Bule-Bule Ini Memilih Berjualan Di Indonesia

JIka umumnya bule atau turis mancanegara datang ke indonesia untuk berlibur, beberapa bule ini justru memilih berjualan di kaki lima

Indonesia dikenal akan kekayaan alamnya yang indah, tidak heran jika banyak sekali turis asing datang berkunjung. Tetapi jika bule-bule ini datang ke Indonesia bukan untuk berlibur, malah berjualan di kaki lima bagaimana yah? Apakah Anda pernah melihat bule jualan gorengan, jus ataupun burger?

Biasanya di Indonesia, kebanyakan atasan sebuah perusahaan adalah seorang bule yang di datangkan dari luar negeri atau beberapa bule yang memiliki perusahaan di Indonesia. Namun beberapa bule dibawah ini, karena alasan tertentu memilih pekerjaan yang bisa dikatakan tidak lazim untuk dilakukan oleh seorang bule.

Berikut ini adalah beberapa contoh kisah bule yang memilih profesi sebagai pedangang kaki lima di Indonesia.

1. Fabrizio Urzo Pedagang Gorengan di Surabaya

Fabrizio Urso, seorang bule asal Italia yang sudah sepuluh tahun tinggal di Indonesia berjulan gorengan di Jalan Manyar Kertoarjo Surabaya. Dulunya dia adalah seorang chef (kepala koki) di sebuah restoran Italia di Jalan Imam Bonjol, Surabaya. Namun sejak awal 2014, dirinya memutuskan berhenti bekerja.

Keputusannya tersebut didasari oleh keinginannya berwirausaha sendiri. Fabrizio mengaku tidak nyaman bekerja ikut orang, dia menilai bahwa lebih bahagia punya usaha sendiri walaupun usahanya kecil. Maka dari itu ia lebih memilih meninggalkan pekerjaannya di restoran tersebut dan beralih menjadi seorang wirausaha dengan menjual gorengan.

Pria berusia 39 tahun dan beristri orang Indonesia ini menjual bermacam-macam jenis gorengan mulai dari pastel, ote-ote, pisang goreng, tahu isi, hingga kue lapis. Fabrizio mematok harga gorenganya mulai dari Rp 1000 hingga Rp 3000. Dan ternyata kedai gorengannya selalu ramai dikunjungi pembeli.

2. Glenn Penjual Burger dan Donat di Purwokerto

Glenn McGrew pria asli Denver, Colorado – Amerika Serikat. Awal kedatangannya ke Indonesia pada tahun 2001 menjadi pengajar di sekolah-sekolah serta pembicara di beberapa universitas. Namun, setelah kontrak kerjanya habis ia tak bisa lagi bekerja sebagai pengajar sejak 2011.

Kemudian dia bertemu dengan wanita Indonesia bernama Purwita. Glenn menikahi wanita asli Kroya – Cilacap pada tahun 2003 dan kemudian menetap di Purwokerto. Walau tidak lagi mengajar, Glenn yang dulunya bekerja sebagai teknisi di Amerika tidak gentar, Ia justru membantu sang istri berjualan donat dan burger di pinggir Jalan Kober, Purwokerto.

Glenn dan Purwita berjualan burger dan donat sejak pukul 16.00-20.00 WIB. Untuk burger mereka menjualnya mulai harga Rp7.500-Rp10 ribu. Sedangkan untuk donat mereka menjualnya dengan harga Rp2.500-Rp3.500. 

Yang unik, Glen berjualan burger dan donat ini sambil memasang papan bertuliskan 'Jual Burger dan Donat, Mohon Doakan Istriku yang Sakit'.

3. Sergei Litvinov Penjual Es Jus di Solo

Sergei Litvinov adalah seorang pemain sepakbola profesional yang bergabung di PSLS Lhokseumawe dan berlaga di kompetisi Indonesia Premier League sejak 2013. Pria asal rusia harus bertahan hidup dengan mencari uang sebagai pedagang es jus di salah satu sudut Kota Solo.

Dia harus berjualan untuk mendapatkan pemasukan sebab selama membela PSLS mulai dari Maret hingga Desember 2013, ia belum menerima gaji. Sebelumnya, Sergei pernah memperkuat tim Solo FC di Indonesia Premier League pada tahun 2011. 

Piutang Sergei pada PSLS Lhokseumawe mencapai Rp 124 juta dan tidak ada kejelasan kapan itu akan dibayarnya. Tanpa gaji, Sergei kesulitan makan, dan tidak bisa pulang ke kampung halamannya karena terpentok biaya.

Kini Sergei kembali ke kota Solo dan tak lagi merumput. Dia beralih berjualan jus di kedai jus. Selain itu, ia ikut membuat kanopi untuk rumah di kawasan Banyuanyar. Ia mengaku membutuhkan uang sebesar Rp20 juta untuk bisa pulang ke Rusia.

4. Brian Murphy Penjual Pisang Ijo di Jakarta

Mantan video editor di Amerika lebih memilih dagang es pisang ijo. Sosok ini adalah Brian Murphy, sudah 13 tahun dia menjalani profesi sebagai video editor di tv lokal Amerika. Namun, setelah menikahi Febryanti Evalusi (Bian) yang ditemuinya di Amerika, Brian rela diajak tinggal di Indonesia.

Bule kelahiran South Carolina ini mulai pindah ke Indonesia bersama dengan istrinya pada 2012 lalu. Mereka putuskan untuk pindah ke Jakarta. Setelah pindah ke Jakarta kenyataan pahit harus Brian terima, meskipun sudah melamar kerja di mana-mana tidak ada satu pun perusahaan yang memanggil dirinya untuk wawancara pekerjaan.

Untuk menyambung hidup dan membantu sang istri, Brian mencoba berdagang berbagai macam makanan seperti mie ayam, bakso, siomay dan yang kini masih bertahan adalah jualan es pisang ijo di kawasan Cipinang, Jakarta.

Semoga kisah bule-bule yang memilih berjualan kaki lima di Indonesia ini bisa menginspirasi Anda dalam berkarya dan mencari pendapatan.

Baca juga: 4 Kendaraan Motor Sport yang Digunakan untuk Berjualan

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama