Mengenal Lebih Jauh Reksadana dan Risikonya

Menabung saja tidak cukup, Anda harus memiliki cara lain untuk menjamin masa depan. Salah satu dengan menggunakan reksadana. Apa itu? Ini ulasannya.

Bagi Anda yang sudah sadar dengan pentingnya rancangan keuangan untuk masa depan, kata reksadana mungkin sudah lumrah untuk diketahui, bahkan sudah digunakan. Namun, untuk yang belum tahu, reksadana sering dianggap sebagai sering diartikan sebagai sesuatu yang bukan semestinya. Padahal jika kita mengetahui kegunaan produk investasi ini, masa depan Anda akan terjamin lho!

Apa Itu Reksadana?

Sebagai permulaan, mari kita mengetahui apa itu reksadana. Menurut Wikipedia Indonesia, reksadana adalah pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana inilah yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang, atau efek/sekuriti lainnya.

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1996, Pasa 1 Ayat 27, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Sebagai informasi, manajer investasi ini biasanya sudah tergabung dalam suatu perusahaan manajemen investasi yang memiliki izin khusus.

Kelebihan Reksadana yang Perlu Diketahui

Bagi sebagian orang, menabung di bank sudah tidak cukup untuk menjamin masa depan, bahkan, ada yang menyebutkan tidak akan pernah cukup. Salah satu alasannya karena bunga yang diberikan bank tidak akan pernah bisa mengejar inflasi yang terus membumbung tinggi tiap tahunnya. Karena itu, menabung di bank di masa sekarang sudah dianggap bukan pilihan tepat, kecuali hanya untuk menyimpan dana darurat yang bisa digunakan di masa genting.

Untuk informasi, Bank Indonesia (BI) memperkirakan, laju inflasi tahun kalender 2014 maupun secara tahunan (yoy) berkisar antara 8,1%-8,2%, atau lebih rendah bila dibandingkan laju inflasi yoy tahun kalender 2013 yang berada pada level 8,38%. Dengan nilai yang setinggi itu, lalu dibandingkan dengan bunga bank yang masih di bawah 8%, rasanya tidak memungkinkan lagi hanya mengandalkan tabungan di bank kan?

Sebagai penggantinya, tentunya kita perlu mencari jalan keluar lain atas permasalahan tersebut. Salah satunya adalah dengan menggunakan investasi reksadana. Selain nilainya yang dianggap akan terus tumbuh, sifatnya yang cocok digunakan sebagai instrument investasi jangka panjang akan menguntungkan ketika di masa depan nanti.

Tingkat Risiko Reksadana

Pernahkan Anda mendengar istilah, “High Risk High Riturn, Low Risk Low Return”? Bagi Anda yang pernah berinvestasi, tentu mengetahui maknanya. Sebab, tidak ada investasi yang tidak memiliki risiko, semuanya mempunya faktor-faktor yang bisa membuat Anda rugi. Masalahnya, seberapa besar risiko tersebut? Dalam kasus reksadana, tingkat risikonya sendiri dianggap lebih rendah dari saham yang sifatnya sangat cepat berubah-ubah. Namun, bila dibandingkan dengan batu mulia seperti emas atau properti. Risiko yang dimiliki reksadana tentunya lebih tinggi. Sebab keduanya diklaim sebagai instrument investasi paling aman.

Berinvestasi di reksadana sebenarnya simpel, mudah dipahami, dan dinikmati. Sebab, Anda hanya mendaftar di bank lalu mempercayakan uang kita pada pihak lain, dalam hal ini Manajer Investasi. Masalahnya, tidak mungkin di benak kita akan kekhawatiran tentang keamanan dan dana Anda. Apakah uang itu akan amblas berkurang , bahkan habis tanpa sedikit pun tanggung jawab dari manajer investasi? atau ternyata mampu menghasilkan keuntungan berlimpah sesuai harapan untuk bisa dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan atau diinginkan?

Cukup manusiawi, jika Anda bisa berpikir bahwa perusahaan atau manajer investasi akan membawa lari uang kita. Karena itu, kita harus cermat dalam memilih pihak yang akan memegang uang tersebut. Apakah dia terdaftar secara resmi atau justru abal-abal?

Bagi yang belum mengetahui, tugas utama manajer investasi adalah untuk mengelola uang. Sementara uang yang dipegangnya ada di bank Kustodian yang bertugas melakukan fungsi administrasi dan menjaga dana reksadana.

Risiko dari investasi reksadana lebih ke perolehan profit/return. Tidak selamanya reksadana memberikan return yang sesuai kita harapkan. Itu karenaprofit tergantung situasi pasar. Jika Anda mengambil reksadana saham misalnya, risikonya ya tergantung pasar saham. Ketika pasar saham turun, ya semua turun. Begitu pula sebaliknya. Ingat saja hukum dagang, “High risk, high return.

Jenis-Jenis Reksadana

Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis reksadana yang cukup dikenal dan ditawarkan perusahaan investasi.

1. Reksadana Pasar Uang

Terdiri dari produk keuangan yang memiliki jatuh tempo di bawah satu tahun, misalnya deposito dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan di bawah satu tahun.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Terdiri dari surat utang (obligasi). Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan dengan target pencapaian 1-3 tahun.

3. Reksadana Campuran

Terdiri dari obligasi dan saham. Cocok untuk tujuan keuangan dengan target pencapaian 3-5 tahun.

4. Reksadana Saham

Terdiri dari saham 80 persen dan kas. Instrumen ini cocok untuk tujuan keuangan di atas 6 tahun.

Masing-masing diantara jenis reksadana itu memiliki karakteristik sendiri. Tergantung Anda mau memilih yang mana. Cermati semua keunggulan dan kekurangannya, lalu beli produknya. Selamat berinvestasi yaa!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama