Begini Cara Pengusaha Sukses Kembangkan Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga di Indonesia makin kuat dan tumbuh lebih tinggi dari rata-rata dunia. Lalu bagaimana cara pengusaha sukses mengembangkan bisnis keluarga? simak artikel berikut ini.

Tahukah Anda lebih dari 95 persen perusahaan di Indonesia merupakan bisnis keluarga. Menurut perusahaan audit asal Amerika Serikat, Price Waterhouse Cooper (PwC) terdapat lebih dari 40 ribu orang kaya di Indonesia atau sekitar 0,2 persen dari total populasi yang menjalankan bisnis keluarga.

Total kekayaan mereka mencapai Rp 134 triliun atau menguasai sekitar 25 persen Produk Domestik ruto (PDB) Indonesia. Di Indonesia sendiri Keluarga Hartono masih menduduki predikat sebagai keluarga paling kaya di Indonesia. Pemilik grup Djarum ini membukukan kekayaan hingga US$ 12,7 miliar atau Rp170 triliun.

Mengembangkan Bisnis Keluarga

Cara Pengusaha Mengembangkan Bisnis Keluarga

Mengutip dari CNBC, Jeff Platt miliarder yang sukses dari bisnis permainan trampoline membagi tipsnya agar bisnis kelurganya berkembang dengan baik. Sky Zone Indoor Trampoline berhasil meraup keuntungan perusahaan sebesar Rp2,19 triliun (Kurs Rp13.136 per dolar) dalam waktu satu tahun.

Sebagai pewaris bisnis keluarga, tentunya tantangan yang dihadapi Jeff Platt tidak mudah.Tidak hanya harus membuat bisnis keluarganya bertahan di tengah persaingan, tapi harus bisa mengembangkannya agar lebih sukses. Berikut 4 tips mengembangkan bisnis keluarga. Apa saja?

1. Percaya dengan Tim

Pada saat Anda meneruskan bisnis keluarga, tentunya akan berhadapan dengan tim perusahaan yang telah cukup solid dibuat orang tua. Oleh karena itu menjaga hubungan dengan baik dan tetap percaya dengan tim tersebut.

2. Pekerjakan Orang yang Tepat

“Siapa yang Anda butuhkan 6 bulan ke depan, berbeda dengan siapa yang akan Anda butuhkan dalam 2 tahun ke depan," ujar Platt. Pria ini menyarankan pelaku bisnis untuk mencari orang-orang berbakat dimulai sejak bisnis tersebut dibangun, walau seringkali akan membuat biaya perusahaan membengkak.

3. Mengetahui Target Pasar

Sebagai bisnis yang telah terbangun, tentunya bisnis keluarga Anda telah memiliki target pasar yang jelas. Hal ini menjadi berbeda, ketika bisnis Anda telah berkembang, bahkan berkembang ke seluruh dunia.

Anda akan menemui banyak target pasar yang unik dan berbeda, sehingga Anda perlu melakukan riset lagi tentang target pasar tersebut.

4. Jangan Fokus Pada Ide-ide Baru

Ide lama pendirian Sky Zone adalah membuat olahraga baru dengan menggunakan trampolin. Ide ini sempat membuat perusahaan ini hampir bangkrut, sampai akhirnya perusahaan ini berubah haluan sebagai wahana permainan trampolin saja.

JeffPlatt sebagai penerus bisnis keluarga ini menganggap ide lama SkyZone cukup baik, sehingga dia kembali berusaha mewujudkannya. Ide lama olahraga SkyZone berhasil diterapkan dengan olahraga “dodgeball”. SkyZone bahkan berhasil menciptakan kompetisi internasional dari olahraga ini.

Selain keempat tips di atas dalam segi finansial juga perlu Anda perhatikan. Ketika mengembangkan sebuah bisnis keluarga Anda pasti membutuhkan modal tambahan. Lalu apa yang Anda perlukan untuk mendapatkan dana?

Tambahan Modal

Dapatkan Tambahan Modal Pengembangan Bisnis Keluarga

Ketika sebuah bisnis keluarga berjalan Anda tidak bisa menjamin semuanya dapat dipenuhi dengan keuntungan yang dihasilkan. Terlebih lagi bila perusahaan tersebut berkembang, tentunya Anda harus menyiapkan modal cadangan untuk mengembangkan berbagai ide baru.

Nah berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mendapatkan kucuran dana untuk mengembang bisnis keluarga.

1. Pinjaman Bank

Sebagai pengusaha ada banyak cara untuk mendapatkan kucuran dana untuk mengembangkan usaha keluarga ini. Yang terpenting Anda harus pintar dalam mencari dana pinjaman. Sebisa mungkin, hindari mengajukan pinjaman pribadi dari para renterir.

Kenapa? Karena umumnya suku bunga per bulannya sangat tinggi, dan risiko pun sangat besar. Jika Anda memang sudah membulatkan tekad untuk mengambil pinjaman pribadi sebagai tambahan modal bisnis, ajukanlah di lembaga pinjam yang resmi seperti bank.

Poduk pinjaman yang tepat dengan plafon yang cukup besar hingga Rp200 juta adalah Standard Chartered KTA. Standard Chartered menghadirkan produk unggulan kredit tanpa agunan (KTA) dengan keistimewaan bunga ringan dan persyaratan yang mudah.

Selain itu istimewanya angsuran perbulannya tetap, sehingga tidak diberatkan dengan suku bunga berjalan. Standard Chartered ini memberikan waktu yang fleksibel untuk jangka waktu pelunasan, dengan dana pinjaman yang besar diberikan waktu sampai 5 tahun.

Untuk mendapatkan pinjaman ini proses pengajuannya pun mudah tanpa ribet. Anda cukup mengajukannya secara online melalui channel KreditGoGo dan apabila pengajuan disetujui kesempatan memperoleh hadiah langsung sebuah Power Bank keren dari Xiomi.

2. Kartu Kredit

Memang patut diakui bahwa untuk mendapatkan kredit usaha dari bank tidak mudah. Nah, di sinilah kartu kredit dapat berperan. Kartu kredit dapat memberikan tambahan modal bisnis bagi Anda.

Namun, perhatikanlah syarat dan ketentuannya seperti bunga per bulannya, batas minimum saldo, deadline pembayaran, dan besarnya denda jika telat. Salah satu produk kartu kredit untuk mendukung kebutuhan pengusaha adalah Bukopin Business Gold.

Kartu kredit Bukopin Business Gold dapat memenuhi kebutuhan para perusahaan. Dilengkapi dengan berbagai kelebihan dan kemudahan hanya dalam satu kartu kredit. Anda dapat menikmati kelebihan biaya tarik tunai dengan suku bunga yang rendah yaitu 2% sehingga dana dapat maksimal untuk pengembangan bisnis.

Jadi, apalagi yang Anda butuhkan untuk mengembangan bisnis keluarga? Tentunya semangat dan kerjasama yang solid. Nah, keempat tips di atas dapat diterapkan oleh Anda, selain itu perkuat juga finansial bisnis dengan memperoleh pinjaman yang tepat.

Silakan ajukan di KreditGoGo dan dapatkan kesempatan menguntungkan dengan hadiah menarik untuk pengajuan yang disetujui. Ajukan langsung secara online, proses cepat mudah dan terjamin!

Baca juga:  
Inilah 8 Sumber Dana untuk Modal Usaha
Gunakan Kartu Kredit Untuk Modal Usaha, Mungkinkah?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama