kita itu bervisi sama selama bisnis berjalan baik.

2. Bikin komitmen tertulis ya!

Nah, partner kamu sudah bervisi sama? Coba bikin perjanjian sebagai tanda komitmen bersama. Semacam perjanjian hitam di atas putih. Itu tanda kamu dan partner serius dalam bisnis. Eh, jangan lupa juga bikin perjanjian pembagian hasil.

3. Berbagi pekerjaan

Bisnis yang baik dan bagus dikelola dengan orang yang paham tugas masing-masing. Pastikan nih partner kamu sudah punya pembagian tugas masing-masing, termasuk orang-orang di bawahnya. Misalnya, kamu dan partner bikin usaha butik sepeda fixie. Kamu bagian fellowship customer product, sedang partner kamu di bagian marketing and sales.

4. Jujur dan Terbuka

Gimana ya jadinya jika kamu dan partner bisnis berhenti di tengah jalan? Aduh, enggak kebayang deh. Mungkin ada yang lupa tuh! Coba deh omongin pembagian aset dan pertanggungan kerugian. Mungkin itu masalahnya. Komunikasikan itu dari awal, jujur, dan terbuka.

Nah, kamu bisa nambahin deh apa yang penting menurut kamu. Satu lagi nih, cermat dan berpikir terbuka juga harus lho!

*source image: http://www.theguardian.com/media/2008/jul/14/media...

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama