3 Alasan Biaya Hidup di Luar Pulau Jawa Lebih Mahal

Beberapa wilayah di luar Pulau Jawa dikenal dengan biaya hidupnya yang mahal. Lantas, apa saja penyebab biaya hidup di sana menjadi mahal? Berikut adalah 3 alasannya.

Membayangkan tinggal di kawasan pedalaman atau daerah-daerah terpencil, mungkin akan terlintas di benak Anda bahwa biaya hidup di sana akan lebih murah dibandingkan dengan kota-kota besar. Namun, teori ini tampaknya tidak berlaku di beberapa kota di luar Pulau Jawa.

Kabupaten Puncak Jaya, Papua, misalnya. Hidup di kawasan pegunungan Papua tengah ini tidaklah murah. Harga barang dan bahan kebutuhan hidup begitu tinggi. Jauh melampaui biaya hidup di kota besar, bahkan untuk ukuran Ibu Kota Jakarta sekalipun.

Sebagai contoh, untuk biaya makan, satu porsi nasi ayam di Jakarta masih dapat Rp 15.000. Namun, di Puncak Jaya harganya lebih mahal 4 kali lipat. Sebotol air 600 ml dihargai Rp 45.000. Sementara harga semen seharga Rp 1,7 juta per sak.

Selain itu, di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, harga satu botol air mineral ukuran 600 ml seharga Rp 30.000.

Sementara di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, satu botol air mineral Rp 45.000, satu mangkok bakso dihargai Rp 75.000, satu mangkok soto lengkap dengan nasi dihargai Rp 40.000, nasi dengan lauk ikan Rp 95.000.

Selain wilayah Indonesia bagian timur, ada juga Balikpapan, Kalimantan Timur, yang juga mendapat julukan sebagai kota dengan biaya termahal di Indonesia.

Pasalnya, rata-rata pendatang mengeluhkan tinggi dan mahalnya harga barang di kota yang dikenal dengan sebutan kota minyak tersebut.

Memang perlu diakui, pendapatan di Kota Balikpapan memang cukup tinggi, namun daya beli masyarakatnya juga tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, biaya hidup di Kota Balikpapan pada September 2015 mencapai rata-rata Rp 6.879.000 per rumah tangga. Berdasarkan data, pada September 2015, ada 5 kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga.

Kelompok tersebut adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,08%), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,15%), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,40%), kelompok sandang (0,81%), dan kelompok kesehatan (2,29%).

Inilah 3 Alasan Biaya Hidup di Luar Pulau Jawa Lebih Mahal

Lantas, apa saja alasan yang menyebabkan mahalnya biaya hidup di wilayah-wilayah tersebut? Berikut adalah pemaparannya.

Sulit dan Mahalnya Biaya Distribusi

Alasan pertama adalah karena sulit dan mahalnya biaya distribusi. Di Papua misalnya. Seperti diketahui bahwa hampir semua kebutuhan hidup di sana masih “impor” dari Pulau Jawa atau kota-kota besar lainnya.

Untuk pendistribusiannya, tentu memerlukan transportasi udara. Belum lagi, saat sampai di Papua harus dikirim ke daerah-daerah yang jauh dari kota dan memerlukan biaya lagi. Tentu saja hal ini membuat biaya kirim menjadi sangat mahal yang mempengaruhi nilai jual akhir barang tersebut.

Selain karena memang harus membeli dari luar wilayah, pengiriman barang dari lokasi pembelian hingga Papua cukup terkendala. Ini membuat disparitas harga sangat tinggi.

Minimnya Infrastruktur

Sebagai contoh, meskipun Kabupaten Merauke, Papua sudah mulai berkembang dalam hal infrastruktur, namun secara keseluruhan kondisi perekonomian di Indonesia timur seperti Papua masih butuh pembangunan untuk menggerakkan roda perekonomian wilayahnya.

Selama ini, bahan-bahan kebutuhan pokok kecuali beras atau bahan kebutuhan lainnya harganya terlampau tinggi. Hal itu karena minimnya infrastruktur. Ongkos transportasi lebih mahal dan menyebabkan harga barang-barang melonjak.

Sedangkan di Balikpapan, infrastruktur juga kurang memadai. Sekitar 90 persen barang di Balikpapan berasal dari luar daerah, seperti dari Jawa Timur dan Sulawesi. Karena infrastruktur yang tidak memadai itu menyebabkan distribusi barang terhambat di pelabuhan.

Infrastruktur yang menjadi persoalan adalah pelabuhan, bandara, dan jalan. Pelabuhan Semayang kapasitasnya tidak seimbang dengan jumlah barang yang datang. Akibatnya, distribusi barang menjadi terhambat dan membuat harga mahal, sementara permintaan tinggi.

Daya Tarik Bisnis

Alasan terakhir adalah karena adanya daya tarik bisnis. Seperti di Balikpapan yang memiliki daya tarik dalam hal bisnis dan pendapatan. Balikpapan banyak menyita minat penduduk dari berbagai daerah untuk bekerja dan mencari rezeki.

Sehingga, pilihan tempat tinggal atau kost pun cukup menjamur dan tersedia di berbagai bagian kota. Namun seperti biaya hidup lainnya, biaya kost di Balikpapan pun tergolong mahal. Namun, mahalnya biaya hidup di imbangi juga dengan standar gaji dan pendapatan besar.

Itulah 3 alasan mengapa biaya hidup di luar Pulau Jawa mahal, dalam hal ini contohnya adalah Balikpapan dan Papua. Atau Anda pernah merasakan langsung mahalnya biaya hidup di sana? Yuk, share pengalaman Anda di sini.

Baca juga: 5 Kota di Indonesia dengan Biaya Hidup Termurah

0 komentar

Anda setuju atau tidak setuju dengan artikel ini? Ada pertanyaan? Jadilah komentator pertama