Hari Anak Nasional 2016: Jadi Momen untuk Akhiri Kekerasan pada Anak

Sampai sekarang ini masih banyak kekerasan terjadi pada anak-anak di Indonesia. Momen Hari Anak Nasional 2016 dapat menjadi momen untuk lebih peduli dan melindungi anak.

Hingga saat ini anak-anak di Indonesia masih banyak mengalami kekerasan dan mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk Presiden Joko Widodo. Melihat kondisi demikian, pemerintah dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2016 yang jatuh pada 23 Juli ini mengambil tema ‘Akhiri Kekeasan pada Anak.’

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 298 kasus dalam periode Januari-April 2016 dan angka tersebut meningkat 15 persen dari tahun sebelumnya.

Padahal anak merupakan aset bangsa yang harus dijaga dan dilindungi. Anak-anak Indonesia diharapkan dapat terpenuhi segala hak-haknya untuk dapat bertumbuh dan berkembang. Tidak hanya itu saja, anak-anak harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan, ekploitasi, dan diskriminasi.

“Hari Anak Nasional 2016 menjadi momentum penting untuk membangkitkan kepedulian dan partisipasi masyarakat Indonesia agar melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya untuk menghargai, serta menjamin terpenuhinya hak-hak anak. Dalam momentum ini pula, saya rasakan penting sekali untuk meningkatkan kesadaran anak-anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada orangtua, masyarakat serta kepada bangsa dan negara,” ujar Yohana Yembise, Menteri Permbedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Peringatan HAN 2016 bertema ‘Akhiri Kekerasan pada Anak’ diselenggarakan dengan memperhatikan berbagai peristiwa dan kejadian yang dialami sebagian anak Indonesia beberapa waktu terakhir ini. Menyikapi hal tersebut, pemerintah telah merespons melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual pada Anak (GN-AKSA). Selain itu, telah dikeluarkan pula Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Pada HAN 2016 ini, kami menyoroti 3 (tiga) isu anak, yakni kekerasan seksual anak, perkawinan anak, dan prostitusi anak. Kekerasan seksual, perkawinan, dan prostitusi pada anak telah melanggar hak-hak anak untuk berkembang serta menjalani kehidupan yang layak, bermanfaat, dan bermartabat. Angka perkawinan anak di provinsi NTB dinilai masih cukup tinggi. Oleh karena itu, provinsi NTB dipilih menjadi tempat penyelenggaraan HAN 2016 dan di tempat ini pula akan dilakukan deklarasi tentang pencegahan perkawinan usia anak oleh 26 Kabupaten/Kota. Presiden Jokowi hadir dalam peringatan HAN,” tegas Menteri Yohana.

Terkait Hari Anak Nasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak didukung penuh Pemkot Mataram, LPA Mataram, LPA NTB, dan LPA Indonesia menyelenggarakan perhelatan nasional tahunan Forum Anak Nasional (FAN) di Mataram NTB.  FAN adalah aktualisasi amanat konstitusi bahwa anak-anak adalah warga negara-bangsa yang berhak untuk menyatakan pendapat sebagaimana masyarakat dewasa.

Jangan Berdiam Diri

“Peringatan HAN 2016 ini bisa menjadi tonggak penting untuk membangun kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk lebih melindungi anak-anak dan juga hak anak. HAN bisa menjadi momentum untuk menghapus segala bentuk kekerasan dan kekejaman terhadap anak-anak yang selama ini masih sering terjadi,” ungkap Seto Mulyadi atau Kak Seto selaku ketuaLembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia.

“Indonesia harus menjadi negara yang layak anak dan untuk itu harus memenuhi hak anak. Pertama hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Kedua, hak untuk mendapat perlindungan dair berbagai macam kekerasan. Ketiga, hak untuk mendapatkan pendidikan dan sekolah. Keempat hak didengarkan pendapatya. Sayangnya di Indonesia masih kurang untuk memenuhi empat hak anak tersebut,” jelas Kak Seto.

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli adalah hari besar bagi semua anak di Indonesia. Baik itu anak-anak yang sedang mengungsi akibat bencana alam,anak di daerah pedalaman perbatasan, anak di daerah konfrik, anak jalanan, dan lainnya.

Tak hanya itu, Kak Seto juga ingin agar HAN tahun inidirayakan denganhadiahberupa peresmian UU Perlindungan Anak hasil perubahan kedua. UU tersebut diyakini dapat memberikan pemberatan sanksi pidana bagi pelaku kejahatan terhadap anak. UU itu juga merupakan jaminan ekstra bagi masa depan Indonesia yang lebih ramah anak.

"Saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan melindungi anak-anak. Kalau melihat ada anak yang disiksa atau diperlakukan tidak layak, segera tegur pelakunya atau laporkan ke pihak berwajib. Jangan dibiarkan begitu saja. Anak-anak membutuhkan kepedulian dari kita semua untuk menjaganya. Untuk itu saya imbau membbentuk Satuan Tugas Perlindungn Anak di tiap RT. Bila ada kekerasan pada anak segera dapat ditangani,” ujar Kak Seto.

Baca juga:

Dapatkan Dana Tambahan untuk Biaya Pendidikan Anak

Aktivitas Menyenangkan Bersama Keluarga Saat Liburan

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama