Mengenal Lebih Dekat Reksadana Syariah

Berbeda dengan reksadana konvensional, reksadana syariah merupakan produk investasi yang dijalankan berdasarkan nilai-nilai Islam. Yuk, kenal lebih dekat apa itu reksadana syariah.

Seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya instrumen investasi yang ‘halal’, kini investasi berbasis syariah pun semakin diminati masyarakat Indonesia.

Bila selama ini Anda hanya mengenal produk investasi syariah berupa deposito, maka kini saatnya Anda mengenal investasi reksadana syariah.

Pada prinsipnya, reksadana syariah sama dengan reksadana konvensional, yaitu merupakan wadah untuk menghimpun dana dari investor/pemilik modal, kemudian diinvestasikan dalam sebuah portofolio oleh Manajer Investasi yang bergerak sebagai wakil dari investor tersebut.

Apa Itu Reksadana Syariah?

Hanya saja, dalam pengelolaannya, reksadana syariah dijalankan berdasarkan ketentuan dan prinsip syariah Islam. Investasi reksadana syariah memiliki kebijakan, yakni hanya berinvestasi pada perusahaan dengan kategori halal dan memenuhi rasio keuangan tertentu.

Halal yang dimaksud adalah dana investasi reksadana syariah tidak boleh ditanam di perusahaan yang berhubungan dengan sesuatu yang haram/diharamkan, seperti judi, pornografi, minuman keras, daging babi, hiburan maksiat, dan lain-lain.

Selain itu, pada reksadana syariah, portofolio bersifat riba, mengandung ketidakpastian, atau berkaitan dengan perdagangan barang palsu pun harus dijauhi.

Sedangkan memenuhi rasio keuangan tertentu adalah, total utang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82%.

Artinya, modal 55% dan utang 45%, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.

Baca juga: Biaya Apa Saja Sih yang Ada di Reksadana?

Bila reksadana konvensional hanya terdiri dari 2 pihak, yakni Bank Kustodian dan Manajer Investasi, maka pada investasi reksadana terdiri dari 3 pihak, yakni adanya tambahan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dewan Pengawas Syariah adalah pihak independen yang ahli di bidang hukum syariah dan pasar modal. Mereka bertanggung jawab dalam mengawasi pemenuhan prinsip syariah pada suatu investasi reksadana syariah.

Cara Mengetahui Instrumen Keuangan yang Sesuai Prinsip Syariah

Untuk mengetahui saham dan obligasi mana yang sesuai dengan prinsip syariah, Anda dapat melihat dari Daftar Efek Syariah (DES). Biasanya, daftar ini dikeluarkan setiap 6 bulan sekali Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kebijakan Investasi reksadana syariah hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan sesuai dengan syariah Islam, meliputi:

  • Efek Pasar Modal Syariah berupa Obligasi Syariah (Sukuk), saham-saham yang masuk dalam DES, serta efek surat utang lainnya sesuai dengan prinsip syariah.
  • Instrumen Pasar Uang Syariah berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI), Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA), Certificate of Deposit Mudharabah Mutlaqah, dan Certificate of Deposit Mudharabah Muqayyadah.

Alasan Orang Berinvestasi Reksadana Syariah

Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang lebih memilih berinvestasi reksadana syariah.

  • Ingin berinvestasi di pasar modal tapi waktu terbatas.
  • Ingin berinvestasi tapi pengetahuannya masih belum memadai, sementara kebutuhan investasi tidak boleh ditunda-tunda.
  • Kurangnya akses atas informasi yang tersedia di pasar modal.
  • Ingin mempunyai return optimal atau bahkan mengalahkan return pasar, namun dana terbatas.
  • Diversifikasi investasi. Tidak hanya Manajer Investasi atau pengelola reksadana saja yang bisa mendiversifkasi suatu portofolio, tetapi nasabah juga bisa mendiversifikasi berbagai macam tipe reksadana seperti reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran atau saham.
  • Ingin memenuhi kebutuhan jangka pendek, menengah atau panjang, dan kesemuanya itu untuk mencapai kebebasan finansial secara syariah.
  • Ingin berinvestasi tapi sesuai dengan tuntunan agama. Alasan lainnya karena syariah memberikan tingkat stabilitas tinggi.

Keuntungan dan Risiko Investasi Reksadana Syariah

Bila Anda memutuskan untuk berinvestasi reksadana syariah, berikut adalah beberapa keuntungannya.

  • Tidak memerlukan modal besar. Ada beberapa perusahaan Manajer Investasi menjual produk reksadana dengan minimum pembelian Rp 100 ribu saja.
  • Investasi reksadana syariah lebih aman dan stabil. Perlu diketahui bahwa perusahaan yang dibiayai oleh dana reksadana, biasanya memiliki struktur modal sehat dan jauh dari ancaman bangkrut.
  • Dikelola oleh manajemen professional dan ahli dibidangnya. Tidak sembarang orang dan perusahaan boleh mengelola reksadana. SDM perusahaan pun sudah mengerti tentang syariah dan pengelolaan investasi secara syariah.
  • Transparansi informasi. Semua informasi mengenai kinerja investasi harian bisa dipantau di media masa. Setiap bulan nasabah akan diberikan laporan kinerja investasi seperti rekening koran dan kinerja reksadana (Fund Fact Sheet).
  • Terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS). Fungsi dari DPS adalah mengawasi dan memberikan pengarahan agar pengelolaan reksadana sesuai dengan prinsip syariah yaitu jujur, berkeadilan dan bermanfaat bagi sesama.

Walaupun memiliki keuntungan, investasi reksadana syariah pun tak luput dari risiko, yaitu meliputi:

  • Manajer Invetasi reksadana syariah bisa saja melakukan wanprestasi;
  • adanya risiko penurunan nilai aktiva bersih;
  • keterlambatan pencairan dapat saja terjadi bila yang mencairkan dilakukan bersamaan dalam jumlah besar;
  • dipengaruhi kondisi sosial, ekonomi, ataupun politik negara;
  • pembubaran reksadana.

Bila ingin berinvestasi reksadana syariah, tentukanlah profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasinya. Setelah itu, mulailah lakukan investasi berdasarkan klasifikasi diri Anda. Selamat berinvestasi!

Baca juga: Beli Reksadana Semakin Mudah Berkat Sistem Online

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama