Wow, Asing Bisa Beli Properti

Warga negara asing kini bisa membeli properti di Indonesia. Hal ini sudah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, banyak pihak masih memperdebatkannya terkait pemberian kredit. Mengapa?

Warga negara asing (WNA) akhirnya bisa memiliki properti di Indonesia setelah Presiden Joko Widodo secara resmi mengeluarkan aturan baru perihal kepastian hukum Warga Negara Asing (WNA) untuk bisa membeli hunian di Indonesia. Peraturan kepemilikan properti asing tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 Tahun 2015 yang dikeluarkan akhir Desember 2015 lalu

Peraturan itu merupakan revisi dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia. Nah, dengan adanya aturan baru itu, maka WNA bisa membeli properti di tanah air.

Properti untuk WNA

Hunian yang dapat dibeli oleh WNA, sesuai aturan itu meliputi rumah tinggal di atas tanah (rumah tapak), serta apartemen ataupun kondominium. Dua jenis hunian tersebut dapat dibeli dengan status Hak Pakai. Adapun batasan waktu yang diberikan relatif cukup lama yakni 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun serta bisa diperbarui kembali 30 tahun lamanya.

Tentu saja, peraturan itu dibuat lantaran melihat jumlah pekerja asing di Indonesia yang terus meningkat. Pastinya mereka membutuhkan properti untuk tempat tinggal.

Selain itu, properti Indonesia juga menarik minat WNA karena negara ini merupakan salah satu tujuan wisata terbaik di dunia ada kecenderungan orang asing tinggal lama di kawasan nusantara.

Potensi Pasar Properti untuk Asing

Selama ini, bagi WNA tak mudah memiliki properti sendiri. Mereka hanya dapat memiliki properti di Indonesia dengan Hak Pakai atau Hak Guna Usaha. Akhirnya berbagai cara dilakukan terutama oleh investor asing agar dapat membeli properti di Indonesia.

Antara lain dengan cara membeli properti melalui korporasi, lewat jalur Penanaman Modal Asing (PMA). Melalui cara ini, secara perlahan, asing pun mulai merambah menguasai properti di Indonesia. Bila dulu komposisi investor asing dalam PMA maksimal hanya 80%—sisanya dimiliki partner lokal 20%—, kini PMA bisa dimiliki asing 100%.

Pengamat ekonomi sekaligus Pengurus Perbanas, Aviliani, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pasar properti dari WNA di Indonesia terbilang besar. Potensinya mencapai 10 juta orang.

Sementara menurut Direktur Departemen Kebijakan Makro prudensial Bank Indonesia (BI) Yati Kurniati, potensi tersebut merupakan orang-orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas (Itas) maupun izin tinggal tetap (Itap).

Tingginya minat warga asing memiliki properti di Indonesia tak diragukan lagi. Dengan adanya regulasi yang jelas, tentu akan meminimalisir tingginya angka transaksi jual beli properti di bawah tangan oleh asing.

Alhasil negarapun bisa memeroleh hasil transaksi melalui penerimaan pajak, karena tak lagi terkendala aturan. Asal tahu saja, ada potensi penghasilan devisa yang sangat besar bagi negara melalui transaksi properti asing ini.

Perdebatan di Kalangan Perbankan

PMA dan REI

Melihat animo yang cukup tinggi dari orang asing inilah, kata Eddy Hussy, Sekretaris Jenderal REI beberapa waktu lalu, sebaiknya memang kepemilikan properti bagi warga asing didorong untuk diberikan sehingga semua aktivitas jual-beli oleh warga asing bisa dikontrol.

Namun sayang, meski telah diatur pemerintah, kepemilikan properti asing masih diperdebatkan terutama dari sisi perbankan. Sejumlah bank tidak menerima kredit yang diajukan untuk properti orang asing.

Padahal, jika asing bisa memiliki properti di Indonesia, maka akan meningkatkan pertumbuhan properti nasional. Masuknya orang asing untuk membeli properti di Indonesia otomatis akan menaikan nilai properti berlipat-lipat. Karena daya beli orang asing yang tinggi dan nilai properti di Indonesia yang relatif masih rendah.

Tentu ada alasan mengapa perbankan masih ragu menerima kredit dari asing. Jelas Eddy, pihak perbankan tidak menerima kredit bangunan dengan hak pakai. Padahal,sebenarnya sudah jelas antara hak pakai dan hak guna bangunan (HGB). Bank masih mengira bahwa keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Namun dari sisi hak dan waktu, antara hak pakai dan HGB sebenarnya sama.

Kredit Macet

Bank Indonesia sendiri, menurut Yati Kurniati, sempat mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan para perbankan untuk mencari tahu apa yang menjadi kendala jika bank memberikan kredit properti untuk warna negara asing.

Hasilnya, selain perbankan masih bingung soal hak pakai dengan HGB, perbankan juga masih kebingungan cara pengalihan agunan tersebut. Jika orang asing yang membeli properti tidak menetap dalam waktu setahun, apakah orang asing itu harus melepas kepemilikannya? Lalu bagaimana proses pengalihannya? Berapa lama prosesnya? Dan berapa biayanya?

Pertanyaan seperti inilah yang hingga kini belum menemukan titik temu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri masih berhati-hati dalam memberikan kredit kepada WNA. Alasannya, karena jika ada persoalan seperti kredit macet, belum ada aturan atau hukum yang mengatur persoalan tersebut meskipun sudah diatur di hukum perdata.

Kemudahan Kredit

Akad kredit

Para pengembang berharap asing juga diberi kemudahan dalam pencairan kredit. Wakil Ketua Umum REI Bidang Rumah Menengah Atas, Adri Istambul Linggagayo, menyebut sepanjang properti tersebut bisa dialihkan dan dipindahtangankan atas nama WNA sebenarnya tidak jadi masalah untuk bisa mengajukan kredit.

Soal kredit properti, banyak perbankan yang memiliki fasilitas pembiayaannya. Seperti yang diulas oleh situs KreditGoGo yang memiliki daftar bank yang menawarkan produk KPR bunga ringan di Indonesia. Banyak terdapat bank yang memberikan kredit kepemilikan rumah maupun apartemen dengan bunga yang menarik dan bersaing.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pasar properti untuk asing beda kelas dengan pribumi, yakni dari harga rumah minimal Rp5 miliar ke atas. Pajaknya pun akan masuk ke golongan kepemilikan barang mewah. Dan, berdasarkan PP yang sudah ada, warga asing hanya boleh memiliki satu unit.

#KreditRumah

Baca juga: 
Punya Rumah Baru dalam 7 Hari? Bisa!
Akhir Tahun, Saatnya Beli Rumah Murah Rp100 Jutaan

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama