Tarif Dasar Listrik Naik! Lakukan 3 Hal Ini

Tarif dasar listrik rumah tangga naik, anggaran rumah tangga pun naik. Bagaimana cara mengatasinya? ikuti 3 kiat sederhana berikut ini

Tarif dasar lisrik naik per 1 Desember 2015, pelanggan listrik untuk golongan rumah tangga 1.300 VA dan 2.200 VA harus membayar tarif lebih mahal. Pasalnya, tarif dasar listrik untuk R-1 1300 VA dan 2.200 VA dinaikkan sekitar 10 persen dari sebelumnya Rp 1.352 per kWh menjadi Rp 1.509 per kWh.

Kedua golongan rumah tangga tersebut mengalami tarif penyesuaian. Penyesuaian tarif listrik disesuaikan berdasarkan 3 indikator yaitu perubahan nilai tukar mata uang Dollar AS terhadap mata uang Rupiah, harga minyak dan inflasi bulanan. 

Tarif penyesuaian listrik ini memungkinkan untuk turun, tetap, atau naik berdasarkan ketiga indikator tersebut. Selama ini pemerintah masih melakukan subsidi listrik untuk beberapa golongan rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin dan hampir miskin. Untuk per 1 Januari 2016 nanti untuk golongan rumah tangga 450 VA dan 900 VA tidak disubsidi lagi. 

Tanpa Anda sadari sebenarnya selama ini kita sudah dimanja dengan tarif listrik yang disubsidi. Dalam pemakaian listrik kerap kali kita mengabaikan besarnya energi yang kita gunakan sehingga tagihan listrik melonjak. 

Banyak orang teriak “listrik mahal” tetapi sebenarnya jika Anda perhatikan tarif listrik subsidi termasuk murah.

Tetapi bagaimana jika tarif listrik sudah tidak disubsidi lagi, pasti tagihan akan lebih mahal jika Anda tidak terbiasa menghemat pemakaian listrik sehari-hari. Anda bisa memulai dari sekarang merubah kebiasaan pemakaian listrik.

Kami memiliki kiat cerdas dalam menghadapi kenaikan tarif dasar listrik simak penjelasan dibawah ini.

Kiat Menghadapi TDL yang Naik

Nah, untuk mengimbangi tarif dasar listrik yang naik hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah melakukan evaluasi terhadap penggunaan listrik rumah tangga. Tiga kiat dibawah ini dapat Anda terapkan mulai dari sekarang.

1. Gaya Pemakaian Listrik

Sebelum tarif listrik naik bagaimana gaya pemakaan listrik sehari-hari? Jika tergolong boros maka harus Anda evaluasi kembali. Jika sebelumnya Anda terbiasa menyalakan TV untuk menemani tidur ataupun siang hari tetap menyala tetapi tidak ditonton, kebiasaan ini jelas harus dihilangkan.

Ataupun kebiasaaan mengonsumsi nasi yang selalu hangat sehingga Magic Jar selalu menyala seharian penuh, Anda bisa mengganti dengan menghangatkan nasi menggunakan kukusan di kompor ketika mau makan.

Jika Anda terbiasa menyalakan AC di ruangan yang tidak sedang digunakan? Tentunya ini harus dirubah, gunakan pendingin ruangan seperlunya seperti jika mau tidur saja. Nah, dengan Anda merubah kebiasaan-kebiasaan tersebut akan sangat membantu menurunkan konsumsi listrik di rumah. 

Ingat, merubah perilaku kita dalam memakai listrik sangat besar efeknya terhadap tagihan setiap bulannya.

2. Jumlah Peralatan Listrik yang Digunakan

Berapa jumlah peralatan listrik Anda di rumah? Apakah Anda memiliki lebih dari satu TV? Atau dalam satu ruangan lebih dari satu lampu untuk penerangan? Jumlah peralatan tersebut bisa lebih diefisiensikan. Usahakan jumlah peralatan listrik tidak melebihi dari yang diperlukan.

Jika tidak terlalu dibutuhkan tidak perlu ada dua TV dalam satu rumah, mungkin menonton TV bersama di ruang keluarga bisa menjadi pilihan. Ataupun jika biasanya untuk menerangi satu ruangan Anda menyalakan beberapa lampu sekaligus, bisa dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah lampu dalam satu ruangan

Hukumnya semakin sedikit peralatan listrik yang kita gunakan, semakin sedikit tagihan listrik kita nantinya bukan?

3. Tingkat Efisiensi Peralatan Listrik yang Digunakan.

Kiat terakhir adalah perhatikan tingkat efisiensi penggunaan listrik Anda. Dulu ketika Anda membeli peralatan listrik, lampu misalnya, tidak terlalu mempertimbangkan besaran WATT-nya, yang diperhatikan adalah seberapa terangnya, estetika atau bahkan sekedar karena harganya murah.

Anda bisa membeli peralatan listrik yang berlabel hemat energi. Contohnya lampu, lampu-lampu pijar yang boros energi harganya memang jauh lebih murah dibandingkan dengan lampu LHE atau lampu LED. Tetapi lampu LHE atau LED tidak boros listrik.

Saat tarif dasar listrik naik Anda harus memperhatikan efisiensi peralatan listrik yang digunakan. Efisiensi daya berarti penghematan daya listrik, berarti pula tagihan listrik yang lebih kecil. ketika subsidi sudah dicabut seperti saat ini, waktunya kita berhitung kembali pilihan manakah yang lebih bijak: lampu murah boros listrik atau lampu “mahal” tapi hemat listrik.

Kita dapat mengambil hal baik dari kenaikan tarif dasar listrik yaitu Anda akan berlatih untuk menghemat pengunaan energi. Jika kita berhemat maka biarpun tarif dasar listrik naik Anda tidak akan terbebani dengan anggaran yang membengkak.

Baca juga: Mana Lebih Hemat: Listrik Prabayar atau Pascabayar?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama