Chef Laki-laki Kian Seksi, KTA Bunga Rendah Jadi Modal

Chef laki-laki jadi profesi yang makin seksi dan menggiurkan. Persaingan pun kian ketat. Perlu modal besar untuk survive. Saatnya mempertimbangkan solusi mudah mewujudkannya.

Saat ini orientasi kawula muda terhadap hidup ke depan kian banyak berubah. Mereka tak lagi terbelenggu mindset bahwa orang sukses adalah yang bisa menembus jurusan-jurusan prestisius di universitas ternama. 

Berlomba menjadi dokter atau tukang insinyur, misalnya, mulai banyak ditinggalkan.

Generasi muda sekarang lebih banyak berpaling kepada usaha-usaha atau bisnis kreatif. Bahkan, banyak dari mereka berani mengambil pilihan tak perlu belajar tinggi secara formal untuk menggapai mimpi.

Mereka berlomba merintis karier sebagai wirausaha dan menjadi bos untuk diri sendiri. Ajang Diplomat Success Challenge yang diikuti generasi muda mencatat, perdagangan adalah bidang yang paling diminati mereka saat ini. 

Urutan berikutnya adalah kuliner disusul industri kreatif.

Dapur jadi primadona

Terbukti, dapur kini jadi wadah primadona kawula muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus profesi. Profesi juru masak atau koki atau lebih keren disebut chef menjadi profesi yang sangat seksi bagi kawula muda, saat ini.

Menu-menu biasa menjadi tak biasa di tangan mereka. Yang lebih menarik lagi, dapur yang dulu identik dengan kaum hawa sudah mengalami pergeseran.

Chef laki-laki justru lebih banyak berkibar saat ini. Chef laki-laki banyak memancing perhatian dan laris manis dalam berbagai kesempatan.

Berbagai tayangan kuliner di hampir semua stasiun televisi didominasi wajah-wajah ganteng para chef

Catat saja, Chef Juna, dua bersaudara Arnold dan Reynold Poernomo, Andrian Ishak, William Gozali, Edwin Lau, Billy Kalangi, Bara Pattiradjawane, dan Degan Septoadji.

So, dapur sudah bukan otonomi kaum perempuan. Chef laki-laki menjelma sebagai selebrita baru di layar-layar kaca. Mereka tak hanya meraih pundi-pundi uang, namun juga popularitas. 

Nama-nama chef pun kondang bak bintang sinetron dan penyanyi yang lagi naik daun.

Kaum muda laki-laki pun tak lagi jengah berlama-lama di dapur. Bahkan, dengan sadar memilih dapur sebagai wadah beraktualisasi diri. 

Makin sempurna lagi, ajang-ajang pencarian bakat di bidang kuliner pun bertumbuh signifikan. Klop-lah sudah.

Pilih SMK katimbang SMA

Jadi, jangan heran jika banyak remaja laki-laki kini melirik profesi ini sebagai cita-cita. Sebagai gambaran, banyak lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang lebih memilih SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) katimbang Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Banyak dari mereka sengaja memilih jurusan tata boga.

Harapannya, sudah pasti, begitu lulus bisa langsung bekerja. Selain mendapat uang dengan cepat, tak sedikit dari mereka berharap bisa tampil sebagai selebrita kondang dari dapur. 

Siapa sih yang tak ingin punya penghasilan banyak sekaligus kondang?

Hanya saja, harus diingat jika tidak mudah meraih segala kenikmatan tersebut. Untuk menjadi chef yang benar-benar andal dan berkibar di Tanah Air bahkan mancanegara, dibutuhkan kemampuan lebih. 

Selain jatuh bangun menimba ilmu, mereka juga tak segan berburu pengalaman hingga ke luar negeri.

Chef Juna, misalnya. Chef bernama panjang Junior Rorimpandey ini sempat menjadi pelayan restoran khas Jepang saat mengadu nasib di Amerika. 

Ketekunan mengantarkannya sebagai murid Master Sushi di tempatnya bekerja. Chef yang dikenal jutek ini juga tak malas mempelajari kuliner khas negara lain yang sudah mendunia seperti Perancis.

Ingin seperti Chef Juna? Ada nyali menimba ilmu ke negeri-negeri yang men-’dewa’-kan kuliner seperti Perancis, Italia, dan Skotlandia? Atau, langsung praktek bekerja di restoran-restoran ternama dunia?

Beasiswa atau modal sendiri?

Singkat kata, ada harga yang harus dibayar untuk tampil menjadi yang tidak biasa. Tekad saja tidak cukup. Butuh modal besar untuk bisa tampil cemerlang. Dua bersaudara Arnold dan Reynold Poernomo, misalnya.

Kendati datang dari keluarga yang menekuni bisnis kuliner, Arnold terus menempa diri. Chef yang menggantikan posisi Chef Juna sebagai juri pada ajang Master Chef Indonesia ini bahkan sempat bekerja di sebuah kafe saat berusia 14 tahun.

Yang menjadi pertanyaan, cukupkah modal untuk menambah ilmu dan pengalaman? Mencari beasiswa untuk menimba ilmu adalah salah satu solusi. 

Langsung terjun bekerja di resto-resto atau kafe-kafe ternama di luar negeri banyak pula jadi pilihan. Namun, tetap saja berbagai pilihan itu butuh modal awal.

Cukup punya dana atau modal sendiri, tentu tak harus pusing bagaimana harus menimba ilmu di universitas atau college ternama di luar negeri. 

Atau, langsung terbang ke negeri impian yang mampu mengantarkan mimpi menjadi chef andal dan kondang. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika yang dipunyai hanyalah mimpi dan tekad?

KTA Bunga Rendah

Berhutang memang tidak dianjurkan. Namun, berhutang sebagai modal usaha untuk menggapai sesuatu yang lebih besar tentu tidak ada salahnya.

Yang pantas dipertimbangkan saat mengajukan pinjaman adalah seberapa besar produk Kredit Tanpa Agunan (KTA) itu memberi kemudahan. Bunga rendah salah satunya. 

Selain itu juga bagaimana produk KTA itu menawarkan waktu yang fleksibel untuk jangka waktu pelunasan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah seberapa besar produk KTA itu tidak ribet. Bahkan, aplikasi bisa dilakukan lewat ujung jari dalam hitungan menit seperti aplikasi online melalui KreditGogo. 

Ditambah mengajukan aplikasi online melalui KreditGoGo juga berbuah bonus Sport Cam Eksklusif untuk HSBC Personal Loan dan Powerbank XIAOMI 10,400mAh untuk Standard Chartered Bank KTA.

Nah, tunggu apalagi? Segera gapai mimpi Anda dengan bantuan produk-produk KTA bunga rendah dan tidak ribet seperti direkomendasikan oleh KreditGoGo.

Baca juga: 

Kian Untung Bisnis Otomotif dengan Kartu Kredit HSBC Visa Gold
Kiat Jitu Meraup Untung dari Bisnis Kosmetik

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama