Daripada Urbanisasi Mendingan Buat Usaha Kuliner, Yuk!

Pasca Lebaran adalah momen yang sering di jadikan oleh segelintir orang untuk ikut nebeng sanak-saudara untuk pergi urbanisasi menuju kota besar, demi penghidupan yang layak. Namun, tidak jarang malah itu menimbulkan permasalahan baru. Lebih baik, Anda membaca artikel ini yang akan menjelaskan tentang enaknya berwiraswasta kuliner.

Lebaran sering di identikan dengan hari kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa menahan lapar dan nafsu. Ada yang mengatakan bahwa pada bulan yang penuh Rahmat tersebut dosa-dosa kita akan di ampuni oleh Allah SWT dan segala macam perbuatan baik kita akan di lipat gandakan. Tunjangan Hari Raya pun menjadi hal yang di tunggu-tunggu, karena tak hanya umat Muslim saja yang mendapatkannya, tapi kesemua karyawan yang beragama non Islam pun turut menikmatinya.

Selain itu, Idul Fitri juga menjadi sebuah ajang pembuktian diri menjadi pribadi yang baru. Tak luput pakaian, sepatu, kendaraan, pun ingin ikut ambil bagian dalam kesempatan ini. Eh, tapi tidak berhenti disitu saja. Pekerjaan baru pun sering di idam-idamkan oleh sebagian orang pasca Lebaran, terlebih mereka yang berada di kota-kota kecil, yang rata-rata mempunyai upah yang kecil. Tentunya, masyarakat ini ingin punya mimpi. Mimpi untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak, bergelimang harta.

Tapi, sayangnya itu tidak di imbangi dengan pendidikan yang layak, pengetahuan yang banyak, dan ilmu yang mumpuni. Pada akhirnya terjerumus pada kemiskinan karena ketika mereka yang hijrah ke kota besar tidak mampu bersaing dengan manusia-manusia yang sudah mempersiapkan diri untuk hidup di Jakarta. Menurut Gubernur DKI Jakarta, Jokowi Widodo, beliau tidak bisa mencegah orang-orang yang hendak mengais rejeki di Ibu Kota. Hal tersebut akan terus terjadi selama iklim investasi dan peredaran uang hanya terpusat di Jakarta saja.

Selepas Idul Fitri 2014, Jakarta didatangi 68.500 pendatang baru

Pada tahun 2014 diperkirakan akan ada sekitar 68.500 pendatang baru yang akan datang ke Ibu Kota Negara Indonesia itu. Jumlah ini mengalami peningkatan yang signifikan sekitar 25,5 persen dari jumlah pendatang baru di tahun 2013. Prediksi tersebut telah dimulai dari H-1 sampai dengan H-10, menurut informasi yang di kutip dari Kompas, masyarakat yang melakukan urbanisasi tersebut mencapai 51.000 orang. Mereka datang dari berbagai provinsi, mulai dari Jawa Barat, Tengah, Timur, Yogyakarta, Banten, dll.

Jakarta memang menjadi kota prestisius untuk dijadikan tempat berdomisili. Tinggal dan beralamat di Jakarta selalu merepresentasikan status sosial seseorang di kampung halamannya sebagai “orang hebat”. Pola pikir seperti ini turut menyumbang opini penguat bagi banyak orang untuk mati-matian datang dan menjalani hidup di Jakarta. Sengsara sekalipun, tak apa, yang penting hidup di kota besar. Well, enough said.

Fenomena pun tak berhenti disitu saja. Anda mungkin pernah mendengar istilah Manusia Gerobak. Ini diperuntukan bagi mereka yang hidupnya di habiskan di tempat tersebut sambil mengasi rezeki. Tak peduli jika harus menjadi gelandangan sekali pun, karena apabila mereka memutuskan untuk kembali lagi ke kampung, tentu akan menjadi sebuah keputusan yang memalukan. Namun, tidak semuanya yang datang ke Ibu Kota menjadi pengemis belaka. Ada juga sebagian dari mereka yang sukses karena mampu mengatasi segala tekanan yang di hadapkan. Malah berbalik menjadi orang yang mempunyai pekerjaan tetap.

Pendatang baru dibagi menjadi tiga golongan

Pendatang tersebut terbagi menjadi tiga golongan, yaitu sebagai yang menetap permanen di Jakarta, sementara waktu, dan sekedar mencari hiburan saja di berbagai tempat wisata di Jakarta dan kembali ke kampung halaman. Tentu, bagi mereka yang ingin menetap selamanya adalah mereka yang hendak mengubah nasib dengan berharap mendapatkan pekerjaan yang layak. Mereka yang memang mendapatkan kesempatan untuk melakukan interview dengan perusahaan yang dilamarnya, maka dirasa lebih beruntung dibandingkan bagi mereka yang datang ke Jakarta dengan modal dengkul saja karena ajakan sanak-saudara.

Ini memang sudah terjadi turun-temurun. Seakan menjadi sebuah pemikiran rata-rata orang Indonesia bahwasanya, untuk mencari uang haruslah pergi ke kota besar. Padahal hidup di kampung jauh lebih menguntungkan, karena selain tersedia lapangan pekerjaan yang mudah, terdapat juga lingkungan yang sehat, serta persaingan yang tidak keras. Maka dari itu investasi perlu di gerakan oleh pemerintah, peredaran uang perlu sampai kesana.

Wiraswasta sebagai jalan untuk menekan urbaninasi

Wiraswasta menjadi salah satu jalan yang mujarab dalam menekan tingginya urbanisasi. Contoh paling dekat adalah menjadi wirausaha kuliner. Ya, makanan selalu di serbu oleh orang, apalagi makanan dengan inovasi baru, seperti kripik pedas, sop durian, ataupun iga bakar rawit yang tidak pernah ketinggalan pelanggan. Makanan-makanan seperti ini dapat dengan mudah kita temukan di berbagai kota-kota kecil di Indonesia, mulai dari Bandung, Sukabumi, Bogor, bahkan luar pulau Jawa sekalipun.

Menurut informasi yang di dapat dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perkembangan industri kuliner sangat berkembang pesat.

TahunUsaha/PerusahaanRata-rata tenaga kerja
JumlahPerumbuhan
20071.615
20082.23538.39%
20092.70420.98%
20102.9167.84%

Industri kuliner berkembang pesat

Pada tahun 2006 saat roadmap industri kreatif disusun, sektor kuliner belum masuk menjadi salah satu bagian dari industri strategis yang akan dikembangkan. Hanya ada 14 subsektor yang menjadi perhatian utama pemerintah (Kemendag, 2008). Saat itu industri fesyen dan periklanan adalah penyumbang terbesar dalam pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Namun pada tahun 2011, posisi itu bergeser dan digantikan oleh industri kuliner yang sudah masuk menjadi subsektor ke 15 dalam industri kreatif. Subsektor kuliner menyumbangkan pendapatan terbesar bagi industri kreatif di Indonesia atau sekitar 32,2% dari total kontribusi industri kreatif terhadap PDB pada 2011 atau sekitar Rp 169,62 triliun. Baru kemudian diikuti fesyen dan periklanan. 

Masuknya industri kuliner ke dalam bagian dari pengembangan industri kreatif di Indonesia merupakan kesadaran dari pemerintah akan besarnya potensi yang ada didalamnya. Selain karena jumlah penduduk Indonesia sebagai pasar domestik yang besar, Indonesia pun kaya akan keragaman lokal, yaitu beraneka makanan traditional di tiap daerah.

Kuliner sudah menjadi gaya hidup

Pangan bukan lagi produk konsumsi untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia semata. Pangan saat ini menjadi sebuah gaya hidup baru di kalangan masyarakat. Pangan berubah menjadi sebuah industri kuliner yang memberikan tidak hanya citra rasa, tapi juga kebutuhan lain manusia untuk bersosialisasi maupun beraktualisasi. Sebab, industri kuliner yang berkembang saat ini juga menyediakan ruang bagi konsumen untuk bisa berkumpul dengan komunitasnya melalui layanan ruangan maupun jasa lainnya.

Pinjaman pribadi sebagai modal membuka usaha

Tertarik, sih. tapi, tidak punya modal? Tenang, di era digital ini sumber informasi sudah berkembang. Tak ketinggalan dengan layanan keuangan. Di era e-commerce sekarang ini sudah muncul situs aggregator perbankan, dimana Anda bisa membandingkan dan mengajukan pinjaman secara online di KreditGoGo. Disini terdapat berbagai macam produk bank, diantaranya adalah pinjaman pribadi (kredit tanpa agunan dan kredit dengan agunan), kredit pemilikan rumah, kredit pemilikan apartemen, kartu kredit, dan berbagai macam asuransi yang senantiasa melindungi Anda dan keluarga.

Ya, kembali lagi ke pekerjaan yang akan Anda garap di kampung. Bisnis kuliner adalah usaha yang bergelut di bidang makanan dan minuman adalah jenis usaha yang paling banyak dilakukan dengan modal yang tidak terlalu besar. Dalam berbisnis kuliner yang dibutuhkan adalah keahlian Anda untuk memasak dan membuat sesuatu makanan atau minuman yang baru. Intinya adalah Anda mau berinovasi terhadap sesuatu hal yang baru.

Modalnya tidak terlalu banyak hanya dengan modal awal minimal Rp 5 juta Anda dapat membeli bahan baku dan mengolahnya menjadi makanan yang bernilai dan menghasilkan keuntungan. Jika kesulitan mencari uang sebanyak itu, Anda dapat mencari solusinya di laman Pinjaman Pribadi milik KreditGoGo. 

Bagaimana sudah mengurungkan niat untuk pergi ke Jakarta, dan ingin mencoba bisnis kuliner? Selamat mencoba hal baru!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama