Bedug, Bisnis yang Ramai di Idul Fitri

Tak terasa Idul Fitri sebentar lagi. Bagi Anda yang merayakan di kampung, jangan lupa jaga keselamatan. Bagi Anda pedagang bedug, inilah waktunya untuk menuai berkah.

Idul Fitri tinggal beberapa hari lai. Tak terasa, kita yang menunaikan puasa seperti waktu berlalu begitu saja. Ada banyak kesalahan yang kita lakukan. Ada banyak kelakukan kita yang menyinggung perasaan orang lain. Tidak sedikit dari kita yang marah-marah tidak jelas kepada atasan, kepada bawahan, bahkan kepada office boy di kantor kita pun tidak lepas dari sasaran kemarahan kita.

Sekadar mengingatkan, menjalani puasa tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menahan godaan marah dan emosi yang berlebih di dalam jiwa kita. Itu adalah latihan spiritual yang bagus di masa puasa ini, dan Lebaran adalah masa kemenangan melawan itu semua. Dan pada Lebaran pula kita harus senantiasa memberikan zakat kepada orang yang tidak mampu. Itu adalah kewajiban.

Di malam takbiran Idul Fitri, pasti akan kurang meriah apabila tidak dilengkapi dengan bunyi pukulan irama. Sebuah dentuman khas bedug yang diarak keliling kampung atau jalanan di dekat rumah. Anak-anak pasti memukul bedug dengan irama yang mereka suka. Ada yang dengan irama beraturan, bahkan ada yang memukul dengan irama yang tidak jelas. Ukuran bedug pun bermacam-macam. Ada yang kecil, dan ada yang lumayan besar. Bahkan ada yang sangat besar.

Nah, di masa kemenangan nanti, ada satu profesi yang benar-benar mereguk keuntungan dan meraih berkah di hari raya. Mereka adalah pedagang bedug.

pedagang bedug di Tanah Abang

Mau cari bedug? Coba cari di Tanah Abang

Umumnya, jika Anda hendak membeli bedug untuk masjid atau alat tabuh di hari raya dan malam takbiran, cobalah beli di Pasar Tanah Abang. Di sana ramai pedagang bedug. Menurut penelusuran saya, di sana bedug dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari harga Rp. 150.000 hingga Rp. 500.000. bahkan Anda pun bisa memesan bedug dengan pesanan sendiri (custom).

Jadi jangan heran, hampir setiap tahun di bulan Ramadhan, sepanjang Jln Kiai Haji (K.H.) Mas Mansyur atau yang lebih dikenal dengan kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, selalu dikunjungi dengan konsumen yang khusus mencari bedug. Kawasan ini selalu ramai dengan berbagai penjual bedug dengan berbagai ukuran. Sangat bervariatif.

Namanya Asep. Ia adalah salah satu pedagang bedug di sana. Dengan usianya yang kini beranjak 45 tahun, ia sudah cukup lama berdagang di sana. Sekitar 20 tahun. Dan tiap tahun itu pula ia bersyukur bisa meraih berkah di bulan Ramadhan. Ayah tiga orang anak ini membuat aneka macam bedug di atas panggung bambu yang dibuatnya. Panggung bambu itu ia buat untuk menaruh aneka bedug, dibuat dua orang temannya.

pedagang bedug dengan bahan dasar kulit kambingBahan dasarnya apa sih?

Dalam memproduksi bedug, bapak tua ini memperoleh bahan-bahan dari berbagai tempat. Bahan dasarnya adalah kulit kambing, sebagai alas bedug, ia pesan dari tukang jagal kambing dengan harga Rp. 50.000 per kulit. Lalu kulit kambing itu ia jemur hingga kering. 

Kulit kambing tersebut ia jemur bertujuan untuk menghilangkan bau kambing yang khas tersebut. Jika hari sedang cerah, kulit kambing tersebut dijemur di bawah sinar matahari selama satu hari. Tapi kalau hari sedang tidak cerah, penjemuran membutuhkan waktu dua hari.

Mengapa harus kulit kambing? Menurut bapak ini kulit kambing memiliki tekstur yang berbeda dibandingkan kulit kerbau atau sapi. Suara yang dihasilkan pun berbeda. Dentuman kulit kambing menurutnya lebih enak terdengar dan mampu bersuara membahana.

Bahan dasar kedua adalah tong atau drum. Tong atau drum ini bisa didapat di daerah Bekasi. Asep bisa mendapatkan tong atau drum ini dengan kisaran Rp 50.000 hingga Rp 150.000. Harga itu pun bervariatif sesuai dengan ukuran.

Selain itu, bahan lain yang tidak kalah penting dan menjadi ciri khas bedug milik Asep ini adalah ada dua kaki sebagai penyangga bedug. Penyangga itu terbuat dari bambu kuning besar. Inilah yang menjadi ciri khas bedug buatannya. Harga kaki bambu itu pun bervariasi. Untuk kaki penyangga bedug versi kecil, ia membanderol dengan harga Rp. 100.000, dan untuk yang besar ia jual dengan harga Rp. 200.000.

Tidak jarang ia juga malah harus menjual produk bedugnya lebih murah dibawah harga yang ditawarkan karena banyaknya pembeli yang menawar bedugnya tersebut.

Di bulan Ramadhan apa benar dapat ‘berkah’?

Menurut dia, biasanya pembeli mulai ramai menjelang Lebaran atau pada H-1 Lebaran. Biasanya konsumen membeli untuk malam takbiran. Tidak jarang juga pengurus masjid juga membeli bedug buatan Kang Asep.

Dari setiap bedug yang berhasil ia jual, Asep mengambil keuntungan dari kisaran Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000, dan hasil yang ia dapat pun juga dibagi lagi bersama dua teman lainnya. Dibanding jualan sayur, jualan bedug paling menguntungkan. Tapi ia bersyukur bisa menjalani ini karena bisnis bedug adalah bisnis musiman yang cuma setahun sekali.

Menurut pengalamannya yang sudah bertahun-tahun berdagang bedug di bulan Ramadhan, pembeli yang sudah biasa dengan bedug dan cara membuatnya sudah pasti tahu harga dan tidak akan berusaha menawar. Itu karena proses membuat bedug memang tidak mudah.

Setiap keuntungan yang ia peroleh dari berjualan bedug, ia mengaku menggunakannya untuk membeli beberapa hal agar dirinya dan sekeluarga bisa turut merayakan hari raya Idul Fitri. Karena ia sudah lama merantu ke Jakarta, ia berusaha untuk mengajak anak dan istrinya jalan-jalan ke Taman Mini atau tempat rekreasi lainnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Di kampung ia sudah tidak bisa lagi mencari nafkah. Kondisi perekonomiannya terlalu sulit.

Selain merayakan Idul Fitri dengan kesederhanaan, pak tua pedagang bedug itu selalu berusaha membelikan anak-anaknya baju baru dan ketupat. Berkah ternyata meliputi keluarga ini.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama