Yuk, Kenalan dengan Reksadana

Bagi komunitas perencana keuangan, atau pengelola kekayaan, istilah ini mungkin sudah paham. Tapi bagi kita yang masih awam, tidak ada salahnya kita belajar.

Untuk sebagian besar mereka yang sudah melek dengan rancangan keuangan, istilah “reksadana” mungkin sudah familiar. Tapi bagi mereka yang belum tahu, kata “reksadana” belum tentu bisa dipahami dengan baik. Bahkan, tidak sedikit mereka malah salah paham tentang produk keuangan satu ini. Padahal jika kita kenal baik dengan reksadana, bukan tidak mungkin kita malah akan coba membeli produk reksadana untuk kebutuhan keuangan kita di depan.

Menurut Wikipedia Indonesia, reksadana adalah pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang, atau efek/sekuriti lainnya. Kalau menurut Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 1 Ayat 27, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Nah, manajer investasi ini umumnya tergabung dalam suatu perusahaan manajemen investasi.

Unsur Penting dalam Reksadana

Nah, jika definisinya sudah jelas, maka ada unsur penting dalam pengertian reksadana.

  • reksadana merupakan kumpulan dana dan pemilik dana (investor)
  • diinvestasikan pada efek yang dikenal dengan instrumen investasi
  • reksadana tersebut dikelola oleh manajer investasi
  • reksadana tersebut merupakan instrumen jangka menengah dan panjang

Oke, sekarang sudah paham sedikit kan? Sebenarnya, produk reksadana sudah lama beredar. Namun saat pertama kali diperkenalkan, minimum pembeliannya masih cukup mahal, yaitu di atas 10 juta rupiah per transaksi. Karena itulah, beberapa tahun belakangan ini produk reksadana sudah bisa diperoleh hanya dengan 250.000 ribu rupiah.

Inflasi Tahunan Bank Indonesia

Apa Sih Kelebihan Reksadana Dibanding Menabung Biasa?

Untuk diketahui, menabung biasa di bank tidak akan bisa cukup. Bahkan, tidak akan pernah cukup. Bunga di bank tidak akan pernah bisa mengejar inflasi yang terus membumbung tinggi. Karena itulah, menabung di bank di era ini sekarang ini kurang bijaksana. Kita harus mencari jenis investasi lain yang bisa mengejar inflasi.

Sebagai contoh, untuk tujuan keuangan di bawah dua tahun (misalnya kumpulin uang untuk beli ponsel cerdas), menabung secara konvensional sudah cukup. Namun untuk tujuan keuangan di atas dua tahun (seperti menyiapkan dana pensiun), menabung secara konvensional tidak akan mampu mengikuti inflasi. 

Sekadar informasi, inflasi bulan Maret 2014 saja sudah mencapai 7,32%, dengan target inflasi tahun 2014 sebesar 4,5%. Jika pakai tabungan, bunga bank paling tinggi 5,5%-6%. Itu pun belum dipotong pajak. Setelah dipotong pajak, jadi berapa yang bisa kita cairkan. 

Tentu sudah hal umum bahwa uang kita sekadar mampir doang di bank. Apalagi mengejar inflasi? Sementara untuk di reksadana, imbal hasilnya bisa mencapai 8% per tahun. Bahkan ada yang di atas 25 persen, tergantung jenis reksadananya.

Apa Sih Risiko Reksadana?

Berinvestasi di reksadana sebenarnya simpel. Pahami dan nikmati. Mempercayakan uang kita pada pihak lain, dalam hal ini Manajer Investasi (MI), bukan tidak mungkin ada terlintas di benak kita tentang keamanan dan kekhawatiran, apakah uang kita akan amblas tanpa sedikit pun tanggung jawab dari MI? atau pada waktu tertentu ternyata menghasilkan keuntungan berlimpah untuk bisa kita cairkan?

Jika Anda berpikir bahwa MI akan membawa lari uang kita, tentu Anda harus cermat MI macam apa yang Anda percayai itu. Apakah terdaftar secara resmi atau abal-abal? Tugas utama MI adalah mengelola uang, dan uangnya sendiri ada di Bank Kustodian. Bank Kustodian ini adalah bank yang bertugas melakukan fungsi administrasi dan menjaga harta reksadana.

Risiko dari investasi reksadana lebih ke perolehan profit/ return. Tidak selamanya reksadana memberikan return yang sesuai kita harapkan. Itu karena return tergantung situasi pasar. Jika Anda mengambil reksadana saham misalnya, risikonya ya tergantung pasar saham. Ketika pasar saham turun, ya semua turun. Begitu pula sebaliknya. Ingat saja hukum dagang, “ High risk, high return.

Ada Berapa Jenis Sih Reksadana?

Reksadana terbagi atas beberapa jenis yang dikenal umum di Indonesia.

  • Reksadana pasar uang: terdiri dari produk keuangan yang memiliki jatuh tempo di bawah satu tahun, misalnya deposito dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan di bawah satu tahun.
  • Reksadana pendapatan tetap: terdiri dari surat utang (obligasi). Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan dengan target pencapaian 1-3 tahun.
  • Reksadana campuran: terdiri dari obligasi dan saham. Cocok untuk tujuan keuangan dengan target pencapaian 3-5 tahun.
  • Reksadana saham: terdiri dari saham 80 persen dan kas. Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan di atas 6 tahun.

Untuk hal lain ada juga jenis reksadana tambahan dan reksadana syariah. Untuk selengkapnya Anda bisa bertanya lebih detail ke manajer investasi yang Anda percayai.

Reksadana itu ibarat membeli rujak. Kita dapat merasakan keuntungan dari berbagai macam buah dengan membeli satu makanan saja. Contohnya, ketika kita membeli reksadana saham, di dalamnya sudah terdapat berbagai jenis saham, seperti saham barang konsumsi atau saham perbankan.

Untuk sekarang ini, bagi Anda yang ingin membeli produk reksadana bisa diperoleh dengan dana Rp 250.000. Dengan dana sebesar itu kita sudah bisa berinvestasi setiap bulan. Cukup terjangkau, bukan

Produk investasi ini pun sekarang sudah mudah diperoleh. Bisa melalui bank atau langsung ke manajer investasi. Ditambah lagi, profit/ return reksadana biasanya selalu di atas deposito, jika dilihat dari jangka waktu menengah-panjang. Risiko dari reksadana pun bisa diminimalkan apabila Anda tidak mengambil dana sebelum jangka waktu yang sudah ditentukan. Nah, untuk reksadana yang isinya saham, maka lebih baik investasikan untuk tujuan keuangan jangka panjang, misalnya dana pensiun atau dana pendidikan anak di atas 6 tahun.

Agar return Anda bisa maksimal ketika menginvestasikan di reksadana, ada baiknya menyimak hal di bawah ini.

1. Tentukan terlebih dahulu target keuangan Anda, apakah jangka pendek, menengah, atau panjang. Lalu pilih produk yang pas untuk jangka waktu pencapaian tersebut.

2. Mintalah selalu apa yang disebut fun fact sheet atau biasa juga disebut prospektus untuk masing-masing produk reksadana yang ditawarkan. Cermati performa reksadana tersebut pada 5-10 tahun ke belakang.

3. Pilihlah dan selidikilah manajer investasi yang memiliki pengalaman matang di bidangnya, juga memiliki lisensi untuk mengelola dana.

Sebelum Anda membeli produk reksadana, cermati terlebih dahulu. Baru nikmati hasilnya. Dengan begitu, Anda diharapkan tidak salah pilih. 

Selamat berinvestasi ya!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama