Danu Sofwan: Radja Cendol Raup Omzet 1.5 Miliar

Lewat merek Radja Cendol (Randol), Danu Sofwan meramu bisnis kuliner jadi menarik. Kini, ia memiliki 793 gerai di seluruh Indonesia dan mampu hasilkan omzet Rp1.5 miliar per bulan!

Sebenarnya, ide awal Danu Sofwan, sang pemilik, amat sederhana. Ia ingin cendol yang merupakan minuman tradisional Indonesia jadi popular serta ‘naik kelas’.

Lewat gagasan tersebut, ia pun membangun merek Radja Cendol. Kini, minuman pinggir jalan ini berubah menjadi komoditas menguntungan melalui sistem franchise yang terjangkau.

Mungkin kedengarannya mudah, tapi membangun Radja Cendol (Randol) jadi satu bukti pasang surut perjalanan hidup Danu Sofwan.

Danu Sofwan Radja Cendol

Pria kelahiran Tasikmalaya, 20 Agustus 1987 ini sempat berada di persimpangan jalan. Antara menyerah pada keadaan atau jadi pemenang di tengah situasi ekonomi yang menghimpit.

Ia pilih jadi pemenang. Jalannya pun semakin terang ketika berjualan cendol. Di tangannya, cendol yang kerap dianggap enteng malah jadi bisnis menguntungkan.

KreditGoGo menemui Danu, selaku CEO dan founder Radja Cendol, untuk berbincang tentangseluk beluk bisnis dan kunci suksesnya. Berikut wawancaranya!

Tak Sungkan Jalani Segala Pekerjaan

KreditGoGo (KGG): Apa yang menjadi inspirasi Anda berbisnis?

Danu Sofwan (DS): Dulu, saya mengalami ujian saat keuangan keluarga dilanda kebangkrutanpada 2006, disusul dengan kepergian ayah pada 2008.

Saya pun mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Demi penuhi kewajiban tersebut, saya mulai mencoba berbagai usaha. Mulai dari berjualan pakaian, rokok elektrik, sepatu, aksesori, bahkan jadi kuli pasir. Banyak pelajaran saya peroleh, misalnya ditipu oleh vendor pakaian.

Saya tidak malu bekerja apa pun demi kehidupan keluarga. Ibu menjadi inspirasi dan kekuatan terbesar saya.

Saat itu keluarga saya diremehkan banyak orang. Namun, justru itu membuat saya bertekad mengembalikan martabat keluarga. Dan saya pun membuktikannya lewat kesuksesan bisnis cendol ini.

KGG: Mengapa pilih cendol sebagai produk jual?

DS: Minuman cendol tidak mengenal musim. Orang mencarinya setiap saat.

Saat sedang melakukan riset, ternyata, Es Cendol mewakili Indonesia sebagai 50 minuman terlezat di dunia versi Asian Go. Saya pun semakin tergerak untuk mengangkat kuliner Indonesia.

Saya juga melihat kepopuleran minuman bubble di masyarakat, banyak yang antre untuk membelinya. Saya tergelitik mengapa bukan minuman Indonesia asli yang dijual.

Alhasil, saya memodifikasi resepnya menggunakan susu full cream berkalsium tinggi untuk mengganti bahan santan. Selain itu, ditambah dengan pemakaian topping modern seperti cokelat, biskuit, dan lainnya.

Menu Radja Cendol Danu Sofwan

KGG: Dari mana Anda mendapatkan resep istimewa untuk menu Radja Cendol?

DS: Saya keliling ke lima kota di Pantura dan Lampung untuk mencicipi cendol. Saya juga mencoba 15 merek susu demi mencari formula yang pas.

Awalnya, saya ingin memproduksi cendolnya sendiri, tetapi belum berhasil. Jadi, saya bekerja sama dengan supplier dari Bekasi.

Selain ukuran yang besar seperti bubble, keistimewaan cendol Randol bisa tahan hingga tiga hari karena dibuat tanpa pengawet. Kami hanya menggunakan daun suji untuk mendapatkan warna hijaunya.

Investasi Terjangkau

KGG: Apa saja keuntungan yang Anda hasilkan dari Randol sejak didirikan pertama kali?

DS: Saya mendirikan Randol 23 Juni 2014. Hari pertama berjualan, saya langsung balik modal dengan uang hasil pinjaman dari teman Rp15 juta.

Bulan ketiga, saya telah melegalkan Randol dengan pendirian PT. Tahun berikutnya, saya berhasil membeli kendaraan, investasi properti, dan mengumrahkan ibu.

Dalam kurun waktu 6 bulan setelahnya, Randol mampu berkembang pesat dengan memiliki 66 franchise.

KGG: Bagaimana cara Anda menjaga Kualitas Randol?

Untuk menjaga kualitas rasa Randol, saya menerapkan standar pengiriman maupun pengangkutan yang tepat. Cendol dikirim dalam kondisi terendam air dan es batu. Saat tiba di setiap lokasi Panglima (sebutan mitra waralaba Randol), harus membawa tempat penyimpanan berisi air dan es batu.

KGG: Berapa banyak outlet Randol sekarang?

DS: Kini, 790 outlet sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sudah ada di Raja Ampat juga.

Franchise Radja Cendol Randol

KGG: Apakah masih akan terus berkembang?

DS: Ya, banyak permintaan datang dari Kabupaten yang, bahkan, di daerah pelosok. Misalnya, kabupaten Bau-Bau di Kalimantan.

KGG: Anda telah memiliki 790 franchise yang tersebar di pelosok Indonesia, bagaimana cara Anda memantau setiap outlet?

DS: Di Randol kami menyebut saya, sebagai CEO & Founder, Baginda Radja. Investor yang mempunyai outlet disebut Panglima, lalu para staf dan karyawannya ada yang disebut Permaisuri, Patih, Srikandi, Senopati. Saat ini ada sekitar 30 orang lagi yang terdiri mulai dari Team Quality Control, Team Final Checking, Team Kurir, Team Dapur Produksi, Team Outlet Operation, dan lainnya.

Saya menerapkan sistem manajemen yang santai dengan prinsip EPIK, yaitu Evaluasi, Perbaiki, Intropeksi, dan Komunikasi. Jika ada panglima yang berulah, misalnya mengganti bahan baku dengan cendol atau merek susu berbeda, saya skors selama 3 minggu.

Namun, saya juga memanfaatkan sosial media untuk para penggemar Randol (Randolicous) bisa memberikan opini bila ada hal yang tidak sesuai dengan takaran, rasa, pelayanan, dan sebagainya.

KGG: Berapa nilai investasi franschise Randol?

DS: Ada dua paket kemitraan, indoor dan outdoor. Paket indoor tanpa tenda bernilai Rp8 juta. Namun, bila memilih paket outdoor lengkap dengan tenda berukuran 2 x 2 meter dibandrol seharga Rp9.75 juta.

Satu hal yang menarik dari kemitraan Randol adalah mitra tidak dikenai biaya franchise, supporting fee, dan royalty fee. Bila telah menjadi mitra bisa langsung berjualan.

Semua perlengkapan dan fasilitas operasional sudah disiapkan.Setiap mitra akan mendapatfasilitas peralatan dan perlengkapan pengolahan bahan, rombong tradisional, kursi rotan, satu set meja kayu untuk tamu, serta media promosi seperti standing banner.

Sejak awal, harga franchise tidak mengalami peningkatan, meskipun harga bahan baku naik. Namun, biar pusat yang melakukan efisiensi, sehingga tidak memberatkan mitra yang ingin bergabung.

KGG: Berapa lama untuk mengembalikan modal investasi tersebut?

DS: Diperkirakan, modal kembali dalam jangka waktu 1-2 bulan. Hal ini, bila mencapai target jual hingga 60 porsi setiap harinya.

KGG: Jadi, berapa besar omzet Randol yang Anda peroleh per bulan?

DS: Dalam satu bulan minimal kami bisa menjual 10.000 cups. Satu cups dijual Rp5.000. Jika dikalikan 27 hari atau 28 hari dalam satu bulan, kira-kira totalnya mencapai Rp1.5 miliar.

Pengembangan Produk

KGG: Apa saja varian Randol?

DS: Selain dari segi rasa, saya juga memberikan nama yang unik untuk setiap menu Randol.Contohnya, Alpundol (Alpukat Cendol), Si Andol (Isi Astor Cendol), Si Bondol (Si Bulat Oreo Cendol), dan enam varian lain yang termasuk dalam Sembilan menu utama Randol.

Ada pula kategori milkshake, yang terdiri dari Si Ivan Karokean (Isi Vanila Kokies Oreo Pokokek Enak Pisan) dan Si Pesek Bukan Begal (Isi Pisang Milkshake dan tumbukan biskuit Regal).

Durian Series dapat ditemui Kecantol Brondong(Keju Campur Cendol Brownies Enak Dong), Kecenut Endol (Keju Campur Nutella En Cendol).

Sedangkan, Premium Series, ada Digondol Satpol (Di mana Green Tea dan Cendol Bersatu, Itu Nampol). Hot Series Keselek Botol Saos (Keju Pisang Kolek, Boo….Tambah Cendol Rasanya Joss!!) dan Si Celo Galau (Isi Cendol Milo Juga Marshmelau).

Roti Panggang Ropang Radja Cendol

KGG: Menarik! Ada produk terbaru lainnya?

DS: Yang paling baru adalah Ropang Series (Roti Panggang). Ini merupakan Roti Panggang saus cendol (roti panggang dengan saus cendol pertama di dunia). Variasi menunya terdiri dari Ropang Skippy Toblerone (Roti Panggang dengan lumeran saus cendol, ditambah topping selai skippy dan coklat toblerone) dan enam rasa lain.

Bulan depan Randol juga akan meluncurkan keripik cendol. Bisnis ini membuat saya harus memutar otak untuk terus mencari inovasi terbaru. Soalnya, banyak yang meniru bisnis ini dan berusaha menjadi saingan.

KGG: Adakah target yang ingin dicapai di 2017 ini?

Saya ingin terus mengembangkan Randol. Tapi, akan lebih fokus pada sumber daya manusia-nya. Rencananya, saya akan membuat seminar bisnis, agar para panglima lebih andal dalam menghadapi karyawan.

Sebab, buat saya, Randol bukan semata demi laba. Saya ingin generasi muda Indonesia lebih kreatif dalam mengembangkan potensinya. Makin banyak outlet Randol, berarti dapat merekrut tenaga kerja.

#Interview

Baca juga:
Donny Pramono: Inovatif & Kreatif Kunci Sukses Sour Sally
Alvin Tjitrowirjo: Furnitur Lokal Jadi Raja di Tanah Air

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama