KPR Apa ya Yang Cocok untuk Saya?

Ini adalah pertanyaan sejuta umat, "KPR Apa ya Yang Cocok untuk Saya?" Kami mencoba mengangkat satu solusi untuk memecahkan permasalahan Anda.

Bagi banyak orang, ada pertanyaan yang selalu hinggap di benak mereka, seperti "Bagaimana ya saya bisa punya rumah pertama saya?", "Bagaimana caranya saya bisa cicil rumah yang bisa terjangkau dengan keuangan saya?", atau "KPR Apa ya Yang Cocok untuk Saya?" 

berbagai pertanyaan itu, jawabannya hanya ada pada masing-masing diri Anda. Bahkan, tidak semua perencana keuangan pun mungkin bisa memberikan jawaban pasti agar pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap hunian bisa terpenuhi. Mengenai topik kali ini, kami mencoba mengangkat satu solusi untuk pertanyaan tersebut.

Untuk bisa memilki hunian idaman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Dari segi konsumen, yang jelas Anda harus memperhatikan kondisi keuangan yang dimiliki saat ini. Ada beberapa skema pencicilan kredit pemilikan rumah yang memang mensyaratkan minimal penghasilan untuk bisa memiliki rumah. Jika kondisi keuangan Anda tidak terlalu kuat atau bagus, coba pertimbangkan untuk memiliki apartemen yang notabene masih bisa terjangkau. Nah kali ini, kami akan coba mengangkat KPR apa yang kiranya bisa cocok dengan Anda, dari konsumen.

Sistem Bunga dalam KPR

Sebenarnya, di sebagian besar pembayaran kredit pemilikan rumah, ada 3 (tiga) metode yang lazim dipakai untuk menghitung skema angsuran yang bisa Anda bayar untuk mencicil idaman. Skema itu adalah flat, efektif, dan anuitas. Metode flat sebenarnya sudah banyak ditinggalkan. Mengapa? Itu karena skema ini tidak banyak menguntungkan pihak pengembang maupun perbankan. 

Skema ini lebih banyak digunakan untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Sebagian besar memadukan skema cicilan flat dan anuitas efektif untuk tujuan promosi. Misalnya Bank A memberikan suku bunga flat 6,5% KPR untuk 1 tahun pertama. Tapi pada dasarnya bank-bank tersebut tetap memiliki opsi untuk KPR full flat, meski tidak terlalu dipromosikan.

kredit pemilikan rumah

Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Pilih KPR

Untuk bisa memiliki hunian idaman, ada beberapa faktor yang harus Anda perhatikan.

Bunga Bank

Bagi Anda yang belum tahu ekonomi, perhatikan rumus yang tetap berikut ini. Pada prinsipnya, dalam kondisi ekonomi yang bergejolak, ketika bunga bergerak secara fluktuatif alias naik-turun, pada umumnya Anda disarankan untuk mengambil flatJika melihat pada data Bank Indonesia selama 6 (enam) bulan terakhir di 2014, BI Rate cukup stabil pada angka 7.50%. Tapi jangan salah, kita juga menghadapi kenaikan harga, atau inflasi, pada bulan-bulan sebelumnya. Itu bisa dilihat dari indikator kenaikan harga listrik dan bahan bakar minyak. Itu makanya tingkat inflasi sangat terkait erat dengan bunga KPR.

Nah kalau begini, ini bisa berdampak kenaikan inflasi. Menurut teori ekonomi, ketika inflasi meningkat, bank sentral lazimnya akan meningkatkan acuan suku bunga. Hubungannya apa? Itu bertujuan untuk mengerem peredaran uang di pasar. Jika sudah begitu, ya makin mahal harga sebuah hunian idaman. Kecuali, Anda meningkatkan produktivitas uang yang dimiliki dengan cara memiliki usaha sendiri.

Jika Anda seorang muslim, coba perhatikan bunga yang diberikan bank syariah. Terkadang, bunga yang mereka berikan masih bisa terjangkau dibanding bank konvensional selama ini. Namun, tidak sedikit pula bank syariah hanya bisa memberikan plafon yang tidak sebesar bank konvensional. Sekadar tips, coba perhatikan dengan seksama di angka berapa floating rate yang ditawarkan bank syariah untuk KPR.

Tidak usah khawatir. Tidak perlu merisaukan bunga bank yang selalu berfluktuatif. Coba tengok produk KPR yang memiliki tingkat bunga yang lebih terjangkau untuk Anda, misalnya BRI Kredit Pemilikan Rumah yang memiliki suku bunga mulai dari 9%. Atau jika Anda mencari suku bunga yang flat, BTN KPR Bersubsidi/Sejahtera FLPP. Bank ini memberikan suku bunga flat untuk tenor yang cukup panjang, yaitu 20 tahun.

Maksimal Plafon

Anda sudah tahu, belum? Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia pada September 2013 lalu, calon pembeli rumah harus memenuhi paling tidak sebesar 30% DP (down payment) dari total harga yang diinginkan. Dengan demikian hanya bisa menawarkan pembayaran 70% dari total nilai harga properti. Sebagai konsumen, pastikan Anda mencermati nilai properti yang bisa dicapai. Jika rumah idaman yang ingin dicapai bernilai cukup tinggi, jangan paksakan. Kecuali Anda memang memiliki pendapatan sampingan yang lumayan cukup untuk mencicil properti itu.

Jika memperhatikan beberapa promosi dari bank-bank lain, ada juga yang menawarkan DP sebesar 25% dari total nilai properti. Tapi mungkin Anda akan berat di cicilan dan tenor yang dipilih. JIka memang berniat meringkankan DP, pastikan tenor yang dipilih cukup panjang. Dengan begitu, tenor yang panjang tersebut memberi peluang Anda untuk sedikit lebih ringan dibanding tenor yang pendek. Tentu saja, semakin panjang tenor, semakin rendah cicilannya.

Jangka Waktu Kredit

Untuk jangka waktu kredit, pada prinsipnya seperti ini. Semakin rendah bunga, baiknya Anda mengambil tenor yang semakin panjang. Dengan begitu, keuangan Anda punya ruang untuk bernafas. Sebaliknya, semakin tinggi bunga, pilihlah tenor yang sependek mungkin. Mengapa? Itu karena bunga yang tinggi tersebut masih akan melambung tinggi lagi di beberapa tahun kemudian. Logikanya cukup sederhana kok. Semakin tinggi bunganya, semakin besar biaya yang harus kita keluarkan untuk mencicil hunian yang ingin dimiliki. 

Ketika ingin menghitung sistem penghitungan bunga, coba perhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi misalnya kondisi makro-ekonomi suatu negara, apakah masih kondusif dalam hal perekonomian atau tidak, profil keuangan kita, dan harga properti yang ingin kita raih. 

Sekadar tips, perhitungan bunga efektif lebih cocok untuk orang-orang yang memiliki profesi sebagai wirausaha, pedagang, atau pengusaha yang pendapatan setiap bulan bisa tidak stabil, sedangkan profesi pegawai kantoran lebih cocok untuk skema pembayaran flat. Sistem ini lebih cocok untuk pendapatan yang stabil. 

Jika Anda memiliki pendapatan yang stabil dan mencari produk KPR dari segi Jangka Waktu Kredit yang cukup panjang, beberapa produk mungkin bisa Anda lirik, misalnya BTN Kredit Griya Utama yang memiliki tenor 25 tahun. Bukan itu saja, perbankan yang juga memiliki tenor yang cukup panjang adalah Standard Chartered Bank, yaitu Standard Chartered Bank Home Suite.

Pada dasarnya, tenor yang cukup panjang juga memungkinkan Anda untuk memiliki rumah yang layak untuk ditinggali, yang juga sebuh hunian idaman.

Kemudahan Proses

Perhatikan bahwa ketika Anda mengajukan KPR kepada bank yang sedang menawarkan promo khusus, proses administrasi pasti akan cenderung dipercepat. Mengapa? Itu karena pihak bank mengejar target akuisisi selama periode program untuk memastikan kesuksesan promosinya berjalan baik, bahkan bagus di mata konsumen. Saran saya, jangan terlena dulu.

Di bumi ini, pasti ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya, Anda mengajukan KPR di waktu yang tepat. Dan bahkan kesulitan administrasi bisa sangat cepat. Tapi jangan salah, di balik itu pasti ada kekurangan. Bunga yang rendah pada tahun pertama memang menjadi 'pemikat' konsumen. Tapi jangan kaget ketika Anda diberitahu bahwa pada tahun berikutnya suku bunga yang dikenakan untuk program KPR yang diajukan menjadi naik, misalnya flat 8% di 2 tahun berikutnya. Di tahun berikutnya lagi KPR Anda akan dikenakan bunga 13% (misalnya), bahkan dengan cicilan yang melebihi bunga bank.

Dengan begitu, angsuran yang sanggup Anda bayar menjadi lebih berat dibanding pada cicilan semula. Hitung kembali angka-angka tersebut, dan berapa nilai properti yang hendak Anda capai. Apakah layak untuk diangsur? Terlampau tinggi? Atau memang masih dalam angka wajar dari sisi keuangan Anda? Jika memang menghendaki rumah pertama Anda, kemudahan proses adalah hal pertama dalam pengajuan KPR. Ingin ajukan sekarang? Coba simulasinya terlebih dahulu.

Terakhir, Apa Itu Suku Bunga Dasar Kredit? Apa Hubungannya dengan Bunga Floating?

Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) adalah bunga yang digubakan bank sebagai referensi suku bunga mengambang (floating) di KPR. Dalam bahasa Inggris, ini disebut Prime Lending Rate. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi mengenai karakteristik produk perbankan, termasuk manfaat, biaya, dan risiko masing-masing produk (dalam hal ini KPR).

Selan itu, SBDK juga membantu nasabah mengetahui produk bank, serta mendorong persaingan sehat dalam industri perbankan, dengan terciptanya disiplin pasar KPR dan non-KPR yang lebih baik. Dengan begitu, bank harus mempublikasikasikan suku bunga dasar kredit mereka di situs mereka masing-masing. Atau paling tidak di kantor cabang mereka.

Jika SBDK berubah-ubah tergantung kondisi perekonomina suatu negara, maka bank bisa saja membuat suku bunga mengambang tersebut. Itu karena bank menyesuaikan kondisi perekonomian negara yang kurang stabil.

Semoga artikel ini dapat sedikit mencerahkan Anda dalam memilih KPR secara bijaksana. Selamat memilih KPR!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama