Apa Saja Dampak Positif KA Cepat Jakarta-Bandung?

Pada 2019 mendatang, masyarakat Indonesia sudah bisa merasakan perjalanan Jakarta-Bandung hanya dengan waktu tempuh 45 menit saja menggunakan kereta api cepat.

Kamis (21/1) lalu, berlokasi di perkebunan teh Mandalawangi di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Proyek pembangunan infrastruktur kereta api cepat ini hasil kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan total investasi 5,5 miliar USD atau Rp 72 triliun.

Proyek ini merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) No. 107/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Api Cepat antara Jakarta dan Bandung pada 6 Oktober 2015.

Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung dilakukan oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dengan pemilikan saham 40% China Railway International Co. Ltd., dan 60% dimiliki PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Untuk BUMN sendiri merupakan gabungan dari empat BUMN, yaitu WIKA dengan penyertaan saham 38%, PT Kereta Api Indonesia (KAI) 25%, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII 25%, dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) 12%.

Target proyek pembangunan infrastruktur ini adalah menyelesaikan target konstruksi tahun 2018, dan sudah dapat beroperasi tahun 2019 mendatang.

Berapakah Tarifnya?

Kereta api cepat ini mampu menempuh kecepatan 250 km per jam. Dengan itu, jarak Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 km bisa ditempuh dengan waktu 35-45 menit.

Kereta api cepat Jakarta–Bandung akan menghubungkan empat stasiun, yaitu Halim, Kawarang, Walini, dan Tegalluar, serta satu dipo (Tegalluar).

Untuk sekali jalan, tarif kereta api cepat Jakarta-Bandung akan dibanderol Rp 200.000. Tarif tersebut berlaku saat pengoperasian kereta api cepat pada 2019 mendatang.

Hanggoro Budi Wiryawan, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengatakan, perhitungan tarif tersebut berdasarkan harga tiket sebesar 16 USD dengan exchange rate atau nilai tukar rupiah pada 2019.

"Hitungan kami (harga tiket) 16 USD dengan exchange rate pada 2019 adalah Rp 13.000 sekian. Jadi, kira-kira tarifnya adalah Rp 200.000," katanya pada Kamis (21/1) lalu di Bandung, Jawa Barat.

Menurutnya, kereta api cepat Jakarta-Bandung memiliki potensi penumpang yang cukup besar. Bahkan, PT KCIC menargetkan jumlah penumpang mencapai 29.000 per hari.

Ia menuturkan, jumlah penumpang kereta api cepat akan sangat memengaruhi pengembalian investasi yang mencapai 5,5 miliar USD atau Rp 72 triliun.

"Jumlah penumpang akan berdampak kepada kemampuan kita mengembalikan utang, bisa lebih cepat, bisa lebih panjang," ucapnya.

Nantinya, kereta api cepat Jakarta–Bandung mampu mengangkut 583 orang sekali jalan. Dalam situasi puncak, kereta dapat digabungkan sehingga total penumpang bisa melebihi 1.000 orang. Dalam sehari, direncanakan kereta api cepat Jakarta–Bandung akan beroperasi selama 18 jam.

Dampak Positif Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung

Selain memberikan sarana transportasi baru bagi masyarakat Indonesia, proyek pembangunan infrastruktur kereta api cepat juga memberikan berbagai manfaat yang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Apa sajakah?

Memunculkan Pergerakan Ekonomi

Kehadiran kereta api cepat akan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan kawasan-kawasan baru, baik di setiap stasiun maupun di kota-kota baru yang akan dibangun.

Di sekitar stasiun yang dilalui kereta api cepat akan dibangun Transit Oriented Development (TOD). Di Walini misalnya, akan dibangun Kota Baru Walini. Kota baru ini diharapkan dapat menjadi kota masa depan yang mengedepankan prinsip kawasan layak huni dan ramah lingkungan.

Lalu, di Tegalluar akan dibangun kawasan industri kreatif berbasis IT. Selain itu, adanya pembangunan infrastruktur ini juga akan memberi dampak terhadap kelangsungan tanaman di lahan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Hal tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mendukung pembangunan di wilayah Bandung bagian barat.

Menciptakan Lapangan Kerja

Proyek kereta api cepat Jakarta–Bandung juga menciptakan lapangan pekerjaan. Proyek pembangunan infrastruktur ini akan menyerap 39.000 tenaga kerja pada saat konstruksi, 20.000 tenaga kerja pada saat TOD, dan 28.000 tenaga kerja pada saat operasional TOD.

Variasi Pasar Angkutan Travel

Proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung akan berpengaruh terhadap pasar angkutan travel yang menghubungkan dua kota tersebut. Pasalnya, kereta api cepat adalah jenis transportasi kelas premium.

Berbeda dengan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Dengan adanya kereta api cepat, sarana transportasi AKAP tidak akan berpengaruh. Sebab, kelasnya pun sudah berbeda.

Alat Diplomasi Antara Indonesia dan Cina

Proyek pembangunan kereta api cepat juga menjadi alat diplomasi antara Indonesia dan Cina. Kerja sama tersebut dilakukan guna mengejar prospek bisnis yang lebih panjang.

Proyek ini bisa menjadi pintu pembuka untuk proyek lainnya. Pembangunan itu diyakini sebatas komoditi dalam hubungan bilateral Indonesia-Cina.

Bagaimana menurut Anda mengenai proyek ini? Sudah siapkah mencoba kereta api cepat Jakarta-Bandung dengan waktu tempuh 45 menit di tahun 2019?

Baca juga: Perbandingan Biaya Naik Umum dan Kendaraan Pribadi

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama