Zakat Bisa Meringankan Bayar Pajak, Ini Penjelasannya!

Zakat ternyata tak hanya berfungsi untuk mensucikan harta. Tapi juga bisa mengurangi jumlah pajak penghasilan bruto tahunan Anda. Mari kita cermati perhitungannya!

Bayar Zakat sifatnya wajib bagi yang mampu secara finansial dan telah mencapai batas minimal (nisab). Selain untuk mensejahterakan sesama manusia dengan tujuan mendapatkan pahala, Anda juga bisa mengurangi besaran jumlah pajak tahunan lewat zakat.

Zakat saat ramadhan

Jangan heran jika belum mengetahuinya, perihal ini memang belum banyak disadari banyak orang. Untuk itu, kali ini kami ajak Anda memahami dengan benar.

Tetapi sebelumnya, ada baiknya jika Anda mengulas kembali terlebih dahulu macam-macam zakat yang wajib untuk dibayarkan.

Jenis-Jenis Wajib Zakat

Rukun Islam ketiga ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu zakat fitrah, zakat maal, dan zakat penghasilan. Ketiganya dibayarkan sesuai dengan kadar perhitungannya masing-masing.

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan saat bulan Ramadhan. Besaran yang harus dikeluarkan adalah setara dengan 3,5 liter makanan pokok satu kepala di daerah orang yang bersangkutan.

Lalu, ada zakat maal yang menyisihkan 2,5% dari jumlah harta yang disimpan selama satu tahun penuh. Baik itu berupa investasi emas, tabungan, ternak, dan lain sebagainya.

Baca juga: Zakat Profesi Penting untuk yang Berpenghasilan

Yang terakhir, zakat penghasilan atau zakat profesi yang dibayarkan dari jumlah gaji bulanan, upah, jasa, atau honor. Besaran zakat penghasilan ini sama seperti zakat maal dengan memotong jumlah gaji yang telah dikurangi pembayaran hutang dan cicilan.

Zakat dan Pajak Selalu Seimbang

Zakat 2.5%

Pada prinsipnya, zakat dan pajak memiliki persamaan karena keduanya bertujuan untuk menyelesaikan masalah ekonomi negara. Ketentuan akan kewajiban ini pun telah diatur dalam undang-undang.

Ya, zakat juga diandalkan sebagai penopang keuangan negara karena tingkat kesejahteraan rakyat menjadi penentu sebuah negara dikatakan makmur. Dengan kata lain, tolak ukurnya pun dilihat dari tingkat kemiskinan warganya yang rendah.

Peranan zakat dalam hal ini adalah untuk membantu pemerintah mensejahterakan masyarakat kurang mampu yang berhak menerima, salah satunya adalah fakir miskin.

Lalu Bagaimana Zakat Mengurangi Pajak Tahunan?

Zakat Ringankan Beban Pajak

Wacana tentang zakat sebagai pengurang pajak tahunan terealisasikan dengan disahkannya UU No. 38 Tahun 1999 yang kemudian dipertegas oleh UU No.23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam Undang-undang tersebut dinyatakan, kalau setiap bentuk sumbangan atau zakat yang dibayarkan dikecualikan dari objek pajak.

Jadi, pada saat Anda melapor pajak tahunan jangan lupa masukkan nominal zakat yang dibayarkan dalam satu tahun. Alhasil, jumlah penghasilan Anda yang dipotong adalah jumlah setelah dikurangi zakat. Malah, apabila terjadi kelebihan perhitungan bayar, uang Anda akan dikembalikan dengan nominal yang sesuai.

Baca juga: Berzakat Lebih Mudah dengan Cara Online

Namun, zakat yang dibayarkan tersebut haruslah melalui badan amil zakat pemerintah seperti BAZNAS atau lembaga zakat resmi yang teregistrasi seperti Dompet Dhuafa. Meski begitu, pembayarannya bisa dilakukan melalui bank yang ditunjuk resmi atau bank syariah seperti Bank BNI Syariah Tabungan iB Baitullah Hasanah yang memberikan kemudahan gratis biaya auto debet pembayaran zakat, infaq, dan sedekah.

Yang perlu diketahui adalah, tidak semua jenis zakat bisa mengurangi pajak tahunan. Hanya zakat penghasilan dan zakat maal yang diberikan oleh individu atau perusahaan yang bisa membantu mengurangi jumlah pajak tahunan Anda.

Di luar itu, zakat fitrah tidak bisa mengurangi pajak tahunan. Sebab, zakat fitrah hanya dibayarkan satu kali pada saat bulan Ramadhan dan harus diberikan langsung kepada mustahiq (orang kurang mampu).

Begini Simulasi Menghitungnya

Mekanisme pengurangan pajak ini bisa Anda temukan dalam Peraturan Dirjen Pajak No. PER-6/PJ/2011 Tahun 2011 tentang “Pelaksanaan Pembayaran dan Pembuatan Bukti Pembayaran atas Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto”.

Perhitungan kasarnya seperti ini, jika Anda memiliki penghasilan bruto sebesar Rp100.000.000 maka zakat yang harus Anda keluarkan adalah Rp 100.000.000 x 2,5% = Rp2.500.000.

Dari perhitungan tersebut, jumlah penghasilan bruto Anda menjadi Rp97.500.000. Jumlah yang telah dikurangi pembayaran zakat itulah yang kemudian terhitung sebagai wajib pajak. Contoh, dengan pajak 5%, dari total tersebut pajak yang harus Anda bayarkan adalah Rp4.875.000.

Baca juga: Berapa Zakat yang Harus Saya Keluarkan ? Ini Penjelasannya

Sekarang bandingkan, jika Anda tidak membayar zakat dengan penghasilan Rp 100.000.000 dan dikenakan pajak misalkan 5%. Maka, jumlah pajak yang harus Anda bayarkan menjadi Rp5.000.000 (Rp100.000.000 x 5%).

Terlihat perbedaannya, bukan? Dengan kata lain, selain melaksanakan kewajiban sebagai muslim yang baik, menunaikan zakat sekaligus mengurangi beban pajak yang Anda.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama