Inilah Perbedaan Kartu Charge dan Kartu Kredit

Sebelum kartu kredit beredar di masyarakat, telah ada kartu charge. Lantas, apa sajakah perbedaan antara kartu charge dan kartu kredit? Berikut kami hadirkan ulasannya.

Pernahkah Anda mendengar kartu charge? Atau memang sudah tidak asing lagi? Ya, kartu charge telah hadir jauh sebelum kartu kredit beredar luas di masyarakat. Namun seiring perkembangan zaman, kartu charge kalah eksis dibandingkan kartu kredit.

Sebelum membahas perbedaan antara kartu charge dan kartu kredit, ada baiknya Anda mengetahui sejarah kartu charge.

Kartu charge sudah beredar sejak tahun 1950. Awalnya, ada seorang pebisnis bernama Frank McNamara. Ia sering lupa membawa dompet ketika makan malam di restoran.

Karena hal ini, lalu ia memutar otaknya untuk menemukan solusi. Akhirnya ia mendapatkan ide membuat sebuah kartu unik yang disebut kartu charge, fungsinya bisa sebagai alat pembayaran. Dari sinilah cikal bakal diterbitkannya kartu charge.

Saat itu, kartu charge diartikan sebagai alat transaksi pengganti apabila konsumen ingin atau terpaksa menunda pembayaran ketika berbelanja atau makan di restoran. Lalu pihak bank akan membayar lebih dulu kepada pemilik toko atau tempat makan.

Fungsi dan cara kerja kartu charge tidak jauh berbeda dengan kartu kredit. Hanya saja, saat pihak bank menagih kepada nasabah, jumlah uang yang dibayarkan wajib penuh. Tidak ada pembayaran tagihan minimum layaknya kartu kredit.

Perkembangan Kartu Charge di Indonesia

Salah satu perusahaan yang menjadi pelopor beredarnya kartu charge di Indonesia adalah American Express (AMEX).

Pemilik kartu charge hanya menggunakan kartu ini saat pergi ke luar negeri khususnya kota-kota besar di negara Amerika, bukan memanfaatkannya sebagai alat pembayaran pengganti uang tunai. Hal tersebut dikarenakan sangat minimnya tempat untuk menggesek kartu charge.

Setelah AMEX, beberapa bank lokal mulai mengeluarkan kartu charge yaitu Bank Danamon, BNI, CIMB, dan BCA Blue Card. Saat ini, bank yang masih mempertahankan produk kartu charge-nya adalah Bank Danamon.

Selain itu, ada pula perbankan syariah di Indonesia yang mengeluarkan produk dengan konsep seperti kartu charge. Nama generiknya disebut syariah charge card. BNI Syariah dan CIMB Niaga Syariah merupakan bank yang menggarap segmen kartu charge berkonsep syariah.

Perbedaan Kartu Charge dengan Kartu Kredit

Secara kasat mata, tidak ada perbedaan mencolok baik dalam bentuk fisik ataupun fitur-fiturnya. Namun jika diteliti lebih jauh, banyak perbedaan yang tampak pada kedua kartu ini. Berikut adalah perbedaan kartu charge dan kartu kredit.

ItemKartu Charge Kartu Kredit
Pembayaran tagihan Pemegang kartu charge harus membayar lunas (secara penuh) semua uang yang dipergunakan untuk transaksinya selama sebulan. Terdapat dua pilihan untuk pembayaran tagihan, yaitu minimum payment atau full payment.
Limit kartu Tidak memiliki limit atau batasan penggunaan Memiliki limit atau batasan nominal penggunaan kartu kredit. Jika terjadi over limit, akan ada biaya over limit.
Denda Bila pembayaran tagihan kartu charge tidak penuh, maka akan dikenakan denda berupa bunga dengan persentase tertentu. Memiliki tingkat bunga yang berbeda-beda pada setiap bank. Denda diberlakukan bila Anda terlambat membayar tagihan kartu kredit.
Cara pengajuan Cukup sulit, sehingga tidak semua orang bisa memiliki kartu charge. Kartu charge diklaim hanya untuk mereka yang memiliki kondisi keuangan sangat baik dan stabil. Mudah untuk diajukan oleh siapa saja. Bahkan kini Anda dapat apply kartu kredit online melalui KreditGoGo.com
Masa berlaku Memiliki peraturan cukup ketat. Jika pemegang kartu charge tidak membayar tagihan secara penuh, maka saat itu juga kartu akan diblokir dan tidak dapat digunakan lagi. Relatif lebih longgar. Tidak ada pemblokiran kartu bila pembayaran tagihan tidak dilakukan secara penuh dan kartu kredit masih tetap dapat digunakan.

Baca juga: Perbedaaan Visa, Mastercard, American Express dan JCB

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama