Tabungan Bersama Pasutri, Pentingkah?

Banyak hal harus diselaraskan setelah menikah. Termasuk soal uang yang sangat sensitif. Perlukah pasutri menggalang tabungan bersama? Mari kita bahas.

Uangmu adalah uangku, uangku? Ups, nanti dulu! Itu guyonan yang sering terlontar saat membahas uang bersama pasangan suami istri alias pasutri. Ya, guyonan itu sering terlontar terutama dari mulut ibu-ibu saat berkumpul bersama.

Wajar jika muncul guyonan seperti itu. Pemahaman yang berkembang ditengah masyarakat selama ini memang laki-lakilah yang lebih bertanggung jawab menafkahi keluarga. Hukumnya wajib bagi kaum Adam.

Tabungan bersama pasangan

Sebaliknya, perempuan hanya bersifat membantu atau berperan sebagai pelengkap. Sifatnya, sunah. Dia bisa bekerja jika kondisi memaksa atau memang dia sendiri ingin bekerja.

Pemisahan peran tersebut, lazim terjadi pada kelas menengah. Pasutri kelas bawah boro-boro sempat memikirkan hal tersebut. Bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah syukur. Bisa membayar listrik, sewa rumah, sekolah anak-anak tepat waktu saja sudah alhamdulillah.

Pasutri kelas bawah sering bahu membahu menutup kekurangan dengan bekerja serabutan tanpa sempat berpikir ini uang siapa itu uang siapa. Nah, pasutri kelas menengah dan terpelajar lebih tertata.

Bahkan, mereka mempersiapkan risiko terburuk jika sesuatu tidak diinginkan terjadi. Bagaimana jika cerai, misalnya. Mereka berpikir jauh ke depan. Termasuk, merancang anggaran dan belanja keluarga demi menjaga kestabilan bersama.

Diam Tidak Selalu Emas

Mengatur setiap rupiah uang yang dibelanjakan bersama sudah menjadi pemikiran keluarga muda dari kalangan menengah. Kendati, banyak juga yang tidak mau berpikir ribet soal ini.

Rata-rata mereka yang tak mau ribet lebih cenderung menghindar dari sesuatu yang sangat sensitif. Bukan rahasia lagi, soal uang bisa jadi pemicu konflik keluarga. Nah, daripada ribut, banyak pasutri memilih tutup mata terkait keuangan.

Mereka enggan secara terbuka membahas soal ini. Sang istri menerima saja berapa pun suami memberi jatah bulanan kepadanya. Apalagi, jika dia sendiri juga bekerja. 

Dalam diam, istri akan nombok kekurangan segala kebutuhan keluarga dari gajinya. Sederhana, toh itu pengeluaran bersama, demi keluarga, untuk apa sih itung-itungan? Romantis sekali kedengarannya.

Sebaliknya, sang suami hanya menyimpan dalam diam segala keheranan terkait keuangan. Kok, begini sih? Kok, cepat habis, sih? Kok, nggak pernah cukup, sih

Segala kok hanya berpusing di dalam pikiran, tak pernah terucapkan, atas nama stabilitas keluarga.

Pertanyaannya, akan sampai kapan bersikap seperti itu? Jika tidak ada masalah serius, mungkin situasi masih damai-damai saja. Namun, apa jadinya jika kasus makin kompleks? 

Bukankah segala kebutuhan juga makin meroket? Budget untuk berbagai keperluan keluarga pun membengkak.

Masih kuatkah terus diam, demi harmonisasi semu? Masih kuat menahan perasaan, demi romantisme tak perlu? Ingat, diam tak selalu emas. Diam, bahkan ibarat menyimpan bom yang siap meledak kapan saja.

Ayo, Open Minded

Bagaimana pun terbuka dalam segala hal adalah lebih baik katimbang menyimpannya untuk alasan apa pun. Zaman makin berkembang dan segala sesuatu membutuhkan komunikasi lebih baik. Termasuk soal uang.

Akan lebih bijak jika sejak awal pasutri open minded terhadap segala sesuatu. Termasuk, kesepakatan jelas soal keuangan keluarga. Tentang mekanisme, tentu saja, disesuaikan kebutuhan dan seberapa nyaman mekanisme tersebut bisa dijalankan.

Tabungan bersama misalnya, bisa dipilih metode apa paling nyaman. Selama ini kita mengenal dua model rekening pasutri dengan plus minusnya masing-masing, yakni Joint OR dan Joint And.

Joint OR merupakan rekening pasutri yang bisa dikendalikan oleh istri atau suami, baik dalam mengisi atau mencairkan dana. Joint And lebih merepotkan. Sebab, transaksi hanya bisa dilakukan jika suami dan istri sama-sama menandatangani persetujuan transaksi.

Terkait Joint And, pihak bank pun akan makin rewel jika jumlah dana yang terhimpun pada rekening bersama tersebut makin banyak. Pihak bank harus ekstra hati-hati untuk memastikan jika rekening bersama tersebut benar-benar dioperasikan oleh pihak tepat.

Pasutri yang memilih metode Joint And diwajibkan untuk sabar dan telaten. Jika tidak, jangan pernah memilih model satu ini. 

Nah, model tabungan bersama seperti apa diinginkan, diskusikan bersama pasangan. Satu yang pasti, apa pun model yang dipilih, syarat utamanya adalah kejujuran, keterbukaan, dan kepercayaan.

Rekening Tabungan Bersama

Tabungan Konvensional Plus Deposito

Apa pun pilihannya selalu ada plus minusnya. Jika rekening bersama dirasa ribet, bagaimana dengan tabungan konvensional? Baik suami atau istri mengeluarkan dari rekening masing-masing sejumlah dana sama besar dari gaji setiap bulan. 

Besaran dana tentu sesuai kesepakatan, berangkat dari total kebutuhan setiap bulan plus dana darurat.

Dana itulah yang akan dipakai untuk keperluan rutin bulanan seperti belanja bulanan, membayar tagihan listrik, air, bayar sekolah, dana hajatan, dan lain sebagainya. Jika dana darurat tidak keluar dalam sebulan, dana tersebut bisa dibiarkan mengendap sebagai tabungan.

Langkah selanjutnya jika situasi keuangan stabil dan dana darurat terkolek makin besar, alihkan ke dalam deposito. Ada dua keuntungan diraih jika memilih metode deposito, tetap mengamankan pengeluaran sekaligus bisa menabung.

Dari berbagai produk deposito yang ditawarkan, bisa dipilih deposito dengan jangka waktu dan tenor sesuai keinginan. Tentu saja harus diteliti mendetail bunga kompetitif yang ditawarkan masing-masing bank. 

Dengan begitu, bisa dioptimalkan besaran bunga yang bisa dioperasionalkan sebagai penyangga kebutuhan rutin bulanan.

Ingin memastikan seberapa besar dana dan bunga bisa diraih lewat investasi deposito? Manfaatkan kalkulator KreditGoGo. Jika bisa dipermudah, mengapa memilih yang sulit?

#InvestasiTabungan

Baca juga: Cara Ampuh Jalan-Jalan Low Budget ke Luar Negeri
Jokowi Tetapkan 31 Oktober Jadi Hari Menabung Nasional

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama