5 Hal Kebiasaan Buruk dalam Menghamburkan Uang

Uang itu seperti air yang mengalir, jika tidak pandai mengelola keuangan, pasti akan hilang dalam sekejap mata. Tips berikut ini dapat dijadikan referensi Anda dalam mengelola keuangan.

Kebiasaan Buruk menghamburkan uang

Wedges ini lagi murah, handbag itu juga murah, lagi promo, ada diskon, lebih praktis. Yah, semua hal itu memang sangat menarik perhatian. Apalagi, jika memiliki kartu kredit dengan penawaran yang menggiurkan, tanpa pikir panjang kita akan borong semua meskipun tidak sesuai dengan kebutuhan. Ini dia hal yang perlu diperhatikan untuk menghilangkan kebiasaan buruk dalam menghamburkan uang.

Diskon Besar Besaran

Semua mata pasti berbinar-binar saat melihat kata diskon. Tanpa pikir panjang, Anda langsung mengambil barang ini dan itu. Apalagi untuk kaum hawa, hal-hal yang berbau diskon pasti sangat ditunggu. Dengan alasan untuk memperkecil pengeluaran, mereka beli semua item selagi ada potongan harga. Alhasil rumah terlihat seperti gudang, barang menumpuk dimana-mana.

Katakanlah, harga normal es krim 700 ml adalah Rp 30.000. Karena diskon, harganya menjadi Rp 22.500. Ya, tanpa pikir panjang, Anda membeli 5 es krim sekaligus. Enggak mubazir, tuh? Solusinya, sebelum berbelanja buatlah list bahan apa saja yang akan dibeli dan bawalah uang secukupnya. Jika memang akan membeli persediaan, cukuplah membeli dua cadangan, tidak lebih.

Belanja di Tukang Keliling

“Males jalan ah, mending panggil tukang sayur yang lewat.” Nah ini salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia. Kalau dihitung-hitung ternyata belanja di tukang sayur keliling lebih mahal ketimbang belanja di pasar tradisional. Memang agak repot sih, kita harus jalan, mengeluarkan ongkos.

Tapi, coba kita kalkulasikan, contoh: harga santan instan 65 ml dipasar hanya Rp 1.600 tapi di tukang sayur keliling harganya bisa mencapai Rp 2500. Ah, cuma beda Rp 900, coba kalikan jika membeli 12 buah, di pasar 1600 x 12 = Rp 19.200, di tukang sayur keliling Rp 2500 x 12 = Rp 30.000. Itu baru satu bahan baku lho, belum bahan yang lainnya.

Anda tidak perlu belanja ke pasar setiap hari, Anda bisa luangkan waktu dengan menyiasatinya belanja ke pasar seminggu sekali. Catat bahan apa aja yang Anda butuhkan, sehingga kita bisa membeli bahan sesuai kebutuhan untuk seminggu kedepan. Anda bisa simpan bahan makanan tersebut di kulkas.

Makan Siang Dan Ngopi Di Luar

Ini sudah menjadi tradisi, terutama di kota-kota besar yang mayoritas penduduknya bekerja di perkantoran. Pada jam istirahat makan siang, biasanya pergi keluar untuk membeli makan siang atau ngopi di Starbucks.

Di sana, harga secangkir kopi adalah Rp 36.000. Bandingkan dengan seduh kopi sendiri, harga kopi per sachetnya sekitar Rp 2.000, ditambah dengan air, taruhlah harga secangkir air hanya Rp 500. Jadi harga secangkir kopi seduhan sendiri adalah sekitar Rp 2.500 - Rp 3.000. Berarti, harga kopi di Starbucks sama dengan harga 12 kali seduh kopi sendiri.

Dan juga, membeli makan siang di tempat kerja. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, tapi alangkah baiknya jika Anda mengalokasikan dana untuk makan siang sedari awal, misalnya batasi maksimal Rp 20.000 untuk sekali makan. Ingat, jangan dilanggar, tetap disiplin. Atau bisa juga Anda membawa makanan dari rumah, selain bisa menekan biaya pengeluaran tentunya lebih sehat juga bukan?

Merokok

Semua orang sudah tahu, merokok hal yang sangat merugikan baik dari segi kesehatan, lingkungan dan keuangan. Taruhlah harga satu bungkus rokok Rp 15.000, jadi jika kamu membeli satu pak rokok sehari dalam seminggu berarti menghabiskan Rp 105.000. Tetapi jika Anda menghabiskan dua pak rokok sehari berarti dalam setahun Anda mengeluarkan Rp 10.080.000 untuk membeli rokok. Wow! It's a big number.

Sekarang coba bayangkan, jika Anda berhenti merokok, Anda bisa menabung sebesar Rp 10.080.000. Uang sebesar bisa Anda tabung untuk membeli kebutuhan yang lebih penting. So, bijaklah dalam mengelola keuangan, gunakan rumus skala prioritas.

Jangan Biasakan Membeli Barang Kredit

Satu kebiasaan orang Indonesia adalah membeli barang dengan sistem cicilan, ya tujuannya memang adalah untuk meringankan ketika membeli barang kebutuhan dengan cepat. Tapi sadarkah Anda, membeli barang dengan cicilan ternyata lebih mahal ketimbang membeli cash.

Membeli barang dengan uang tunai memang terlihat lebih mahal, karena angkanya memang terlihat lebih besar diawal. Misalkan, Anda menyicil motor dengan uang muka Rp 2.000.000 dengan cicilan 22 bulan per Rp 736.000. Jika dijumlah total harga motor tersebut adalah Rp 18.192.000. Sekarang coba bandingkan dengan membeli motor cash, Anda hanya cukup mengeluarkan biaya Rp 14.020.000. Wow, selisih angkanya lumayan jauh ya sekitar Rp 4.000.000

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama