8 Faktor yang Perkecil Risiko Investasi Reksadana

Berencana membeli reksadana? Sudah tahu risiko dan keuntungannya? Kali ini, ada beberapa faktor yang bisa memperkecil risiko berinvestasi di reksadana.

Dalam tulisan yang lalu, saya pernah membahas bagaimana berkenalan dengan reksadana. Kemudian, ada juga faktor-faktor risiko umum berinvestasi di reksadana. Nah, jika Anda yakin ingin berinvestasi di reksadana, kali ini kita akan membahas faktor-faktor apa saja yang memperkecil risiko investasi di reksadana.

Investasi dengan Dana Dingin

Anda pasti bertanya, apa sih yang dimaksud dengan “dana dingin”? Apa itu adalah uang yang benar-benar dingin? Bukan. Dana dingin, atau dalam Bahasa Inggrisnya disebut Discretionary Income, adalah pendapatan yang didapat oleh seorang tiap bulan yang dikurangi seluruh biaya termasuk pajak penghasilan, bayar cicilan, premi asuransi, tagihan telepon, dan lain sebagainya. Intinya, dana dingin/uang dingin adalah dana yang benar-benar menganggur. Seseorang yang mengambil investasi reksadana dengan menggunakan dana menganggur biasanya memiliki tingkat risiko yang lebih rendah. Tetapi harus diingat, dana dingin ini hanyalah satu dari banyak faktor yang menambah ‘toleransi’ kita akan risiko investasi di reksadana.

Investasi dalam Jangka Waktu Panjang

Memang ada benarnya. Berinvestasi di reksadana dalam jangka waktu panjang kadang memiliki tingkat imbal hasil (return) yang bisa melebihi inflasi. Memperpanjang jangka waktu investasi di reksadana (long term investment) pada umumnya akan memberikan efek bunga berbunga, sehingga seringkali hasil investasi di reksadana memang bisa melebihi rata-rata inflasi tiap tahunnya.

investasi reksadana

Edukasi tentang Investasi Reksadana

Seorang investor yang memiliki tingkat edukasi yang cukup dan memiliki pengalaman yang jauh lebih matang akan memperkecil risiko dalam investasi, termasuk investasi dalam reksadana. Mungkin, sebagian besar orang yang mengalami pembohongan dalam berinvestasi adalah kurangnya pengetahuan dan wawasan dalam hal keberagaman investasi, terutama investasi di reksadana. 

Seorang manajer investasi yang sudah cukup matang dalam berinvestasi, harusnya memberi edukasi yang juga sama matang. Lalu, pertanyaan umum, bagaimana cara kita meningkatkan pengetahuan kita tentang berinvestasi di reksadana? 

Hal yang paling umum dilakukan adalah membaca buku, artikel internet, harian media cetak investasi, mengikuti seminar-seminar tentang investasi reksadana, bahkan kalau perlu berdiskusi dengan rekan/teman yang memiliki pengalaman di bidang reksadana.

Kepribadian

Kepribadian seorang manajer investasi adalah salah satu faktor yang turut mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap sebuah risiko investasi. Umumnya, orang yang memiliki sikap agresif mampu menerima risiko lebih besar dibanding orang yang pasif.

Kondisi pasar

Jika kita memutuskan berinvestasi, pastikan kita memiliki insting kuat dalam membaca kondisi pasar. Jika kondisi pasar pada posisi naik (bullish), itu akan menstimulasi para investor untuk mulai investasi reksadana. Sebaliknya, jika pada saat kondisi pasar sedang turun (bearish), investor sering menghindar di pasar saham karena untuk menghindari risiko rugi.

Kondisi keuangan

Kondisi keuangan dalam keluarga berpengaruh terhadap ‘toleransi’ seseorang terhadap investasi reksadana. Tidak jarang saya melihat seorang yang kehilangan beberapa miliar dananya karena tidak terpantau dengan baik oleh si manajer investasi. Ya, mungkin dalam kasus ini adalah salah si manajer investasi. Lihat terlebih dahulu kondisi keuangan Anda jika ingin berinvestasi di reksadana. Jika ingin mencari return yang sedang-sedang saja, pastikan kontrol Anda terhadap dana yang dikelola tidak menjadi lepas. Dengan kata lain, selalu perhatikan perkembangan dana kelolaan Anda setiap waktu, sehingga dengan demikian Anda bisa tahu kapan bisa menerima imbal hasil (return).

Faktor umum

Faktor U yang dimaksud di sini adalah faktor usia/umur. Faktor umur adalah faktor yang cukup berpengaruh dalam ‘toleransi’ tingkat risiko. Umumnya, semakin muda umur seorang investor, maka tingkat toleransi pun menjadi lebih besar. Maksudnya, orang tersebut masih bisa menerima dengan baik toleransi rugi dalam berinvestasi. Tapi seiring meningkatnya usia, seseorang akan lebih memilih produk investasi yang lebih aman, misalnya reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Tapi harus diingat, tidak semua faktor umur di sini bisa berlaku untuk setiap orang. Justru di sini uniknya, bisa saja usia muda seseorang malah lebih moderat dalam memilih produk investasi, atau dengan kata lain tidak ingin mengambil risiko.

Pendapat atas Investasi

Dalam hal berinvestasi, seorang investor bisa saja dengan mudah mengubah keputusannya untuk beralih ke produk investasi lainnya. Itu bisa terjadi karena berdasarkan pendapat atau saran dari orang-orang yang lebih dipercaya, misalnya perencana keuangan independen (financial planner) atau perencana kemakmuran (wealth planner).

Faktor-faktor di atas bisa lebih banyak lagi bila diteliti lebih jauh. Tapi pada umumnya, dalam dunia berinvestasi, hal umum di atas yang bisa menjadi tolak ukur bagaimana memperkecil risiko berinvestasi di reksadana. Yuk, mari kita berinvestasi!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama