Zakat Profesi Penting untuk yang Berpenghasilan

Sebagian dari penghasilan Anda ada kemungkinan tercampur dengan harta yang tidak halal. Maka dari itu tunaikanlah Zakat untuk mensucikan harta yang didapat.

Sebagai umat muslim zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan, terlebih lagi bagi umat muslim yang berpenghasilan. Peraturan mengenai zakat saat ini sudah menjadi hukum positif yang diatur dalam undang-undang.

Tetapi umat muslim pada umumnya hanya menaati aturan zakat untuk jenis zakat maal (harta), dengan zakat fitrah. Diantara jenis zakat yang Anda ketahui sudah taukah Anda mengenai zakat profesi? Pada tahun 2003, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang zakat profesi / penghasilan.

Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan penghasilan adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorium, upah, jasa dan lain-lain yang diperoleh dengan cara yang halal, baik rutin seperti pejabat Negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Jadi bagi umat muslim yang berpenghasilan, zakat profesi sangat penting. Nah, apakah Anda sudah mengamalkan zakat profesi dari penghasilan Anda bekerja? Untuk mengetahui lebih jauh tentang zakat profesi mari kenali lima hal berikut ini

Apa itu Zakat Profesi?

Menurut Badan Amil Zakat, zakat profesi adalah zakat atas penghasilan yang diperoleh dari pengembangan potensi diri yang dimiliki seseorang dengan cara sesuai syariat seperti upah kerja rutin, profesi dokter, pengacara, arsitek, dll.

Mengapa Zakat Profesi Wajib Dikeluarkan

Para ulama berpendapat bahwa semua penghasilan yang didapat melalui profesi tertentu wajib dikenai zakat, terutama bila sudah mencapai nisab. Pada saat Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M) telah sepakat tentang wajibnya zakat profesi apabila telah capai nisab, meskipun pesertanya berbeda pendapat dalam cara mengeluarkannya.

Hal tersebut didasarkan pada ketentuan Al-quran yang bersifat umum yang mewajibkan semua harta untuk dikeluarkan zakatnya. Landasan hukum kewajiban zakat profesi adalah firman Allah dalam surat at Taubah ayat 103, al Baqarah 267 dan firman Allah dalam surat Adz dzaariyat ayat 19 : Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."

Terlepas dari ketentuan yang mewajibkan setiap profesi yang sudah mencapai nisabnya untuk menunaikan zakat, kita sebagai umat muslim jelas mengerti bahwa zakat berguna untuk mensucikan harta, jadi tidak ada salahnya jika mengeluarkannya dari harta yang dimiliki.

Kapan Pendapatan Kita Sudah Mencapai Nishab?

Dalam ketentuan diatas dinyatakan wajib bagi setiap profesi menunaikan zakat jika sudah mencapai nisabnya. Lalu kapankah pendapatan kita sudah mencapai nisab? Nisab zakat profesi itu setara dengan 520 kilogram beras. Jadi bila harga beras misalnya Rp10.000 per kilogram, maka nisab zakat profesi adalah:

520 X 10.000 = Rp 5.200.000 per bulan.

Jika penghasilan Anda sudah dapat nisab tersebut maka zakat profesi yang dikeluarkan merupakan 2,5% dari total pendapatan seseorang yang sudah mencapai nisabnya.

Bagaimana Cara Menghitung Zakat Profesi?

Menurut ulama Yusuf Qardhawi, perhitungan zakat profesi bisa dibedakan melalui dua cara yaitu:

1. Secara langsung

Metode ini, zakat dihitung 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, setelah penghasilan diterima. Misalnya seseorang mempunyai penghasilan Rp 6.000.000 setiap bulan, maka zakat yang wajib dibayar adalah:

2.5% X Rp6.000.000 = Rp150.000 perbulan atau Rp1.800.000 pertahun.

Cara penghitungan zakat ini cocok untuk para karyawan yang masih single, karena tidak memiliki tanggungan atau tanggungannya kecil.

2. Setelah Memenuhi Kebutuhan Pokok

Untuk metode yang kedua pendapatan dipotong terlebih dahulu dengan kebutuhan pokok, baru kemudian dizakatkan. Jadi bila gaji seseorang Rp6.000.000 dengan pengeluaran Rp2.000.000, maka yang diwajibkan membayar zakat profesi adalah Rp4.000.000, yaitu:

2.5% X Rp4.000.000 = Rp100.000 perbulan atau Rp1.200.000/pertahun

Kapan baiknya Zakat Profesi Dikeluarkan?

Mengeluarkan zakat profesi bisa dilakukan setiap bulan atau setiap tahun, tergantung keinginan dari karyawan yang bersangkutan. Para ulama memperbolehkan kedua waktu pembayaran tersebut, asalkan pendapatan bersih Anda sudah melebihi nisab dan yang dizakatkan cukup 2,5%.

Jadi Apabila penghasilan Anda sudah mencapai nisabnya tunaikanlah zakat untuk membersihkan harta dari kemungkinan bercampur dengan harta benda yang tidak halal 100%.

Baca juga: Sucikan Harta, Mari Berzakat!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama