Oh, Seperti Ini Gaun yang Terbuat Dari ‘Sampah’

Gaun ramah lingkungan. Apa yang terpikir oleh Anda bahan dasar pakaian ini? Bukan terbuat dari dedaunan atau kayu ya, baju ini berbahan dasar ‘sampah’.

Saat ini, pakaian dibuat dari berbagai macam kain, seperti katun, spandex, denim, rayon, sifon, sutra, brukat, dan masih banyak lagi. Tentunya, masing-masing material tersebut memiliki keunggulan, ada yang lembut ketika digunakan, daya serap keringat tinggi, serta dapat membuat penggunanya menjadi terlihat cantik dan elegan.

Jadi, bahan apa yang nyaman untuk digunakan? Tergantung tempat apa yang akan dituju, Anda bisa menyesuaikannya agar tepat pada tempatnya. Misalkan, jika ingin berjalan-jalan santai, bisa gunakan katun. Atau jika ingin menghadiri pesta, baju berbahan dasar brukat atau sutra cocok digunakan.

Namun, saat ini para desainer pakaian mulai berani berinovasi menggunakan berbagai macam bahan dasar untuk merancang busananya. Mereka ingin terlihat unik dan lain daripada yang lainnya. Bahkan ada seorang perancang baju menggunakan bahan dasar ‘sampah’ untuk bahan dasarnya dengan alasan agar ramah lingkungan, dia adalah Kristen Alyce.

eco fashion

Kristen Alyce, Mencetuskan Eco-Fashion

Kristen Alyce adalah seorang desainer, artist, dan sekaligus fotografer ini yang berhasil menyulap ‘sampah-sampah’ disekitarnya menjadi sebuah gaun yang elegan. Baju rancangannya ini digunakan oleh orang-orang yang menyukai fashion dan peduli keadaan lingkungan sekitarnya. Tak hanya untuk koleksi pribadi, sudah banyak perusahaan-perusahaan besar yang tertarik dengan pakaian berbahan kertas dan majalah ini, seperti outlet Palm Beach, Kravis Center, dan dealer Hyundai di Palm Beach.

Eco-fashion buatan Alyce memiliki detail-detail yang sangat bagus. Alyce memperhatikan komposisi warna dari bahan dasarnya. Jadi, meskipun berasal dari ‘sampah’, pakaian ini tetap terlihat rapi dan cantik. Saat ini, Garbage Gone Glam, perusahaan yang menjual baju dari kertas bekas ini, meyediakan gaun cocktail dan gaun malam.

Berawal dari Keisengan, Manjadikannya Desainer Handal

Saat masih duduk dibangku kuliah, Alyce melihat berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh manusia setiap harinya. Bisakah didaur ulang agar tidak terbuang sia-sia? Bisakah disulap menjadi barang yang yang unik dan elegan? Dari situlah, desainer asal Amerika ini memiliki mimpi untuk mendaur ulang sampah-sampah menjadi pakaian.

Untuk memulai mimpinya, Alyce mengumpulkan berbagai kantong plastik, majalah, dan kotak pembungkus makanan yang digunakannya. Setelah terkumpul, wanita ini merancangnya menjadi sebuah pakaian, berniat hanya untuk koleksi pribadi.

Saat bekerja di industri fashion, Alyce melihat peluang yang besar untuk memperkenalkan busana rancangannya kepada masyarakat luas. Setelah mengamati pasar, desainer yang berbasis di Florida dan New York ini, menciptakan 12 gaun sebagai langkah awalnya. Ternyata perkiraannya benar, banyak yang menyukai desainnya, dan berbondong-bondong orang membelinya.

Garbage Gone Glam, Gaun Berbahan Sampah

Meski berbahan ‘sampah’, gaun ini terlihat elegan. Tidak hanya ramah lingkungan, pakaian rancangan wanita yang merupakan CEO Garbage Gone Glam ini dicintai ribuan penggemarnya, khusunya wanita. Gaun ini juga sering dipesan untuk dipakai dalam rangka pameran, penggalangan dana, pemasaran, dan berbagai acara spesial lainnya agar lebih berkesan.

Berapa Harga Per Gaunnya?

Harga yang ditawarkan untuk Garbage Gone Glam ini bervariasi mulai dari $ 500 atau Rp 6,5 juta, sampai $ 1500 atau Rp 19,5 juta, tergantung dari keunikan dan tingkat kesulitan membuatnya. Jika Anda ingin membuat rancangan sendiri, Anda juga dapat mewujudkannya dengan memesannya di sini seharga $ 2000, sekitar Rp 26 juta.

Wajar gaun-gaun ramah lingkungan ini dibanderol dengan harga yang fantastis, karena ini merupakan pakaian dengan ide yang unik dan kreatif. Ingin memiliki salah satunya? Langsung saja kunjungi websitenya, Anda bisa membeli secara online juga disini.

Yuk, Mulai Mendaur Ulang Sampah

Tak hanya Kristen Alyce yang memiliki pemikiran serupa untuk memanfaatkan dan mendaur ulang sampah disekitarnya agar bisa dijadikan barang-barang yang dapat digunakan kembali. Masyarakat Indonesia juga sudah memulainya, karena menyadari banyak sampah yang dihasilkan manusia perharinya.

Berbeda dengan Alyce yang menggunakan kertas sebagai material utamanya. Di Indonesia lebih sering menggunakan bungkus kopi, karena tingginya masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi kopi instan. Dengan memanfaatkan sampah tersebut, banyak sekali industri rumahan yang memanfaatkannya untuk menghasilkan kerajinan tangan dompet dan tas yang keren. Yuk, kita daur ulang sampah!

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama