Menyiapkan Dana Kuliah Anak, Apa yang Mesti Dilakukan?

Pendidikan tidak cuma sebatas TK, SD, SMP, dan SMA. Anda sebagai orang tua pasti ingin menyekolahkan anak sampai kuliah. Apa saja yang mesti disiapkan?

Percaya atau tidak, biaya pendidikan setiap tahun rata-rata naik sekitar 20%. Untuk biaya universitas, setiap tahun bahkan tercatat naik 15% per tahun. Percaya atau tidak, setidaknya itulah yang disampaikan Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial. Dengan pertumbuhan biaya yang setinggi itu, sudah siapkah Anda?

Sebagai gambaran, bila inflasi sekitar 6% per tahun, maka dalam 9 tahun, total inflasi sudah sebesar 54%. Jika saat ini biaya kuliah per semester di universitas negeri sekitar Rp 5 juta dengan uang pangkal sekitar Rp 20 juta, maka biaya kuliah yang harus Anda persiapkan untuk tahun 2020 menjadi sekitar Rp 107,8 juta. Selain itu, jika biaya buku kuliah dan kebutuhan alat tulis sekitar Rp 5 juta per semester, maka masih ada tambahan lagi Rp 77 juta untuk biaya buku selama 10 semester.

Sudah pusing? Masih belum selesai, itu masih belum termasuk transportasi, uang makan, dan biaya hidup jika anak kuliah di kota lain atau tinggal sendiri (nge-kost), anggap saja sekitar Rp 500 ribu per bulan dan masih ada begitu banyak dana lain yang masih harus disiapkan. Sudah ahh, tidak usah dihitung lagi, yang ada maskin pusing kita memikirkannya.

Membayangkan angka yang demikian fantastis, Anda mungkin merasa pesimistis bagaimana bisa membiayai kuliah si kecil kelak, bila saat ini saja tagihan kartu kredit Anda sudah menumpuk di meja. Untuk mendapatkan solusinya, apa saja yang mesti dilakukan?

Menghitung Biaya Pendidikan

Menurut Rina N. Sandy, RFA dari Sarosa Consulting Group, ada tiga langkah yang perlu Anda lakukan untuk menyiasati masalah pendidikan anak. Pertama adalah menentukan pilihan, pilihan itu sendiri harus spesifik. Di mana Anda harus menentukan apakah si kecil kelak akan disekolahkan ke sekolah negeri atau swasta, di dalam atau di luar negeri, dengan standar mutu internasional atau nasional?

Langkah kedua adalah menentukan jangka waktu dan target biaya di masa depan. Jika saat ini anak Anda masih berusia 3 tahun, maka sudah harus mulai berhitung kapan dia mau masuk TK, SD, SMP, SMU, dan universitas. Kemudian sesuaikan dengan dana yang harus dialokasikan setiap bulan agar jumlahnya cukup ketika memasuki jenjang tersebut. Usahakan agar saat menghitung biaya, Anda tidak melupakan laju inflasi, normalnya sekitar 6% sampai 10%.

Terakhir, langkah ketiga adalah menentukan penempatan dana sesuai dengan harapan hasil investasi yang bisa diterima di kemudian hari. Ada banyak pilihan yang bisa Anda lakukan, mulai dari tabungan pendidikan, asuransi, hingga investasi. Semuanya disesuaikan dengan jangka waktu dan kebutuhan Anda. Jika Anda berani menanggung risiko, Anda bisa mencoba memilih investasi saham yang akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi daripada deposito atau tabungan pendidikan. Namun, semua tergantung pada Anda.

Menyimpan Biaya Kuliah

Meski semua konsultan keuangan akan menyarankan Anda untuk mulai menabung biaya pendidikan di rekening tersendiri sedini mungkin, jangan khawatir jika setelah melakukan perhitungan, Anda merasa tidak akan bisa menabung dengan jumlah yang dibutuhkan. Sebagai gambaran, bila mulai berinvestasi menggunakan reksadana pendapatan tetap setidaknya sekitar Rp 4 juta per tahun dengan bunga 10% per tahun sejak anak berusia setahun, maka saat anak masuk kuliah, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 182 juta. Meski nominal ini masih di bawah (misalnya) angka Rp 400 juta yang dibutuhkan, namun itu tetap akan sangat membantu dibandingkan tidak menyisihkan uang sama sekali.

Lalu, bagaimana mendapatkan sisanya? Jika usia si kecil masih di bawah lima tahun, maka Anda masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan dana tersebut. Rina menyarankan Anda memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham. Meski investasi ini memiliki risiko tinggi, tapi hasil investasinya akan sebanding dibandingkan menyimpan di tabungan atau deposito. Perlu Anda ingat, jika memilih investasi jenis ini, Anda menyimpan untuk jangka waktu yang lama, bukan jangka pendek.

Jika ragu dalam memilih produk jenis investasi, ada baiknya Anda mencari pekerjaan tambahan. Misalnya, dengan berdagang, bila Anda pandai membuat kue, Anda bisa menawarkannya kepada rekan kerja atau ibu-ibu teman sekolah anak, dan sebagainya.

Selain itu, masih ada pilihan lain yang bisa membuat Anda menarik napas lega, universitas besar biasanya akan memberikan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi di sekolahnya. Ini bukan hanya di bidang akademis. Bahkan perusahaan besar seperti Sampoerna Foundation, atau Yayasan Chevron Texaco dari Caltex, dan beberapa kedutaan besar di Indonesia, membuka bantuan beasiswa setiap tahunnya. Silahkan dicoba, siapa tahu dapat.

Melihat Besarnya Biaya dengan Perspektif Nyata

Terakhirm cobalah untuk bersikap realistis. Jika memang kondisi keuangan keluarga belum bisa mencukupi kebutuhan tersier, maka Anda disarankan untuk menurunkan pilihan. “Menyekolahkan anak di perguruan tinggi ternama di Amerika mungkin menjadi cita-cita sebagian besar orang tua, tapi jika kondisi keuangan memang tidak mencukupi, daripada Anda terjebak hutang, lebih baik Anda menyekolahkannya di negeri sendiri”, jelas Rina.

Satu hal yang juga perlu Anda ingat saat mengetahui betapa tingginya biaya kuliah: Cobalah proyeksi perkiraan biaya masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Tapi, para ahli beranggapan bahwa biaya pendidikan tinggi semakin lama semakin menggila sehingga kemungkinan besar masih akan dikaji ulang.

Saat ini memang tidak ada cara pasti untuk memerkirakan seperti apa gambaran biaya kuliah lima belas tahun lagi. Namun Anda bisa membangun awal yang baik dengan merencanakannya secara bijak dan menyisihkan uang sebanyak yang Anda bisa, serta berusaha untuk tidak terlalu panik memikirkan tingginya angka untuk biaya kuliah anak Anda kelak. Jadi, yuk siapkan dana kuliah buah hati sejak dini!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama