Membuat Polisi Tidur Sembarangan Bisa Kena Denda Lho!

Ternyata Anda tidak boleh sembarangan jika ingin membuat polisi tidur baik di jalan ataupun di lingkungan rumah. Dibalik itu ada hukum yang mengaturnya.

Pasti Anda sering kali menemukan polisi tidur yang tidak sesuai entah terlalu tinggi atau jarak satu dengan yang lainnya terlalu rapat. Bentuk polisi tidur seperti ini sering kali mengganggu pengendara dan merugikan kendaraan tersebut bahkan bisa mencelakakan.

Namun, yang sering membuat emosi, banyak sekali masyarakat kita yang seenak jidat membuat polisi tidur ini di sembarang tempat, sudah sembarangan, eh asal-asalan pula tanpa tahu aturan tentang pembuatan polisi tidur ini sendiri.

Sejarah Istilah Polisi Tidur

Sebutan polisi tidur sendiri jika dalam bahasa inggris disebut speed bumps, ini pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1906. Istilah polisi tidur sendiri sudah dicatat Abdul Chaer dalam Kamus Idiom Bahasa Indonesia (1984) dan diberi makna "rintangan (berupa permukaan jalan yang ditinggikan) untuk menghambat kecepatan kendaraan". 

Jadi, ungkapan polisi tidur pasti sudah ada sebelum tahun 1984. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Pertama (1988) dan Edisi Kedua (1991), polisi tidur belum terdaftar. 

Polisi tidur mulai diakui dalam KBBI Edisi Ketiga (2001) dan diberi makna 'bagian permukaan jalan yang ditinggikan secara melintang untuk menghambat laju kendaraan'.

Keuntungan dan Kerugian Polisi Tidur

Keuntungan positif dari polisi tidur adalah dapat mengontrol laju kecepatan pada kendaraan dan meminimalisir jumlah kecelakaan. Sehingga pengendara akan lebih hati-hati ketika melewati polisi tidur. 

Sedangkan kerugiannya adalah jika struktur polisi tidur tidak sesuai akan merugikan pengendara seperti mengakibatkan kecelakaan.

Ketentuan dan Peraturan Tentang Polisi Tidur

Di Indonesia ketentuan yang mengatur tentang disain polisi tidur diatur oleh Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan.

Bila mengacu kepada aturan tersebut, polisi tidur tidak boleh dibuat disembarang jalan dan hanya boleh dibuat dijalan permukiman, jalan lokal yang mempunyai kelas jalan III c, dan jalan-jalan yang sedang dilaksanakan pengerjaan konstruksi (pasal 4 ayat 1).

Dalam penentuan lokasi dan jumlah polisi tidur harus disesuaikan dengan hasil manajemen dan rekayasa lalu lintas. Dalam hal ini rekomendasi manajemen dan rekayasa lalu lintas dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan (pasal 4 ayat 3).

Jadi Berdasarkan ketentuan yang berlaku, pembuatan polisi tidur harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut:

1. Dibuat memanjang dan melintang seperti trapesium.

2. Tinggi maximum 12 cm.

3. Bagian pinggir mempunyai kelandaian 15%.

4. Dicat warna hitam dan putih dengan komposisi hitam panjang 30 cm dan putih panjang 20 cm.

5. Meminta izin ke Dinas Perhubungan.

Denda Jutaan Rupiah

Jika ada yang melanggar ada ketentuan pidananya lho! Jadi Anda tidak bisa sembarangan dalam membuat polisi tidur. Telah disiapkan pula ketentuan pidana bagi masnyarakat yang melanggar. 

Menurut Pasal 53 huruf b Perda DKI Jakarta 12/2003, setiap orang tanpa izin dari Kepala Dinas Perhubungan dilarang membuat atau memasang tanggul pengaman jalan dan pita penggaduh (speed trap).

Dari ketentuan tersebut jelas kiranya bahwa tidak sembarang orang bisa membuat atau memasang tanggul pengaman jalan. Hanya orang yang diberi izin oleh Kepala Dinas Perhubungan sajalah yang dapat membuat atau memasangnya. JIka melanggar akan dikenakan kurungan penjara atau denda.

Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut berdasarkan Pasal 105 ayat (1) Perda DKI Jakarta 12/2003 dikenakan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Jadi masyarakat diharapkan dapat mengacu pada peraturan yang ditetapkan. Hal tersebut dilakukan agar tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain atau membuat pengendara celaka karena penempatan polisi tidur yang tidak sesuai aturan.

Baca juga: Yuk, Kenali Jenis-Jenis Rambu Lalu Lintas

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama