Floating Interest Rate. Apa risikonya?

Apa sih floating interest rate ? Disini kami akan menjelaskannya secara gamblang agar Anda bisa teliti sebelum memulai cicilan dengan suku bunga floating.

  1. floating rate hanya dikenankan untuk kredit rumah
  2. apa bedanya dengan suku bunga lainnya?

Banyak orang yang kebingungan dengan istilah Floating Interest Rate. Dalam bahasa Indonesia disebut juga sebagai suku bunga yang mengambang. Maksudnya adalah besarnya suku bunga yang berlaku dapat berubah-ubah tergantung dari iklim perekonomian Indonesia dan bunga antar-bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia

Floating Rate hanya dikenakan untuk kredit rumah

Biasanya ini akan berlaku untuk KPR (Kredit Pemilikan Rumah) saja. Jadi, Anda jangan kaget jika pembayaran cicilan Anda bisa berubah-ubah setiap waktu. Bisa jadi Anda membayar lebih kecil tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. 

Floating rate sejatinya mengikuti keadaan pasar yang turun naik setiap saat. Risiko yang Anda hadapi ketika mengambil suku bunga mengambang ini adalah cicilan yang secara tiba-tiba menjadi tinggi di tengah-tengah jalan. 

Floating rate diberlakukan oleh bank yang tidak dapat memastikan keuntungan yang akan diperoleh jika belum menentukan tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Apa bedanya dengan suku bunga lain?

Ini berbeda dengan suku bunga flat, yang tidak akan mengalami perubahan selama masa cicilan. Terlihat mudah, bukan? Tapi, tunggu dulu. Biasanya angsuran untuk suku bunga flat ini cukup besar. Bukan tidak mungkin bahwa Anda akan merasa kesulitan membayar cicilan ketika dalam keadaan sulit. 

Untuk pinjaman jangka waktu pendek, suku bunga flat memang terdengar lebih meringankan. Namun, biasanya suku bunga mengambang ini sering memberi keuntungan dengan mengenakan bunga fixed sampai 5 tahun. 

Setelah itu bunga akan mengambang dan berbanding jauh dengan suku bunga di awal. Tidak dipungkiri, bahwa nasabah seringkali merasa tertipu di fase ini. Dalam kasus ini bukan salah bank, tapi karena si nasabah yang tidak tahu, dan seakan tidak mau tahu tentang ini.

Contoh kasus suku bunga floating rate

Kami akan memberi sebuah contoh yang sederhana mengenai kasus floating rate. Jika pada saat Anda melakukan pinjaman, berlaku bunga sebesar 1% pada tanggal 1 Maret 2014. Maka jadwal angsuran yang terbentuk adalah mengikuti pola fix rate terlebih dahulu. 

Dengan kata lain jadwal angsuran akan dihitung split pokok bunganya berdasarkan interest effective rate yang berlaku, yaitu 1 %. Jika tanggal jatuh tempo nasabah adalah 1 April 2014, dan terjadi perubahan suku bunga pada Bank. 

Maka perubahan suku bunga itu sendiri terjadi pada tanggal 20 Maret 2014 sebesar 5 %, berarti nilai pokok bunga pertama dihitung dari tanggal 01 hingga 20 menggunakan rate sebesar 1 %, sedangkan dari tanggal 13 hingga 30 sudah berlaku bunga yang baru di hitung ulang dari sisa outstanding pokok bunga yang pertama dan faktor pengalinya menggunakan rate yang baru yaitu 5 %.

Hasil akhirnya adalah hasil perhitungan pokok bunga kedua rate tersebut lalu dijumlahkan. Setelah itu jadilah jadwal angsuran baru yang merupakan hasill perhitungan sebelumnya, dan akan begitu seterusnya secara berjangka.

Bagaimana, apa Anda sudah sepenuhnya mengerti dengan cara jalan floating rate? Kami harap Anda tidak bingung lagi, dan dapat memilih tipe suku bunga yang tepat untuk cicilan rumah. Sehingga Anda pun tidak lagi merasa dirugikan oleh Bank mengenai suku bunga mengambang.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama