Mau Beli Rumah Kedua? Siapa Takut!

Setelah membeli rumah pertama, biasanya Anda mulai berpikir untuk membeli yang kedua dan selanjutnya. Apa saja yang mesti dipersiapkan? Ini ulasannya.

Membeli rumah pertama melalui kredit pemilikan rumah (KPR) bisa menjadi menjadi pengalaman berutang dengan nilai terbesar bagi kebanyakan orang. Harga rumah yang terus naik sering memaksa orang berpendapatan pas-pasan untuk berutang pada bank, agar kebutuhan itu terpenuhi.

Selain nilai utang yang besar, tenor berutang KPR rata-rata juga panjang, yaitu di atas 5 tahun. Karena itu, tidak heran ketika tiba waktunya cicilan KPR lunas, kelegaan pasti akan dirasakan. Maklum, ruang fiskal dalam anggaran rumah tangga pasti menjadi lebih besar. Nah, jika Anda termasuk kalangan yang sudah terbebas lama dari beban cicilan KPR, sah-sah saja jika mulai terpikir untuk memiliki rumah kedua. Bahkan mungkin rumah ketiga, keempat, dan seterusnya.

Rumah investasi kedua

Alasan Punya Rumah Kedua

Ada banyak alasan mengapa seseorang mulai memikirkan pembelian rumah kedua. Menurut, Diana Sandjaja, perencana keuangan dari Tatadana Consulting, orang sering berpikir untuk membeli rumah kedua karena merasa rumah pertama mereka sudah tidak bias menampung anggota keluarga. Misalnya dari sisi lokasi, luas bangunan, faktor lingkungan, seperti banjir, macet, dan lain sebagainya.

Alasan lain yang juga banyak ditemukan adalah keinginan untuk menambah aset. Pemanfaatannya kelak bisa sebagai tabungan hari tua atau warisan untuk anak-anak. Ada pula yang membeli rumah kedua dengan tujuan investasi. Capital gain dari harga rumah dan bangunan yang terus meningkat akan menggemukkan aset Anda. Terlebih jika nanti disewakan, pendapatan sewa bisa menjadi tambahan penghasilan pasif.

Ingat Tujuan

Namun, seperti pembelian rumah pertama, pembelian rumah kedua juga tidak bisa sembarangan. Menurut Diana, apabila Anda ingin memiliki rumah yang lebih dekat dengan lokasi kerja, maka pembelian rumah kedua boleh sedikit dipaksakan dengan kemampuan finansial yang ada saat ini. Namun, tetap ingat, jangan sampai kondisi keuangan jadi kacau balau.

Rumus pembelian properti tetap berlaku yaitu menimbang lokasi yang paling tepat. Tentu dengan melihat kewajaran harga dan bentuk bangunan. Akan tetapi, apabila kondisi keuangan Anda belum memungkinkan untuk membeli rumah kedua, mengontrak atau sewa kos di dekat tempat bekerja bisa jadi merupakan pilihan tepat di samping langsung membeli rumah.

Perhatikan Kondisi Keuangan

Bagi yang melakukan pembelian rumah kedua dilatarbelakangi keinginan untuk menambah aset atau berinvestasi.Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk merealisasikannya. Silakan meneliti terlebih dahulu kondisi keuangan Anda saat ini. Menutut Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Personal Financial Planning, membeli rumah kedua lebih tepat jika dilakukan ketika kondisi keuangan sudah sehat.

Indikasi keuangan yang sehat antara lain ada dana darurat, kebutuhan proteksi seperti asuransi jiwa dan asuransi kesehatan sudah terpenuhi, lalu rasio utang di bawah 30% dari jumlah penghasilan. Pastikan juga, tujuan keuangan yang utama sudah dilakukan seperti dana pendidikan anak dan dana pensiun. Jika semuanya sudah dipenuhi, Anda baru bisa membeli rumah kedua sebagai tambahan aset atau investasi.

Pemilihan Rumah yang Tepat

Pemilihan rumah incaran akan lebih tepat apabila disesuaikan dengan tujuan pembelian. Misalnya, membeli untuk investasi atau mau disewakan. Tentukan target pasar penyewa rumah Anda kelak. Dari sana, pilihan lokasi rumah yang paling tepat bisa Anda tentukan dengan lebih terfokus.

Menurut Diana, berinvestasi di bidang properti kelihatan menguntungkan karena ada kepercayaan yang umum bahwa harga tanah mustahil turun. Namun, benar atau tidaknya masih tergantung pada lokasi properti. Pasalnya, kenaikan harga tiap lokasi berbeda-beda seiring perkembangan daerah sekitarnya.

Membeli rumah kedua berupa landed house atau apartemen di lingkungan kampus bisa menjadi pilihan. Anda bisa menyewakannya kelak kepada para mahasiswa di sekitar kampus yang membutuhkan tempat tinggal selama masa itu.

Sedang bila tujuan pembelian adalah untuk tempat tinggal baru untuk keluarga, lebih baik memilih sesuai kebutuhan keluarga Anda. Misalnya, lokasi lebih dekat dengan tempat kerja, dekat dengan sekolah anak, rumah lebih luas, fasilitas umum lebih lengkap, dan sebagainya.

Jalur Pembelian

Jalur penjualan properti berupa rumah tapak (landed house) maupun apartemen banyak ragamnya. Membeli tunai tentu cara pembelian yang paling menguntungkan karena Anda tidak dibebani bunga. Namun, membeli tunai membutuhkan dana tidak sedikit.

Anda bisa memanfaatkan jalur utang untuk bisa mendapatkan rumah kedua. Pertama, utang bank melalui Kredit Pemilikan Properti (KPP). Anda harus menyiapkan danadown payment(DP) setidaknya 40% dari harga rumah kedua yang jadi incaran Anda.

Bunga KPP di bank saat ini terbilang mahal akibat kebijakan pengetatan moneter Bank Indonesia. Anda perlu berhitung cermat apakah membeli rumah di tengah tren bunga tinggi seperti saat ini adalah keputusan tepat untuk dieksekusi.

Kalau pun akhirnya tetap memutuskan beli, lebih baik memilih KPP dari bank yang bekerjasama dengan pengembang. Anda berpeluang mendapatkan diskon khusus jika memilih bank terafiliasi. Kedua, membeli lewat cicilan kepada pengembang. Para pengembang umumnya memberi kesempatan pembelian properti melalui cicilan hingga 36 kali atau 36 bulan.

Selain harus menyiapkan DP, Anda juga dikenakan bunga pinjaman oleh pengembang. Namun, bunganya biasanya tidak setinggi bunga KPR yang ditawarkan oleh perbankan. Nah, bagaimana jika properti incaran tidak memiliki fasilitas KPR dari bank sedangkan dana kita tidak mencukupi untuk membeli langsung dari pengembang? Anda bisa menghitung lagi kesiapan finansial Anda.

Hitung Biaya Lain

Selain dana pembelian, Anda harus siap pula dengan biaya lain-lain yang menyertai setiap langkah pembelian rumah. Antara lain biaya perawatan hunian. “Meski harga rumah cenderung naik sehingga menguntungkan, apabila dana maintenance tidak ada, keuntungan tersebut bisa-bisa tergerus,” kata Budi.

Untuk apartemen, tersewa atau tidak, Anda sebagai pemilik tetap harus membayar biaya perawatan bulanan kepada pengelola. Maka itu, Budi lebih menyarankan agar rumah kedua Anda diubah menjadi aset produktif alih-alih dibiarkan sekadar sebagai tambahan aset. Caranya, ya sewakan!

Cara Menyewakan Properti

Menyewakan rumah kedua memberikan dua keuntungan, yaitu capital gain dari kenaikan harga properti dan pendapatan pasif dari biaya sewa. Jika berniat menyewakan, selain memastikan target pasar sedari awal, Anda harus aktif pula memasarkannya . Manfaatkan tempat iklan properti di internet atau koran. Iklan di internet banyak yang gratis.

Agar mendapat penyewa, Anda perlu cermat menentukan tarif sewa. Rata-rata kapitalisasi properti rumah lebih rendah ketimbang apartemen, yaitu hanya 3%–5%. Sedangkan, apartemen mencapai 7%–12%.

Misalnya, rumah seharga Rp 700 juta. Maka, tarif sewa minimal adalah Rp 700 juta x 5% sama dengan Rp 35 juta per tahun atau Rp 2,91 juta per bulan. Jangan segan memberi diskon harga sewa apabila penyewa mau menyewa sekaligus selama setahun atau lebih.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama