Mau Hemat Pengeluaran? Kurangi Merokok Anda!

Sebagian besar orang, terutama perokok aktif, berpikir pendapatan bulanan tidak akan berpengaruh terhadap pengeluaran rokok. Justru sebaliknya, semakin candu terhadap rokok, Anda akan semakin impulsif untuk beli sebungkus lagi.

  • Kembalikan pendapatan Anda dan berhentilah merokok
  • Nilai kecil bisa menjadi besar
  • Gaya hidup sehat = kantong pun hemat
  • Merokok menambah beban biaya kesehatan
  • Ganti bujet merokok Anda ke asuransi kesehatan

Sebagian besar orang berpikir, terutama perokok aktif, pendapatan bulanan tidak akan berpengaruh terhadap pengeluaran rokok. Justru sebaliknya, semakin candu terhadap rokok, pada intinya Anda akan semakin impulsif untuk beli sebungkus lagi.

Apakah kamu masih mencari pekerjaan pertama? Coba saya tebak, kalau kamu sudah dapat gaji pertama, biasanya hal pertama yang kamu beli adalah sebungkus rokok atau hape baru? Benar tidak? Kalau hape baru yang kamu beli, itu wajar. Tapi kalau sebungkus rokok yang dibeli, mungkin kamu harus pertimbangkan kembali kebiasaan itu.

Pemikiran seorang karyawan yang pertama kali menerima gaji haruslah menghemat gaji. Dan salah satu pengeluaran rutin yang bisa Anda pangkas untuk lebih berhemat adalah pengeluaran untuk membeli sebungkus rokok.

Bagi seorang perokok aktif, mungkin dirinya tidak sadar bahwa aktivitas merokok itu tidak bisa disamakan dengan dengan rutinitas membayar listrik atau bahkan beli kebutuhan pokok. Lho, kok bisa begitu? Iyalah. Begini, membayar tagihan listrik atau membeli kebutuhan pokok memiliki tujuan yang tidak diragukan. 

Membayar tagihan listrik? Sudah pasti. Bisa apa kita tanpa listrik? Membeli kebutuhan pokok? Makan apa nanti kalau tidak beli kebutuhan pokok? Tapi kalau rokok, Anda juga tidak akan mati-mati tiba-tiba kan kalau tidak merokok satu hari pun? Itu sebabnya, komponen pengeluaran ini pada prinsipnya bisa dikurangi, bahkan bisa dihilangkan sama sekali. Mari kita hitung bersama.

Nilai kecil bisa menjadi besar

Anggap saja pendapatan rutin yang kamu terima sekitar 2,5 juta per bulan. Katakan kamu adalah perokok aktif yang sering membeli satu bungkus rokok dengan harga kisaran Rp 15.000 per bungkus per hari. Jika kamu membeli rokok tiap dua hari sekali, maka secara hitungan kasar kamu membeli (dengan rata-rata 30 hari) 10-15 bungkus rokok dalam sebulan. Jika maksimal kamu membeli 15 bungkus rokok dalam sebulan, maka sekitar Rp 200.000 - Rp 300.000 sudah dihabiskan hanya untuk kebutuhan merokok. Padahal dengan nilai uang yang sama, itu bisa membayar tagihan listrik, PAM, atau bahkan membeli proteksi kesehatan yang bisa digunakan maksimal di masa depan.

Jika itu dilakukan terus-menerus, tanpa sadar kamu sebenarnya sudah mengalokasikan pendapatan hanya untuk aktivitas merokok. Apalagi perokok aktif memiliki sifat impulsif untuk selalu membeli sebungkus rokok. Kebiasaan itu tidak akan pernah hilang seumur hidup, kecuali jika memang si perokok memiliki niat keras untuk berhenti.

Jika nilai uang tadi diakumulasikan dalam setahun, maka ada sekitar Rp 3,6 juta yang bakal habis untuk rokok yang dibeli. Belum lagi jika memang kamu membeli setiap hari, pasti akan naik menjadi Rp 5,4 juta per tahun hanya untuk aktivitas mengisap tembakau. Bayangkan kalau diakumulasi menjadi 10 tahun? Itu berlipat menjadi Rp 54 juta. Nilai sebesar itu bahkan bisa untuk investasi di instrumen investasi lain, bukan?

Kembalikan pendapatan Anda dan berhentilah merokok

Keinginan setiap orang pastilah ingin memiliki rumah yang asyik dan nyaman. Jika kamu berniat untuk itu, cobalah kembalikan pendapatan kamu yang hilang itu dengan berhenti merokok dan mulailah menabung untuk mencicil rumah. Sisihkan sekitar 30% pendapatan Anda yang biasanya digunakan untuk beli rokok ke instrumen menabung, atau mulai cicil DP rumah, atau bahkan mobil yang didambakan.

Gaya hidup sehat = kantong pun hemat

Perokok aktif umumnya kurang memiliki kesadaran berpikir bahwa seiring pendapatan bulanan yang bertambah, alokasi dana untuk kebutuhan merokok pun meningkat. Lho kok bisa? Iya. Itu karena masyarakat kita memang telah menjadikan merokok sebagai bagian dari gaya hidup. Dengan begitu, pengeluaran untuk merokok pun pasti akan meningkat seiring dengan pendapatan si perokok. Satu hal lagi, pada sebagian kecil perokok aktif, pendapatan yang besar dibarengi dengan kenaikan pangkat juga turut mengubah gaya hidup seorang perokok aktif.

rokok dan dampaknya terhadap kesehatan

Merokok menambah beban biaya kesehatan

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), rokok adalah penyebab kenaikan angka kematian di dunia setiap tahun. Dalam sebungkus rokok mengandung lebih-kurang 4.000 zat kimia yang dapat merusak sel dan sistem dalam tubuh. Karena mengandung zat kimia itulah, rokok bisa menjadi sumber berbagai penyakit pernapasan, seperti kanker dan paru-paru. 

Berhenti merokok bisa membantu Anda menambah investasi kesehatan di masa depan, misalnya kebiasaan mengeluarkan uang untuk rokok bisa dialihkan untuk membeli manfaat penggantian pembiayaan asuransi kesehatan di rumah sakit. Menurut lembaga itu pula, sebagian besar korban kematian akibat merokok berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah yang bermukim di negara-negara dengan kategori negara berkembang.

Dengan tidak merokok, Anda tidak menambah beban biaya kesehatan di masa depan. Misalnya, seorang kepala keluarga mengonsumsi satu bungkus rokok dengan harga Rp 15.000 per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan satu kilogram telur yang mengandung banyak gizi untuk makan anak-anaknya.

Ganti bujet merokok Anda ke asuransi kesehatan

Ini memang sulit. Tapi harus dilakukan kalau memang Anda berniat panjang umur. Membeli deposito berjangka atau asuransi kesehatan adalah salah satu rencana keuangan yang patut dicoba dan ditiru. Namun harus diingat, bila Anda perokok aktif, manfaat yang didapat dari membeli produk asuransi tidak akan maksimal. Kenapa? 

Untuk diketahui, beberapa perusahaan asuransi memang memiliki aturan yang ketat perihal rokok. Anda yang tidak merokok biasanya akan mendapat premi 50% lebih besar dibanding mereka yang perokok. Besaran premi yang dibayarkan pun berbeda, biasanya berbeda Rp 150.000 – Rp 250.000. Bahkan ada yang lebih besar dari nominal tersebut.

Nah jika Anda mulai khawatir bahwa merokok menggerogoti kesehatan hingga menguras kantong, coba berpikir ulang. Mulailah berhenti merokok dan investasikan sekitar 30% pendapatan Anda untuk hal lain. Ayo, mulai berhenti merokok!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama