4 Kasus Penipuan Kartu Kredit dan Cara Menghindarinya

Terlalu banyak kasus penipuan kartu kredit terjadi di Indonesia. Para pemula pengguna kartu kredit menjadi sasaran utamanya. Pahami modusnya dan cari tahu cara mengatasinya di sini.

Meskipun sudah banyak menjadi bahan pemberitaan, kasus penipuan Kartu Kredit tetap saja sering terjadi di Indonesia. Biasanya, kejahatan perbankan ini menyerang para pemula pengguna kartu kredit dan belum terbiasa dengan fasilitas atau fitur kartunya.

Tetapi tidak jarang juga para pemilik kartu kredit lama yang sedang lengah menjadi target tindak kejahatan ini. Hal ini disebabkan oleh banyaknya modus yang dilakukan oleh para penipu. Kami ajak Anda untuk mengenali beberapa kasusnya, serta bagaimana cara untuk menghadapinya saat menyerang Anda.

Kasus Penipuan Kartu Kredit

Penawaran Menarik Bonus Hadiah

Modus penipuan kartu kredit yang sering menimpa pemegang kartu kredit adalah melalui berbagai penawaran hadiah. Hadiahnya tidak perlu mewah, tapi cukup menggiurkan untuk kebutuhan Anda dan sifatnya “sayang” untuk dilewatkan. Misalnya, promo murah untuk hotel, tiket perjalanan, diskon atau voucher belanja.

Caranya adalah korban diminta untuk melakukan sebuah kegiatan tertentu yang sebenarnya tidak masuk akal. Seperti membayar dengan sejumlah uang, menukarkan kartu, atau bertransaksi langsung di tempat ramai. Bahkan, tidak sedikit yang mendatangi langsung ke nasabah langsung membawa EDC untuk bertransaksi langsung.

Baca juga: Manfaat Online Payment Buat Pengeluaran Lebih Hemat

Jika penawaran tersebut adalah benar, seharusnya semua kegiatan tersebut tidak perlu Anda ikuti. Sebab, pihak bank sendiri tidak memiliki keuntungan dari semua kegiatan tersebut.

Yang perlu Anda lakukan adalah tetap berpikir logis. Konfirmasi setiap tawaran yang mengatasnamakan bank kepada pihak terkait. Apabila setelah dikonfirmasi tidak ada program yang ditawarkan kepada Anda, segera tolak dan tinggalkan pihak tersebut.

Data Pribadi Sifatnya Rahasia!

Database perusahaan

Modus kejahatan penipuan kartu kredit dilakukan dengan menggunakan data pribadi dari pengguna kartu kredit. Biasanya kegiatan penipuan kartu kredit ini dilakukan dengan menggunakan modus menelepon calon korban.

Selain melalui telepon, biasanya modus ini dilakukan melalui email dan penawaran melalui situs tertentu. Modus yang dilakukan biasanya mengaku dari perusahaan kartu kredit tertentu dan memberikan promo dan sebagainya.

Baca juga: Hati-Hati Data Kartu Kredit Anda Dicuri!

Kemudian, perusahaan tersebut meminta data diri secara detail dengan alasan verifikasi data nasabah. Data detail yang diminta bahkan termasuk data rekening dan transaksi yang dilakukan oleh pemilik kartu.

Jika hal tersebut terjadi segera hubungi call centre atau customer service dari bank yang mengeluarkan kartu kredit Anda untuk verifikasi kegiatan tersebut. Karena sebenarnya Bank tidak memiliki kepentingan apapun dengan nasabahnya dalam sebuah kegiatan promo kartu kredit.

Asal Berikan Nomor CVV

Nomor CVV Kartu Kredit

Credit Valuation Code (CVV) adalah tiga digit angka yang terdapat pada kartu debit atau kartu kredit. Nomor kartu ini bisa Anda temukan di bagian belakang kartu debit atau kartu kredit.

Fungsi dari CVV ini sendiri adalah untuk proses verifikasi pembayaran yang dilakukan oleh pemegang kartu tersebut. Para penipu biasanya mengincar nomor ini untuk digunakan dalam bertransaksi secara online.

Baca juga: Belanja Online Lebih Aman dengan 3D Secure Kartu Kredit

Oleh karena itu, hanya Anda yang berhak mengetahui nomor CVV kartu Anda. Jangan memberikan nomor tersebut pada orang lain, sekalipun itu petugas bank. Bank tidak membutuhkan nomor tersebut untuk verifikasi data atau kebutuhan apapun.

Bila anda menerima telepon yang sangat memaksa untuk memberikan nomor CVV, dapat dipastikan bahwa itu adalah bagian penipuan kartu kredit.

Awasi Setiap Transaksi

EDC Kartu Kredit

Pastikan setiap transaksi yang Anda lakukan terlihat oleh Anda sebagai pemilik kartu. Jangan pernah mau bila proses pembayaran kartu kredit dilakukan di ruangan terpisah sehingga jauh dari pengawasan kita.

Proses penggunaan pun harus sesuai dengan penggunaan kartu itu sendiri. Sesuai ketentuan dari Bank Indonesia tahun 2005, kartu kredit yang dikeluarkan di Indonesia harus menggunakan chip.

Chip ini berfungsi sebagai pengamanan transaksi dari kartu kredit. Hal ini juga yang membedakan bagaimana penggunaannya di mesin EDC.

Baca juga: Kemudahan Transaksi dengan Menggunakan EDC

Penggunaan kartu debit dilakukan dengan cara di-swipe atau digesek. Sedangkan untuk kartu kredit dilakukan dengan di-dip atau dimasukan ke dalam mesin.

Pastikan Anda melihat proses pembayaran transaksi tersebut untuk menghindari penggunaan mesin skimming untuk mendapatkan data diri Anda.

Itulah empat cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindari kejahatan penipuan kartu kredit. Ingat lah untuk selalu berhati-hati karena modus kejahatan perbankan selalu berubah sesuai dengan tren yang ada di industri perbankan.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama