7 Fakta Unik Seputar Black Friday

Jika di Indonesia ada 'Jakarta Great Sale', bagaimana dengan 'Black Friday' di Amerika? Apa saja keunikan dari perayaan diskon belanja ini?

Anda pernah mendengar kata Black Friday? Jika belum, jangan menerjemahkannya secara harfiah, ya. Sebab, meski istilah ini terkesan ‘suram’, tapi ternyata memiliki makna yang berbanding terbalik.

Black Friday merupakan hari Jumat yang jatuh setelah hari Thanksgiving di Amerika Serikat. Tepatnya pada Jumat minggu ke-4 bulan November. Black Friday kerap dikaitkan dengan dimulainya musim belanja untuk perayaan Natal di negara Amerika.

Muncul Sejak 1966

Dilansir dari maxmanroe.com, Black Friday pertama kali muncul ke publik pada tahun 1966 di Philadelphia, Amerika Serikat. Kala itu, perekonomian di kawasan Philadelphia secara umum tidak begitu tinggi.

Namun tanpa disangka-sangka, di bulan November, persisnya selepas perayaan Thanksgiving, banyak warga Philadelphia yang berbondong-bondong pergi ke berbagai pusat perbelanjaan untuk membeli berbagai keperluan Natal dan Tahun Baru.

Momen ini akhirnya yang menimbulkan fenomena. Di mana pada hari itu, jalan-jalan besar di Philadelphia begitu penuh sesak oleh orang yang ingin berbelanja serta kendaraan pengantar yang lalu lalang.

Pintu masuk pertokoan yang tak pernah tertutup, lift yang terus disesaki pelanggan, hingga kemacetan lalu lintas parah, menjadi bukti fenomena belanja ini bukan fenomena biasa.

Diberikan Nama oleh Polisi Setempat

Di mulai dari pihak kepolisian setempat yang memberi julukan ‘Jumat Hitam’ atau Black Friday, akhirnya istilah tersebut mulai menyebar ke berbagai kalangan.

Dan pada tahun 2000, Black Friday dijadikan sebagai penanda dimulainya musim belanja Natal di beberapa negara di dunia.

Diskon Besar-Besaran

Keuntungan yang ditawarkan pun sangat beragam, misalnya saja beli 1 gratis 1, beli 1 untuk yang kedua dan seterusnya diskon beberapa persen, serta kemudahan pembayaran baik tunai maupun kredit.

Meningkatkan Gengsi

Selain menawarkan diskon besar-besaran, Black Friday juga memberikan nuansa gengsi dan persaingan selama proses belanja. Bagaimana tidak, dalam satu hari, puluhan ribu orang berbondong-bondong menyerbu pertokoan untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Tidak sedikit pula orang yang memiliki barang incaran yang sama dan harus bersaing dengan pembeli lainnya. Bahkan, mereka rela menginap semalaman di depan toko untuk menunggu hingga toko tersebut dibuka

Oleh karenanya, jika bisa mendapatkan barang yang diinginkan, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Hampir Seluruh Toko Berpartisipasi

Hampir seluruh toko turut berpartisipasi dalam Black Friday. Mulai dari toko peralatan elektronik, perkakas rumah tangga, makanan, dan semua jenis dagangan lainnya. Tentunya dengan penawaran diskon yang menarik. Bahkan, terkadang ada yang memberikan diskon hingga 80 persen.

Rata-Rata Pengeluaran Orang untuk Black Friday

Data sejak tahun 2010 menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran per orang di Amerika Serikat untuk Black Friday berkisar di atas 300 USD untuk pembelian langsung (offline). Sedangkan untuk pembelajaan online mencapai 194 USD.

Toko Online Terlaris Saat Black Friday

Seiring lahirnya teknologi internet, Black Friday pun kini merambah ke toko online.Tidak sedikit orang yang memilih toko online sebagai tempat untuk berburu diskon saat momen ini.

Berdasarkan data dari statisticbrain.com, 4 toko online yang paling banyak pengunjungnya saat Black Friday antara lain amazon.com, walmart.com, bestbuy.com, dan target.com.

Beberapa toko online di Indonesia sudah mulai memberlakukan Black Friday. Lantas, bagaimana jika fenomena ini diberlakukan di seluruh toko di Indonesia?

Baca juga: 3 Alasan Mengapa Harus Belanja di Akhir Tahun dan 5 Trik Berhemat Saat Belanja Online

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama