Kerja di Luar Negeri. Enak Gak Yah?

Hampir setiap orang membayangkan jika kerja di luar negeri itu enak. Gaji besar, hidup ditunjang teknologi, kemudahan akses dan tentunya gengsi. Tapi, benarkah demikian?

Artikel ini terinspirasi setelah saya melihat sebuah headline di harian Kompas. Di dalam berita tersebut menceritakan kisah kunjungan Ahok ke negara tetangga, Singapura. Disana beliau menghadiri acara “Bincang 1 Jam Bersama Ahok.” 

Dalam event tersebut digelar atas inisiatif tim Gubernur DKI dan Forum Komunitas Masyarakat Indonesia di Singapura (FKMIS), bermitra dengan Global Indonesian Voices (GIV) sebagai mitra media. Maksud dari acara ini tak lain menghimbau dan mengajak para pekerja Indonesia yang bekerja di Singapura untuk kembali ke Indonesia untuk membangun Jakarta.

Tak hanya mengajak, Global Indonesia Voices (GIV) juga mengadakan survei kepada 1.300 orang yang hadir pada Senin malam (19/10). Dimana isi survei tersebut mengadakan jajak pendapat soal pendapat mereka tentang kembali ke Indonesia. 

Hasilnya menunjukkan sebesar 61% bersedia untuk kembali ke Tanah Air, namun dengan syarat mendapatkan penghasilan minimal 6.000 Dollar Singapura atau sekira Rp 60 juta! Semahal itukah gaji para lulusan luar negeri atau bagi mereka yang sudah pengelaman bekerja di luar negeri?

Fresh Graduate dengan Gaji Besar?

Jika kita menengok para fresh gratuate di Indonesia rata-rata mereka mempunyai penghasilan Rp 3 juta dalam satu bulan. Nominal ini dirasa sudah cukup standar untuk biaya hidup di Indonesia. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan kondisi di Singapura yang mencapai Rp 20 juta bagi mereka yang baru lulus Perguruan Tinggi. 

Tidak usah jauh-jauh. Kita bandingkan saja dengan negara yang paling dekat dengan kita-Singapura. Sebagian orang mungkin akan mencak-mencak dan berkata “enak banget kerja di Singapura, gajinya besar.” Tapi tahukah Anda bahwa itu berbanding lurus dengan pengeluaran Anda dalam setiap hari?

Singapura=Biaya Hidup Besar

Ya, yang patut Anda ketahui bahwa Singapura adalah negara paling maju di Asia Tenggara. Maka wajar rasanya jika mendapati seorang karyawan "biasa" gajinya bisa mencapai belasan juta. Toh, biaya hidupnya pun besar. Pasti Anda pensaran dan bertanya, "seberapa mahalnya kah hidup di Singapura?" 

Bayangkan, untuk menyewa kamar single saja bisa mencapai Rp 4 juta per bulan. Belum lagi dengan harga tersebut fasilitas yang didapat cukup standar.

Tak berhenti disitu. Masih ada biaya makan yang berkisar sekitar Rp 20-30 ribu setiap kali makan. Kalau ingin ditambah minuman maka siap-siap untuk merogoh kocek sekitar Rp 10 ribu-20 ribu. Tak ketinggalan transportasi, yang ternyata memiliki harga yang jauh lebih mahal. 

Dalam satu bulan, umunya biayanya yang harus dianggarkan dapat mencapai kurang lebih Rp 700 ribu rupiah. Ini dikarenakan tarif angkutan umum mencapai Rp 10 ribu. Dan yang terakhir adalah untuk biaya lain-lain, yang mencakup hiburan, rekreasi atau sekedar untuk jalan-jalan.

Penghasilan Haruslah Sesuai dengan Tingkat Pendidikan

Mendapat gaji besar memanglah enak dan sesuatu yang membanggakan, tapi jangan salah kaprah dengan membandingkan antara gaji di luar negeri dan di Indoneisa. Singapura memang berbeda dengan Indonesia. Anda akan "kesulitan" untuk melihat orang yang hidup dengan kondisi pas-pasan atau bahkan kekurangan.

Berbicara mengenai Singapura memang seakan tidak akan ada habisnya. Begitupun dengan sistem pendidikan di Negeri Singa tersebut. Soal gelar pendidikan, Singapura merupakan negara dengan peraturan ketat. Lulusan Sarjana, Master, hingga Doktor akan dipekerjakan dan digaji sesuai standar yang berlaku di sana. 

Jadi jika Anda seorang lulusan Sarjana dan kemudian melamar pekerjaan yang hanya membutuhkan lulusan D3, maka 100% Anda akan ditolak. Lho, mengapa? Toh, seharusnya perusahaan senang mendapat calon karyawan Sarjana, tapi hanya membutuhkan kualifikasi lulusan D3 untuk mengerjakannya. 

Ternyata hal tersebut sudah terikat oleh ketentuan ketenagakerjaan di Singapura bahwa lulusan Ph.D harus digaji sekian, di atas gaji seseorang yang mempunyai gelas Master yang sebesar 5000 SGD-6000 SGD.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama