5 Perusahaan Besar Ini Tidak Lagi Beroperasi di Indonesia

Setiap perusahaan pasti pernah mengalami pasang surut. 5 perusahaan besar di Indonesia berikut ini terpaksa harus mengalami keadaan terburuk, yaitu berhenti beroperasi.

Setiap pelaku usaha pasti akan melakukan yang terbaik untuk keberhasilan usahanya. Untuk itu, mereka berusaha menghindari kerugian atau bangkrut. Karena bila hal ini sampai terjadi, maka akan berakibat fatal bagi keberlangsungan usaha.

Namun, bangkrut dalam berbisnis bisa saja terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal misalnya, karena manajemen tidak efisien, keuangan tidak tertata, hingga adanya kecurangan.

Sedangkan faktor eksternal misalnya tidak mengikuti perubahan pasar, bahan baku langka, hingga kondisi perekonomian global.

Apabila perusahaan dapat bertahan, dapat dipastikan bahwa perusahaan tersebut merupakan tipe perusahaan yang memiliki basis keuangan yang kuat. Namun, apabila perusahaan tersebut tidak mampu bertahan, dapat dikatakan bahwa perusahaan tidak lagi beroperasi atau bangkrut.

Inilah 5 perusahaan besar yang tidak lagi beroperasi di Indonesia.

Ford

Pada tanggal 25 Januari lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita bahwa perusahaan pembuat mobil terkemuka asal Amerika Serikat, Ford, akan berhenti beroperasi di Indonesia mulai paruh kedua tahun ini.

Perusahaan yang telah bergulir sejak 2002 di Indonesia ini menghentikan semua operasinya, termasuk menutup dealer serta impor produk mobil Ford di Indonesia.

Terdapat dua faktor yang menyebabkan Ford tidak lagi beroperasi di Indonesia, yakni minimnya penjualan dan ketiadaan pabrik perakitan di Indonesia. Selain di Indonesia, Ford juga akan mengakhiri operasinya di Jepang, dengan alasan yang kurang lebih sama.

Karena Ford tidak memiliki pabrik di Indonesia, maka semua produk Ford diimpor dari luar negeri. Sehingga sangat rentan terhadap kondisi ekonomi global.

Penjualan Ford di Indonesia sendiri mencapai 12.008 unit pada tahun 2014, langsung anjlok lebih dari 50 persen, menjadi hampir 5.000 unit pada tahun 2015, seiring dengan melemahnya ekonomi global.

Harley-Davidson Indonesia

Kabar tak sedap kembali datang dari dunia otomotif. Terhitung mulai 31 Desember 2015, PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia tak lagi memperpanjang keagenan tunggal Harley-Davidson di Indonesia.

Kabar ini pertama kali mencuat berdasarkan dokumen internal yang bocor di kalangan wartawan. Surat itu tercatat dikeluarkan langsung oleh Presiden Direktur PT Mabua Harley-Davidson, Djonnie Rahmat.

Salah satu sumber mengatakan, perusahaan yang eksis sejak 1997 itu gulung tikar sebagai imbas kebijakan pemerintah. Diketahui, pajak untuk impor motor besar mencapai 300 persen, tidak termasuk bea balik nama, dan lain-lainnya.

Namun, untuk beberapa bulan mendatang, sebagai bentuk komitmen, Harley-Davidson Indonesia tetap akan memberikan layanan purna jual serta penjualan suku cadang, dan lain-lain.

General Motor Indonesia

Pabrik milik General Motor Indonesia (GMI) yang memproduksi mobil Chevrolet Spin di Bekasi, menghentikan operasinya dan resmi ditutup pada Juni 2015. Sejak 2013, GM Indonesia telah mengalami kerugian dan tidak mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, GMI mengalami kerugian 4 juta USD setiap bulannya sejak mulai beroperasi pada 2013. Sehingga total kerugian yang dialami GMI mencapai 200 juta USD hingga 2015.

Sementara itu, Direktur Keuangan GMI Manufacturing Pranav Bhatt mengatakan, ditutupnya pabrik GMI di Indonesia semata-mata karena alasan finansial. Dimana penjualan Chevrolet Spin tidak begitu menguntungkan perusahaan, tapi membutuhkan biaya tinggi dengan volume yang sedikit.

Kendati begitu, GMI tetap ada dengan menjual Chevrolet di Indonesia, yaitu fokus kepada tipe mobil SUV dan pick up.

Adam Air

Maskapai penerbangan ini mulai beroperasi pada 19 Desember 2003 dengan penerbangan perdana ke Balikpapan. Adam Air didirikan oleh Sandra Ang dan Agung Laksono.

Dari hasil pemeringkatan pada 22 Maret 2007 silam, Adam Air berada di peringkat III, yaitu berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan.

Akibatnya, Adam Air mendapat sanksi administratif yang ditinjau ulang kembali setiap 3 bulan. Setelah tidak ada perbaikan kinerja dalam waktu 3 bulan, Air Operator Certificate Adam Air kemudian dibekukan. Kegiatan operasional Adam Air kemudian dihentikan sejak 17 Maret 2008.

Avon Indonesia

Tahun 2006 silam, salah satu merek produk kecantikan ternama, Avon, menutup kegiatan operasionalnya di Indonesia. Dalam pernyataan tertulis, Avon Indonesia menjelaskan bahwa keputusan itu ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Pabrik Avon yang terletak di Cilandak, Jakarta Selatan ditutup dan seluruh distribusi produk dihentikan. Wakil Presiden Avon Kawasan Asia Tenggara, Perry Mogar menyatakan, penutupan pabrik dan kegiatan operasional dilakukan berkaitan dengan kerugian Avon Indonesia.

Penutupan pabrik tersebut berdampak terhadap sekitar 600 karyawan. Namun, manajemen berkomitmen bahwa penutupan kegiatan operasional di Indonesia dilakukan secara bertanggung jawab.

Baca juga: 5 Media Cetak yang Tak Lagi Terbit

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama