Kredit Rumah Tanpa DP, Lebih Untung?

Program KPR dengan DP 0 Rupiah diharapkan menjadi solusi alternatif untuk masalah tempat tinggal warga Jakarta. Pahami skema pembiayaan ini dan manfaatnya untuk kredit kepemilikan rumah Anda.

Pilkada Jakarta telah berakhir, tapi masih banyak hal yang tersisa dari perhelatan acara tersebut. Salah satu yang menarik perhatian adalah usulan rumah DP (down payment) Rp0 yang diusung pasangan calon, yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta terpilih.

Wacana ini pun mendapat pro dan kontra dari berbagai pihak. Beberapa orang banyak yang mempertanyakan dasar pelaksanaannya. Bahkan, program ini menyulut komentar keras dari Bank Indonesia (BI) karena bisa melanggar ketentuan.

Rumah Tanpa DP

Peraturan BI terkait DP Rumah

Dalam peraturan BI No. 18/16/PBI/2016 menyatakan bahwa DP untuk Kredit Pemilikian Rumah (KPR) adalah sebesar 15% untuk bank konvensional dan 10% untuk bank syariah.

Jumlah tersebut juga sudah lebih berkurang dibanding ketetapan DP sebelumnya yang berkisar 30% dari jumlah pembiayaan yang diterima.

Baca juga: Kredit Rumah Bunga Rendah dengan BPJS Ketenagakerjaan

Mengapa diperlukan pembayaran DP alias uang muka sebagai syarat KPR? Alasannya adalah untuk mencegah adanya bubble price di bidang real estate. Dengan adanya DP tersebut, diharapakan harga hunian rumah bisa terkendali karena adanya batasan biaya yang harus disediakan oleh kreditur.

Namun, besar persentase yang cukup besar juga menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat. Sebab, tidak semua warga mampu menyediakan DP tersebut.

Kita ambil contoh, untuk sebuah rumah dengan harga Rp400 juta dengan DP 15%, maka kreditur harus menyediakan uang pribadi sebesar Rp60 juta dari kantong pribadi.

Skema Program DP 0 Rupiah

Skema Program DP 0 Rupiah

Program pembiayaan perumahan dengan DP 0 Rupiah ditujukan bagi warga DKI Jakarta, yang memiliki penghasilan hingga Rp7 juta rupiah dan belum memilliki properti.

Untuk harga rumah yang ditawarkan berkisar Rp350 juta dan berada dalam wilayah Jakarta. Jika Anda ingin mengikuti program ini, syaratnya hanya diwajibkan untuk memiliki rekening bank yang aktif selama 6-12 bulan.

Tabungan tersebut sebagai bukti bahwa warga yang mengajukan mampu untuk membayar cicilan setiap bulan. Jumlah tabungan yang harus disetor setiap bulan adalah sebesar Rp2.3 juta per bulan, mengikuti skema pembiayaan selama 20 tahun.

Baca juga: Beli Rumah atau Apartemen, Penting Pertimbangkan Ini

Setelah memenuhi persyaratan tersebut, warga yang mengikuti program ini dapat mengajukan program KPR melalui bank yang sudah ditunjuk. Selanjutnya, pihak pemerintah provinsi akan memberikan subsidi untuk kredit kepemlikan rumah dari simpanandana APBD melalui pihak bank tersebut.

Pembayaran angsuran dilakukan melalui bank yang meliputi: angsuran DP yang ditalangi pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan angsuran per bulan dari pembiayaan yang Anda terima.

Pengaruhnya terhadap Angsuran

Happy Family in New House

Dari skema yang sudah dijelaskan di atas, program DP 0 Rupiah ini pada dasarnya tidak menghilangkan DP dari kredit itu sendiri. Yang membuatnya berbeda adalah, Anda tidak perlu menyiapkan DP di awal, karena ‘ditalangi’ lebih dulu oleh Pemprov DKI melalui APBD.

Anda tetap harus membayar DP tersebut dengan skema angsuran yang lebih ringan setiap bulan, sesuai dengan pembagian sistem pembayaran.

Baca juga: Cara Mengelola Utang Secara Efektif

Tentu saja program ini masih memiliki banyak kekurangan seperti pembiayaan yang disiapkan, kriteria penerima subsidi, resiko dan sebagainya. Tetapi, kita berharap agar program ini memang mampu mengatasi masalah perumahan masyarakat di kota besar seperti Jakarta.

Kesimpulannya, program DP Nol Rupiah ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh kepada angsuran yang dibayarkan. Adanya program ini hanya bantu memudahkan dan meringankan warga DKI Jakarta dalam mengajukan kredit KPR.

Untuk melihat produk-produk KPR terbaik di Indonesia, Anda bisa mencari tahu rekomendasi favoritunya di sini.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama