Waspadalah Terhadap 3 Jenis Investasi Bodong Ini

Sebelum memutuskan berinvestasi, Anda wajib mengetahui dan waspada terhadap jenis-jenis investasi bodong agar tidak terjerumus. Berikut adalah penjelasannya.

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, semakin marak pula penawaran investasi bermasalah alias bodong.

Sejak 2013 hingga 31 Juli 2015, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima 45.779 pengaduan masyarakat terkait kasus investasi bodong. Sebanyak 48,5 persen pengaduan terkait investasi uang, 13,77 persen investasi emas, dan terbaru investasi online sebanyak 3,59 persen.

Baru-baru ini, kita juga dikejutkan dengan kasus investasi bodong yang dijalankan artis Sandy Tumiwa. Sandy Tumiwa selaku Komisaris dari perusahaan investasi bodong tersebut, meraup untung hingga miliaran rupiah dari para anggotanya yang tergiur berinvestasi dengan iming-iming bunga tinggi.

Lalu, bagaimana agar kita tidak termakan oleh investasi bodong? Kenalilah ciri dari masing-masing jenis investasi yang berpotensi bodong seperti di bawah ini.

Investasi Uang Bodong

Pada dasarnya, semua jenis investasi bodong memiliki ciri yang hampir sama. Berikut adalah ciri-ciri investasi uang bodong.

  1. Imbal hasil (return) keuntungan yang ditawarkan sangat tinggi dan atau dalam jumlah yang pasti. Besarannya bisa 10 kali lipat imbal hasil deposito. Produk investasi ditawarkan dengan janji akan dijamin dengan instrumen tertentu seperti Giro atau dijamin oleh pihak tertentu seperti pemerintah, bank, dan lain-lain.
  2. Ada jaminan hasil investasi atau bahkan 100 persen buyback guarantee. Investasi tidak boleh memberikan imbal hasil pasti, kecuali bentuknya tabungan/deposito atau dalam skema pinjaman.
  3. Dana investor tidak dicatat dalam segregated account.
  4. Ditawarkan dengan konsep MLM atau tenaga marketing yang sangat agresif.
  5. Bertindak seolah-olah sebagai agen dari perusahaan investasi yang berada di dalam maupun di luar negeri. Mereka mengaku telah mempunyai izin usaha yang sah dari otoritas.
  6. Tidak memiliki izin dari salah satu lembaga yang berwenang seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti), dan Kementerian Perdagangan.
  7. Biasanya, skema investasi tipuan akan berjalan lancar dalam 1—2 tahun pertama, tapi mulai bermasalah di atas tahun ke-3.

Investasi Emas Bodong

Saat ini, banyak perusahaan menawarkan investasi berbentuk emas. Namun, Anda perlu berhati-hati dalam memilih perusahaan yang akan dituju sebagai agen investasi emas.

Banyak perusahaan yang mengajak masyarakat untuk berinvestasi emas melalui internet (online). Di sini, diperlukan kejelian dalam melihat profit perusahaan tersebut.

Selain itu, jika perusahaan menawarkan return di atas 20 persen per tahun, bisa dipastikan bodong. Jika masih di bawah 20 persen, kemungkinan masih aman.

Bagi Anda yang baru memulai berinvestasi emas, diperlukan penyisihan uang sebesar Rp 500 ribu per bulan. Lalu, rencanakanlah jenis investasi yang tidak akan dijual dalam jangka setahun atau dua tahun.

Terakhir, pilihlah perusahaan yang memang sudah tepercaya.

Investasi Online Bodong 

Anda patut waspada terhadap tawaran bisnis investasi online. Sebab, banyak dari mereka yang ternyata hanyalah money game (skema Ponzi atau Piramida) alias bukan investasi yang sebenarnya.

Biasanya mereka menjanjikan keuntungan besar. Namun, pada titik tertentu saat member baru semakin sedikit, bisnis ini tutup dan korban pun baru sadar telah tertipu.

Memang tidak mudah membedakan investasi bodong dengan investasi legal. Karena investasi bodong pun lihai meniru dan menyamar seolah bisnis resmi.

Parahnya, penanganan investasi online bodong di Indonesia belum maksimal. Sehingga membuka celah para pelaku kejahatan memanfaatkan booming akses internet.

Berikut adalah 9 Ciri Investasi Online Bodong

  1. Menawarkan hasil investasi yang pasti dan di atas normal. Sejatinya, tidak ada investasi yang memiliki kepastian.
  2. Menggambarkan diri sebagai cara mudah untuk mendapatkan uang, cara cepat untuk kaya, dan aneka janji sejenis.
  3. Marketing plan biasanya menggambarkan bonus dari sistem rekrut-merekrut saja, dan bukan berjualan produk/jasa.
  4. Menjual produk tak bermanfaat serta replika website untuk menjajakan bisnis tipuan yang sama.
  5. Tidak memiliki usaha yang jelas. Di website mereka bisa saja membeberkan sedang berbinis ini itu, tapi pada dasarnya hanyalah pepesan kosong.
  6. Tidak memiliki kantor yang jelas dan bisa dihubungi. Kalaupun ada, biasanya hanya kantor sewaan yang bisa ditinggal kabur saat bisnis kolaps.
  7. Penanggung jawab tidak jelas. Selalu periksa di bagian ‘Contact Us/Hubungi Kami’ untuk mengetahui alamat kantor dan penanggung jawab perusahaan.
  8. Tidak memiliki layanan nasabah (customer service) yang baik dan siap membantu permasalahan nasabah.
  9. Tidak memiliki izin investasi atau izin menggalang dana masyarakat.

Jika Anda ditawari investasi online tapi mengandung ciri-ciri di atas, sebaiknya pertimbangkan kembali sebelum mengambil keputusan untuk terlibat lebih lanjut.

Baca juga: Panduan Investasi Emas Bagi Pemula

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama