Kegunaan Lain dari Nominal Subsidi Energi

Besaran subsidi energi dinilai sudah sangat tinggi, beberapa kalangan berpendapat bahwa hal tersebut seharusnya dialokasi ke bidang lain seperti transportasi, infrastruktur dan pendidikan.

  1. pembangunan proyek Mass Rapid Transportation (MRT) jurusan Lebak Bulus – Blok M
  2. pembangunan Jembatan Suramadu
  3. Upah Minimum Provinsi Jakarta
  4. pembangunan bandara kualanamu
  5. kartu jakarta pintar
  6. pembelian bus gandeng transjakarta merk scania
  7. biaya iuran BPJS termahal


Perekonomian Indonesia dalam setahun terakhir terpantau tidak terlalu menggembirakan. Perlambatan ekonomi global rupanya turut berdampak bangi ekonomi dalam negeri. Apalagi disaat yang bersamaan, jumlah nominal subsidi energi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2013 saja, jumlah subsidi energi mencapai Rp 310 triliun atau sebesar 103,4% dari Pagu APBN-P yang sebesar Rp 299,8 triliun. Jumlah tersebut menandakan bahwa tren subsidi energi dalam 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan.

Kontroversi pun masih terjadi mengingat besaran jumlah subsidi energi semakin menggerus keuangan negara. Semakin tingginya jumlah subsidi energi dikhawatirkan akan berpengaruh kepada anggaran di sektor pendidikan, infrastruktur, sosial dan lain sebagainya.

Dengan melihat besaran subsidi energi tersebut, kami telah membandingkan dengan nominal beberapa pembangunan fisik dan pengeluaran di beberapa bidang. Untuk penjelasannya, mari kita lihat perbandingan berikut :

1.Setara dengan nominal subsidi energi sebesar Rp 310 triliun, pemerintah dapat menggelontorkan dana untuk pembangunan proyek Mass Rapid Transportation (MRT) jurusan Lebak Bulus – Blok M yang kini sedang dibangun oleh pemerintah. Nilai proyek tersebut mencapai Rp (?) triliun. Jika disetarakan, maka dana yang diperuntukan untuk subsidi energi dapat dialokasikan untuk mebangun proyek MRT jurusan Lebak Bulus – Blok M sebanyak (?) proyek dengan sisa dana sebesar Rp (?) triliun.

2.Dana subsidi energi Indonesia untuk tahun lalu juga dapat dialokasinya untuk pembangunan Jembatan Suramadu yang memakan biaya sebesar Rp (?) triliun. Jadi, dana subsidi energi tahun lalu sebanding dengan pembangunan jembatan Suramadu sebanyak (?) kali. Dan bahkan menyisakan dana sebesar Rp (?) triliun.

3.Dari segi sosial, dana subsidi energi juga dapat dialokasikan untuk membayar gaji berdasarkan Upah Minimum Provinsi Jakarta (dengan asumsi senilai Rp (?) juta) sebanyak (?) juta lebih orang selama setahun.

4.Kembali ke soal transportasi, dana subsidi energi juga dapat dialokasi untuk pembangunan bandara. Sebagai standarisasi, bandara Kualanamu memakan biaya sebesar Rp (?) triliun dan jika dibandingkan dengan dana subsidi energi, maka akan setara dengan (?) bandara dan menghasilkan sisa uang sebesar Rp (?) triliun.

5.Bagi Anda pendudukan DKI Jakarta pastinya sudah tidak asing lagi terhadap Kartu Jakarta Pintar yang prakteknya memberikan bantuan finansial terhadap anak-anak tidak mampu agar dapat memenuhi kebutuhan dalam menjalankan pendidikan. Dengan dana Kartu Jakarta Pintar per anak sebesar setiap setiap tahunnya sebesar Rp (?) juta, maka alokasi dana subsidi energi setara membiayai (?) juta anak SD, lalu (?) juta anak SMP dan (?) juta anak SMA.

6.Dana subsidi energi tahun lalu juga sebanding dengan (?) unit bus gandeng TransJakarta seharga Rp (?) miliar per unit. Dengan jumlah bus sebanyak itu, maka tidak menutup kemungkinan permasalahan kekurangan bus TransJakarta akan teratasi dan juga dapat membantu kota-kota besar lainnya untuk membangun fasilitas transportasi yang aman, nyaman dan cepat.

7.Sedangkan yang terakhir, dana subsidi energi dapat juga dialokasikan untuk pendanaan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) senilai Rp (?) ribu setahun yang diperuntukan bagi (?) juta penduduk. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta orang, maka dana subsidi energi dapat membiayai BPJS selama 2 tahun.

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama