Memahami Tingkat Risiko Investasi Obligasi

Secara tingkat fluktuatif, Obligasi sebenarnya bisa dibilang aman. Meskipun begitu, produk ini tetap punya risiko sendiri. Seperti apa? Ini ulasannya.

Bagi Anda yang sudah sangat mengenal investasi, kata obligasi pasti sudah cukup akrab di telinga. Ia sebenarnya adalah pinjaman yang Anda berikan kepada suatu perusahaan atau pemerintah. Bagi yang belum mengetahuinya, obligasi merupakan surat hutang jangka panjang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah dengan nilai nominal (nilai pari / par value) dan waktu jatuh tempo tertentu.

Seperti yang telah dibahas di artikel sebelumnya yang berjudul “Mari Kenali Investasi Obligasi”, obligasi dapat dikeluarkan baik oleh perusahaan maupun pemerintah. Bagi sebagian orang, Obligasi pemerintah memiliki tingkat keamanan (savereign risk) yang lebih baik. Mengapa begitu? Karena pemerintah memiliki kemampuan untuk membebankan pajak dan mencetak uang. Produk investasi ini biasa dikenal sebagai obligasi ritel atau ORI (Obligasi Ritel Indonesia).

Amankah Berinvestasi Obligasi

Kalau investasi obligasi milik pemerintah dianggap lebih aman, bagaimana dengan perusahaan biasa? Tenang saja, tetap aman kok. Tapi ketika Anda sedang memutuskan untuk memilih obligasi perusahaan. Sebagai saran, coba pilih selalu dari obligasi yang memiliki peringkat tertinggi terlebih dahulu. Karena peringkat ini mencerminkan risiko kegagalan dalam membayar bunga atau pokok.

Untuk informasi, peringkat kredit yang memiliki risiko paling rendah adalah AAA. Lalu disusul AA, A, BBB dan seterusnya sampai D yang menandakan bahwa obligasi tersebut sudah gagal bayar (wanprestasi). Selain risiko kegagalan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada beberapa risiko lagi yang terdapat dalam obligasi. Apa saja? Berikut ini ulasannya.

1. Risiko suku bunga

Di mana harga obligasi bergerak berlawanan arah (ke arah negatif) dengan pergerakan suku bunga. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun. Sebagai contoh, Anda memiliki obligasi pemerintah senilai Rp 5 juta dengan tingkat bunga 10%. Anda membeli obligasi tersebut pada bulan Januari tahun 2005. Namun, pada tahun 2008 pemerintah menerbitkan obligasi baru kembali dengan tingkat bunga 15%. Nah, bunga yang Anda terima tetap 10% sementara orang lain mendapatkan bunga yang lebih tinggi dari hari ini yaitu 15%.

Dengan demikian berapa harga yang akan pemodal tawarkan kepada Anda sebagai pemegang obligasi tersebut? Satu hal yang pasti, harganya akan lebih rendah dari Rp 5 juta karena obligasi yang Anda miliki memberikan bunga yang lebih rendah dari tingkat bunga obligasi di pasar. Semakin panjang tanggal jatuh tempo obligasi, semakin tinggi risiko suku bunga yang terdapat dalam obligasi tersebut karena fluktuasi suku bunga lebih tinggi dalam jangka panjang.

2. Risiko inflasi

Risiko berikutnya adalah risiko inflasi. Sebelum mengambil obligasi, Anda harus memperhatikan kondisi ekonomi dari waktu ke waktu untuk dapat mengamati pergerakan laju inflasi. Jika Anda melihat kemungkinan akan naiknya inflasi, maka juallah obligasi yang Anda pegang secepatnya karena bila inflasi meningkat maka suku bunga juga akan meningkat. Sebab jika Anda memegang obligasi yang memberikan tingkat kupon yang lebih rendah, Anda akan kehilangan daya beli dari bunga yang Anda terima.

3. Risiko lainnya

Maksudnya adalah risiko kesempatan investasi kembali (reinvestment risk). Anda tidak dapat berharap kondisi investasi saat itu sama dengan ketika Anda membeli obligasi tersebut saat pertama kali. Apalagi bila Anda membeli obligasi untuk jangka panjang. Kenapa begitu? Karena perubahan ekonomi dan politik ternyata dapat mempengaruhi tingkat suku bunga pada saat Anda hendak menginvestasikan kembali kupon-kupon dari obligasi tersebut.

Selain itu, ada juga beberapa jenis obligasi yang memiliki fitur call, maksudnya adalah perusahaan penerbit obligasi tersebut memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang sudah diterbitkan pada harga tertentu (call price) sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Untuk obligasi yang menggunakan mata uang asing (non-rupiah), gejolak fluktuasi nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah menjadikan risiko ini harus diperhatikan dengan baik, agar investasi Anda terlindung dari kerugian akibat selisih kurs.

Sekarang Anda sudah tahu mengenai obligasi, cara dan keuntungan investasi obligasi, bagaimana obligasi tersebut diterbitkan dan risiko-risiko apa saja yang terkandung dalamnya. Jika Anda memiliki preferansi yang moderat dalam risiko, Anda lebih baik memilih berinvestasi dalam obligasi yang memberikan penghasilan tetap secara periodik.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama