5 Media Cetak yang Tak Lagi Terbit

Seiring pesatnya media online, membuat beberapa media cetak di Indonesia kian menyusut. Inilah 5 daftar media cetak yang akhirnya memutuskan untuk gulung tikar.

Bila dahulu media cetak menjadi salah satu benda paling dibutuhkan masyarakat saat ingin mengetahui segala informasi, kini hal tersebut seolah sirna karena pesatnya media online. Ya, masyarakat cenderung lebih rutin mengakses informasi melalui internet.

Serikat Penerbit Surat Kabar Indonesia pernah mengungkapkan pandangan bahwa internet tidak akan membunuh media cetak. Pandangan ini menjadi benang merah pada Seminar Media Industry Outlook 2010, sebagaimana diberitakan Kompas, 21 Januari 2010.

Hanya berselang lima tahun sejak pernyataan tersebut diungkapkan, sudah beberapa media cetak yang akhirnya gulung tikar. Oplah media cetak pun semakin menurun dan cenderung tidak menguntungkan.

Memang belum bisa dipastikan, apakah internet menjadi penyebab utama media cetak tutup ataukah krisis finansial yang menghantam dari segala penjuru. Bisa jadi kedua-duanya, sehingga tidak ada jalan lain untuk mengakhiri penderitaan media cetak bersangkutan kecuali ditutup.

Faktor Prediksi Ekonomi Lemah

Masalah tidak berhenti sampai situ. Sebab, ekonomi tahun ini diprediksi masih lesu. Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi paling sedikit 5,2 persen, lebih rendah dari patokan pemerintah 5,3 persen.

Merujuk data Dewan Pers, tercatat ada 567 media cetak hingga tahun 2014 di Indonesia. Bisnis cetak ini terdiri atas 312 media cetak harian, 173 media cetak mingguan, dan 82 media cetak bulanan.

Persoalan lesunya media cetak tak cuma menjangkit media nasional. Menurut data SPS, banyak surat kabar regional mengurangi oplah 20-30 persen. Padahal pertumbuhan oplah media nasional hanya 0,25 persen pada tahun 2014.

Berbagai masalah yang menghantam bisnis cetak, membuat 5 media cetak di bawah ini memutuskan untuk tutup usia.

Sinar Harapan

Belum lama ini, kabar mengejutkan datang dari koran sore, Sinar Harapan. Koran yang pertama kali terbit 27 April 1961 ini resmi tak lagi terbit per 1 Januari 2016. Sinar Harapan merupakan media besar di dekade tahun 1980-an.

Pada awal berdiri, oplah Sinar Harapan hanya sekitar 7.500 eksemplar. Namun pada akhir tahun 1961, oplahnya melonjak menjadi 25.000 eksemplar.

Seiring dengan perkembangan waktu, Sinar Harapan terus berkembang menjadi koran nasional terkemuka serta dikenal sebagai 'Raja Koran Sore'.

Sinar Harapan pernah dibredel pada 1986. Namun, kembali terbit pada 2001 dan terus mengibarkan bendera hingga 2015. Namun, akibat tiadanya iklan dan utang mencapai Rp 1,1 miliar, serta kegagalan mendapatkan investor baru, maka Sinar Harapan memilih berhenti.

Majalah Trax

Majalah Trax merupakan majalah musik dan lifestyle yang pertama kali terbit pada 2002. Majalah ini menjadi salah satu panutan anak-anak muda dalam mencari inspirasi. Setelah 14 tahun terbit, pada tahun ini, Majalah Trax resmi berhenti terbit setelah bulan Februari.

Seiring dengan kabarnya penerbitan edisi terakhir, netizen pun mengungkapkan kesedihan mereka di media sosial dengan tagar #SaveTrax. Bukan hanya pembaca yang akan kehilangan, tapi juga musisi-musisi yang merasa kariernya terangkat setelah diliput Majalah Trax.

Harian Bola

Setelah 2,5 tahun tetap mencoba peruntungan di era digital, Harian Bola akhirnya menyerah. Tabloid yang awalnya muncul sebagai mingguan ini menyatakan edisi 31 Oktober 2015 adalah terakhir.

Setidaknya, ada 3 faktor penyebab Harian Bola tidak lagi diterbitkan, antara lain beratnya persaingan media di tengah penetrasi teknologi informasi, persaingan dengan rival terberat (Top Skor), dan persaingan internal Kompas Gramedia Group.

Bisa dibilang, Harian Bola kesulitan dalam memilih segmen pembaca spesifik.

Selanjutnya, surat kabar ini hanya akan menerbitkan mingguan yang diberi nama 'Bola Sabtu'. Tabloid ini diluncurkan pada Sabtu, 7 November 2015.

Jakarta Globe

Koran berbahasa Inggris ini terbit pertama kali pada 12 November 2008. Pada 15 Desember 2015, koran Jakarta Globe berhenti naik cetak. Jakarta Globe mengaku mereka berhenti karena ongkos produksi terus naik, jumlah pembaca menurun, dan persaingan dengan media internet.

Sempat bersaing dengan koran Jakarta Post, Jakarta Globe menjadi koran berbahasa Inggris terbesar di Indonesia. Bahkan, kedua koran ini bersaing ketat dalam menggaet wartawan baru.

Dengan tutupnya edisi cetak Jakarta Globe, maka media ini akan meneruskan perjuangan mereka melalui Jakarta Globe versi daring.

Harian Jurnal Nasional

Harian Jurnal Nasional atau Jurnas juga harus menyerah menghadapi beratnya gempuran media online Tanah Air. Per 1 November 2014 lalu, media ini tutup usia dan berubah seutuhnya menjadi media online dengan domain jurnas.com.

Seperti diketahui bahwa SBY adalah penggagas dan pendiri koran tersebut. Penutupan Harian Jurnas disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Serikat Pekerja Jurnal Nasional, Friederich Batari, dalam siaran pers, Jumat (31/10/2014).

Padahal, Harian Jurnas menjadi salah satu media massa yang selalu dibaca SBY saat menjabat Presiden RI.

Baca juga: Bisa Gak Sih Hasilkan Uang Lewat Media Sosial?

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama