Larangan-Larangan dalam Investasi Saham

Saham bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Namun, jenis investasi ini bisa memberikan kerugian yang sangat besar bila Anda asal-asalan melakukannya

Makin tingginya tingkat kebutuhan dan keinginan di masa depan mungkin sudah memaksa Anda untuk mulai memikirkan serta mempersiapkannya sejak saat ini.

Banyak cara untuk memenuhi tujuan tersebut, salah satunya dengan cara berinvestasi. Ya, itu adalah salah satu aksi yang dianggap banyak orang sebagai cara menelurkan uang untuk digunakan di masa depan.

Masyarakat Indonesia sendiri sudah mulai mengenal berbagai jenis investasi seperti saham dan emas. Namun, apapun pilihan instrumennya, pada dasarnya investasi selalu dilakukan untuk bisa mendatangkan untung.

Khusus untuk saham, investasi ini sudah mulai trend di Indonesia. Hal ini sebenarnya tidak aneh, karena nilai marjin laba yang ditawarkan bisa lebih besar dibandingkan emas.

Sayangnya, ketika melakukan investasi ini, orang sering lupa kalau saham memiliki sejumlah risiko yang nanti bukannya memberikan untung, justru malah kerugian besar. Memang, ketika bertransaksi di pasar keuangan, kita harus selalu tanggap memperhatikan pergerakan harganya, namun itu bukan berarti harus tergesa-gesa mengambil keputusan.

Saham Bursa Efek Indonesia

Agar tidak mendapat kerugian dalam jumlah besar, diperlukan pemahaman mengenai apa saja yang harus dihindari ketika berinvestasi di pasar modal. Apa saja itu? Ini dia ulasannya.

1. Asal-asalan melakukan transaksi

Ketika bertransaksi di pasar modal, kita tidak hanya akan sekedar membeli dan menjual saja. Setiap pembelian saham harus dilakukan dengan perencanaan khusus yang dimulai dengan melakukan riset kecenderungan harga.

Apakah harganya akan terus turun atau malah segera naik? Anda bisa menganalisisnya sendiri secara fundamental dan teknikal. Lewat cara tersebut pula, batas kerugian dan laba saham yang dibeli bisa diperkirakan.

Ingat, disiplinlah dalam melakukan transaksi.

2. Tidak tahu batas rugi dan untung

Nah, ulasan kedua sangat berhubungan dengan nomor satu. Masalah ini banyak terjadi pada investor muda yang tidak bisa memprediksi pergerakan saham. Pada umumnya mereka hanya bisa menonton dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ketika bertransaksi saham, banyak yang menganggap jangan biarkan kita terlalu lama menganggung rugi dan mendapat lama. Hal ini disebabkan karena instrumen investasi ini bersifat berfluktuatif, yaitu bisa berubah secara tiba-tiba.

Sebagai contoh, bila harga saham yang kita miliki sedang naik, maka jangan buru-buru dijual karena masih ada potensi naik.

3. Menambah kerugian

Dalam hal ini, banyak orang yang salah membeli saham. Sebagai contoh, ketika transaksi sedang turun, justru sebagian investor malah berburu saham murah. Padahal saat itu pasar sedang berpotensi kembali anjlok.

Contoh lainnya adalah, ketika pasar sedang bergairah karena banyak harga saham yang naik, Anda menjadi membeli secara asal-asalan tanpa tahu perkembangan lanjutannya. Bisa saaja harga saham yang Anda pilih justru malah segera anjlok.

Ingat, transaksi saham tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menbaca pergerakan harga, tetapi juga menahan emosi. Karena itulah, kekanglah hal tersebut dan rencanakan dulu saham yang akan dibeli.

4. Traksaksi berlebihan

Manajemen keuangan yang baik bisa menjadi kunci sukses ketika bertransaksi saham. Karena itu, jangan menaruh dana saham terlalu besar hanya di satu portofolio saja hanya dengan alasan bisa mendapat untung berlipat dalam waktu cepat.

Bayangkan saja bila menaruh dana dalam jumlah besar hanya di satu portofolio, namun yang terjadi adalah nilai saham Anda anjlok. Tidak mau bukan?

5. Sok tahu

Tetaplah hati-hati ketika merasa sudah selalu berhasil memprediksi pergerakan harga saham. Sebab kerugian selalu mengancam setiap Anda bertransaksi.

Jadi, pesan dari ulasan di atas adalah, bila ingin berinvestasi namun tidak mengerti apa yang harus dilakukan, belajarlah dulu kepada orang yang lebih ahli. Bila sudah berhasil menguasai trend instrumen investasi ini, kuasailah emosi Anda.

Dari beberapa potensi kesalahan, banyak kerugian disebabkan oleh masalah emosi, bukan kemampuan teknikal menganalisis. Karena itu, waspada ya.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama