Kenapa Gaji Selalu Habis Tengah Bulan?

Meski sudah hidup hemat dan penuh perhitungan, tapi gaji tak pernah cukup. Selalu saja habis di tengah bulan. Apa yang salah dan bagaimana cara mengatasinya?

"Gaji saya 15 koma. Bukan 15 juta koma sekian, tapi setelah tanggal 15 jatuh koma..”

Lelucon gaji 15 koma mungkin sudah tak asing lagi. Lelucon ini sering terlontar saat tanggal tua, ketika waktu gajian masih 1-2 minggu lagi tapi gaji bulan ini telah habis.

Apakah Anda mengalaminya? Jika iya, jangan khawatir! Banyak orang bernasib sama. Gajian tanggal 1, eh tanggal 15 sudah habis.

Padahal sudah hidup hemat dan penuh perhitungan, tapi gaji tetap tak cukup hingga akhir bulan. Kira-kira, apa yang salah dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya!

1. Tidak Punya Anggaran

Salah satu penyebab tekor tengah bulan adalah karena tidak adanya anggaran bulanan. Anda jadi tak tahu berapa banyak uang yang sebenarnya bisa dibelanjakan.

Makanya, Prita Ghozie, founder ZAP Finance, mengatakan bahawa anggaran wajib dibuat sebagai langkah awal untuk mengatur keuangan pribadi.

Catatan:

Membuat anggaran tidaklah sesulit bayangan Anda. Mulailah dari mencatat semua pengeluaran dari yang terbesar hingga terkecil.

Di akhir bulan, lakukan evaluasi. Tentukan mana yang penting dan mana tidak. Gunakan hasil tersebut untuk menyusun anggaran bulan selanjutnya.

2. Anggaran Kurang Realistis

Anggaran sudah dibuat, tapi kok masih tekor juga?

Coba periksa kembali anggaran yang ada. Ingat, selain harus disusun berdasarkan kebutuhan dan gaya hidup, membuat anggaran juga harus realistis.

Misalkan penghasilan bulanan Rp 5 juta. Karena ingin berhemat, Anda hanya mengalokasikan 5% sebagai dana senang-senang. Nah, ini masuk dalam kategori tidak realistis.

Mari berhitung!

5% dari Rp 5 juta adalah Rp 250 ribu. Dengan asumsi 1 bulan = 4 minggu berarti Anda hanya memiliki Rp 62.500 per minggu untuk bersenang-senang.

Apakah mungkin pergi jalan-jalan dan nonkrong ke mall hanya dengan membawa uang Rp 62.500?

Catatan:

Susunlah anggaran yang lebih realistis. Jocelyn Pantastico, founder LiveOlive, menyarankan komposisi 50-30-20 saat menyusun anggaran bulanan.

50% untuk keperluan sehari-hari, minimal 20% untuk menabung/investasi, dan 30% untuk senang-senang/belanja/jajan.

Ya, komposisi itu tidak salah kok. Pos senang-senang memang sengaja dibuat 30%. Jika gaji Anda Rp 5 juta, maka anggaran hura-hura per bulan adalah Rp 1,5 juta. Cukup realistis bukan?

Merasa terlalu banyak? Ya tidak perlu dihabiskan dong! Kalau memang berlebih di akhir bulan, bisa dimasukkan dalam tabungan.Pokoknya, dalam satu bulan, Anda tak perlu menjebol tabungan lagi.

3. Anda Kurang Disiplin

Membuat anggaran yang realistis ternyata belum cukup. Dibutuhkan disiplin tinggi untuk menjalankan anggaran tersebut.

Jadi, meski ada diskon cuci gudang, potongan harga besar-besaran, atau promosi apapun, jika tidak masuk dalam anggaran bulan ini, maka Anda tidak boleh belanja!

Catatan:

Belanja impulsif merupakan salah satu penyebab jebolnya tabungan. Jika ini masalah Anda, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

- Pisahkan uang operasional sehari-hari, uang senang-senang, uang tabungan, serta uang dana darurat dalam rekening berbeda.

- Biasakan membawa uang tunai secukupnya saat berbelanja. Tinggalkan kartu debit atau kartu kredit di rumah agar Anda tidak tergoda untuk membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan.

Share di kolom komentar jika Anda punya trik menyiasati gaji agar awet hingga akhir bulan! 

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama